Kabinet SBY Retak
Ninuk Cucu Suwanti | Senin, 19 November 2012 - 15:36 WIB
: 402


(dok/ist)
Pertarungan di lingkaran Istana Negara sudah sangat keras dan menjurus untuk saling mencederai.

JAKARTA - Pertentangan antarmenteri dalam kabinet Susilo Bambang Yudhoyono semakin meruncing. Terakhir pertentangan terjadi antara Sekretaris Kabinet Dipo Alam yang menyerang dengan tuduhan korupsi di Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Pertahanan.

Sebelumnya, Sekretaris Negara Sudi Silalahi dan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD saling serang. Sebelumnya, ada lagi Menteri Keuangan Agus Marto bersilang kata dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallaranggeng tentang audit kasus Hambalang.

Presiden Yudhoyono dinilai telah kehilangan kendali atas pemerintahan dan kepercayaan dari menteri-menterinya. Demikian diungkapkan anggota DPR Fraksi Hanura, Akbar Faisal kepada SH di Jakarta, Minggu (19/11).

"Mencermati sepak terjang Menseskab Dipo Alam beberapa waktu terakhir ini tentang banyak hal, terutama soal tiga kementerian di Kabinet Indonesia Bersatu yang dilaporkan ke KPK tanpa sepengetahuan Presiden," kata Akbar kepada SH di Jakarta, Minggu (18/11).

Ia lebih lanjut menyimpulkan dua hal, pertama pertarungan di lingkaran Istana Negara sudah sangat keras, menjurus untuk saling mencederai dan melupakan tugas utama pemerintahan, yakni melayani rakyat.

Kedua, bisa disimpulkan bahwa Presiden sebagai kepala pemerintahan telah kehilangan kendali atas kabinet dan pemerintahan yang dipimpinnya, termasuk kehilangan kepercayaan dari para pembantunya.

"Berbagai pernyataan dan sepak terjang Dipo Alam yang bahkan dengan terbuka menyatakan tidak perlu melapor ke Presiden untuk pelaporan tiga kementerian kepada KPK itu menandakan hancurnya koordinasi pemerintahan," tegasnya.

Akbar memahami situasi ini terjadi akibat pemilu yang makin dekat dan partai-partai pengusung pemerintahan bersiap-siap "menyelamatkan diri" dan meninggalkan pemerintahan SBY-Boediono yang dianggap telah gagal dan lebih mengedepankan citra sendiri.

"Hal ini bisa dilihat dari pilihan presiden yang lebih mengutamakan menerima penghargaan sebagai kesatria dari Ratu Inggris ketimbang turun tangan langsung mengatasi bentrokan antar-anak bangsa di Lampung. Keadaan ini membuat keki beberapa mentri dan para jenderal baik di lingkungan kepolisian maupun TNI," ujarnya.

Terpisah, anggota DPR Fraksi Golkar Bambang Soesatyo berpendapat, para pembantu terdekat Presiden tidak kapabel. Itu karena mereka tak mampu memaknai kekecewaan Presiden Yudhoyono yang terefleksikan dari pernyataannya tentang kontroversi grasi untuk terpidana mati kasus narkoba, Meirika Franola alias Ola.

 

"Karena itu, Presiden perlu mengingatkan para pembantu terdekatnya untuk kembali fokus pada fungsi dan tugas masing-masing. Kalau mereka terus dibiarkan bergerak liar seperti sekarang, Presiden akan kecolongan lagi karena tidak mendapatkan perlindungan maksimal dari para pembantu terdekatnya," ujar Bambang.

 

Bagi dia, ketika Presiden secara terbuka menyatakan tidak ingin menyalahkan siapa-siapa terkait kontroversi grasi Ola, hal itu merupakan pernyataan sikap seorang pemimpin eksekutif yang merasa sangat kecewa dan sudah teraniaya akibat kesalahan para pembantu terdekatnya.

"Sayangnya, para pembantu Presiden tidak cerdas memaknai esensi pernyataan ini. Itu sebabnya saya menilai mereka tidak kapabel dalam melayani dan melindungi presiden," kata Bambang.

 

Seharusnya, ia menambahkan, para pembantu Presiden mencari sumber kesalahan informasi itu dari pihak mana pun sumber informasinya. Namun sayang, para pembantu presiden justru sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri.

Seperti, kata Bambang, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi sibuk berdebat dengan Ketua MA Mahfud MD, sementara Sekretaris Kabinet Dipo Alam sibuk dengan agendanya sendiri.

 

"Saya menangkap kesan bahwa mereka sama sekali tidak terpanggil untuk mempertanggungjawabkan kesalahan itu di hadapan presiden. Mereka juga tidak peduli dengan Presiden yang jelas-jelas sangat kecewa akibat kesalahan itu," ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh