Kontribusi Etnis Tionghoa Dalam Sejarah Pendidikan Indonesia
Victor Gerald | Senin, 19 November 2012 - 13:53 WIB
: 1260


(SH/Junaidi Hanafiah)
Etnis Tionghoa telah berkiprah dalam pendidikan nasional sejak 1901 dengan mendirikan Patekoan Tiong

Buku karya Jusuf Iskandar tentang peran etnis Tionghoa di Indonesia diluncurkan, Sabtu 17 November, di Jakarta. Buku ini penting bagi pencatatan sejarah kontribusi etnis peranakan Tionghoa bagi Indonesia.
 
Buku yang berjudul Dari Tiong Hoa Hwe Koan 1900 Sampai Sekolah Terpadu Pahoa 2008 secara lengkap dan komunikatif menggambarkan jatuh bangunnya warga keturunan Tionghoa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan modern, sejak awal abad XX.

Pada 1901 sekolah Patekoan Tiong Hoa Hwe Koan School (Pahoa) didirikan Tiong Hoa Hwe Koan (THHK). Dalam sejarah sekolah ini mengalami pasang surut, sejalan dengan kondisi di Indonesia. Sekolah ini adalah sekolah pertama yang menerapkan sistem pendidikan modern, dengan menerapkan tiga bahasa oengantar dalam pengajarannya.
 
Para pendiri sekolah ini adalah 20 tokoh Tionghoa berpendidikan Barat yang ingin memerangi hal-hal buruk yang terjadi dalam perilaku masyarakat saat itu, dengan menerapkan pendidikan yang dilandasi filosofi Konfusius. Pemerintah kolonial Belanda pun “kebakaran jenggot” dan mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS)  untuk menyaingi Pahoa.

Di tahun 1950-an, sekolah Pahoa turut mengembangkan pendidikan nasional dengan mendirikan Jajasan Pendidikan dan Pengajaran (JPP) untuk menampung 80 persen siswanya yang berstatus WNI.
 
Sisa 20 persen siswa, yang berstatus WNA, dimasukkan dalam sekolah Pahoa. Sempat ditutup di tahun 1960-an, sekolah ini didirikan kembali tahun 2000-an oleh para alumninya, yang memandang pentingnya pendidikan nasional yang berkualitas dan berbudi pekerti.

Eddy Lembong, Ketua Yayasan Nabil, menegaskan sumbangsih THHK bukan saja bermanfaat bagi etnis Tionghoa tetapi sudah selayaknya tercatat dalam sejarah pendidikan nasional. Ini karena sekolah Pahoa adalah sekolah pertama di nusantara yang menerapkan sistem pendidikan modern.
 
Sekolah inilah yang pertama kali menyelenggarakan pendidikan modern secara kurikulum, dengan menerapkan pengajaran dalam tiga bahasa. Ia menyayangkan tidak tercatatnya THHK dan sekolah Pahoa dalam sejarah nasional.

Lembong menambahkan, dalam konteks pembangunan bangsa (nation building), Indonesia belumlah selesai. Sebagai bagian komponen bangsa, etnis Tionghoa harus juga dikenal sebagai yang turut meletakkan dasar pendidikan yang ada saat ini. Mereka bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Adapun Jusuf Iskandar, kepada SH menyampaikan, sekolah Pahoa bukan sekolah bagi agama, etnis, atau siswa bertaraf ekonomi tertentu.
 
Namun sekolah bagi semua lapisan masyarakat. Iskandar menegasan peran sekolah Pahoa adalah dalam mengajarkan budi pekerti dan nilai positif melalui ilmu pengetahuan berdasarkan nilai filosofis Konfusius, bukan nilai agama. Nilai-nilai luhur ini dapat diterapkan oleh siapa saja dari latar belakang apa pun.

Sejarawan Didi Kwartanada menyatakan, sekolah Pahoa yang didirikan THHK merupakan pelopor pendidikan modern di Indonesia. Bahkan Budi Utomo pun terinspirasi oleh THHK.
 
Senada dengan itu Hans Kartikahadi, Wakil Ketua Dewan Pakar YPP Pahoa, berkata buku ini menekankan dua momen bersejarah dalam pendidikan nasional, yaitu pada 1900 saat berdirinya Tiong Hoa Hwe Koan, dan 2008 kala sekolah Pahoa dibuka kembali di Serpong Tangerang.

Harry Tjan Silalahi dalam tanggapannya, menyatakan pendidikan di Indonesia saat ini merosot jauh. Di Asia Tenggara pendidikan Indonesia berada di bawah negara-negara yang dulu mengirimkan orang-orangnya untuk belajar ke Indonesia.
 
Selain itu strategi dan pengajaran di sekolah sudah melupakan budi pekerti. Sekolah Pahoa termasuk salah satu yang turut berperan dalam proses mencerdaskan kehidupan bangsa ini.
Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN