Tirta Nursari, Memopulerkan “Anas” di Desa Talun
Retno Manuhoro | Senin, 30 April 2012 - 16:56 WIB
: 962


(SH/Retno Manuhoro)
Para perempuan di Dusun Talun, Semarang belajar jadi wartawan di usia senja. Apa yang mereka dapat?

Saat aku belajar nulis ini, di wapas sedang ada tamu dari Jakarta. namane Pak Arif. Orangnya masih muda. Mase itu menyemangati aku agar tetap semangat belajar. Duh aku senang sekali”.

Selarik tulisan di atas adalah milik Asnawiyah, nenek berusia 55 tahun yang rajin menulis. Bentuk coretan tangannya besar-besar dan ada beberapa huruf yang tidak disertakan dalam sebuah kata. Namun tulisan Asnawiyah terhitung jauh lebih rapi dibanding milik Sugimah (64), yang menulis laporan pandangan mata tentang peristiwa kecelakaan yang terjadi di dekat rumahnya.

Dalam laporan yang berjudul ”Satu Anak Meninggal karena Nggandul Truk” itu, tulisan Sugimah menceritakan urutan kejadian yang dilihatnya sekaligus menjadi sebuah wejangan singkat bagi pembaca.

”Ini peringatan, pulang dari sekolah kalau ada mobil jangan gandul mobil. Kalauk jatuh orang tuanya susah tur bapak supir ya susah. Ini pengetahuan saya. Sugimah”.

Dua penggalan tulisan di atas adalah sebagian dari isi Koran Pasinaon, sebuah media bagi ibu-ibu yang seluruh isinya ditulis para perempuan yang tinggal di Dusun Talun, Desa Bergaslor, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Koran Pasinaon menjadi satu-satunya koran yang tumbuh dari masyarakat pedesaan dengan para penulis ibu rumah tangga dan lansia. Meski dinamai koran, bentuk sesungguhnya adalah majalah yang terbit setiap bulan.

Koran Pasinaon lahir dari sebuah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon yang dikelola Tirta Nursari (39), seorang ibu rumah tangga. Wapas, istilah yang ditulis Asnawiyah, merujuk pada kependekan Warung Pasinaon.

Awalnya Tirta hanya ingin mewadahi anak-anak di sekelilingnya yang dinilai sangat membutuhkan tempat untuk berbagi dan belajar. Kondisi lingkungan yang terkepung pabrik-pabrik besar dinilai tidak ramah anak, dan membuat mereka kehilangan perhatian dari orang tuanya.

Maklum saja, sebagian besar penduduk desa usia produktif bekerja sebagai buruh pabrik. Kesehariannya, desa itu praktis hanya dihuni anak-anak dan para lansia yang nasihatnya tidak mempan untuk membimbing anak-cucu karena dinilai sebagai petuah usang.

”Tahun 2007 saya tergerak membuka rumah dan menyelenggarakan les bahasa Inggris gratis bagi anak-anak desa. Saya pikir anak-anak desa ini mempunyai energi yang besar, dan mereka harus diajak memanfaatkan energinya dengan membaca dan belajar,” kata Tirta.

Kegiatan belajar-mengajar di halaman rumah Tirta itu akhirnya menjadi awal TBM Warung Pasinaon yang dimaksudkan sebagai wahana belajar dan berbagi cerita. Seiring waktu, ibu-ibu dan lansia juga turut bergabung, meski awalnya harus didului dengan pengajian.

Menghilangkan Gunjingan

Perlahan, Tirta mengajak ibu-ibu yang hobi bergunjing untuk mengubah pandangan dengan berani menanyakan kebenaran bahan gunjingan langsung kepada orang yang dimaksud. Tanpa mereka sadari, cara Tirta ini membuat penyebar gosip menjadi berkurang, dan menggiring para perempuan memiliki pikiran positif.

Pengajian setiap malam akhir pekan itu akhirnya juga membuat anggotanya rutin mengunjungi TBM Warung Pasinaon sekadar untuk membaca koleksi buku maupun untuk mengasah kemampuan baca tulis.

”Nyaris semua perempuan di desa ini hampir kehilangan kemampuan keberaksaraan mereka karena tidak pernah digunakan. Di TBM, saya membangkitkan semangat mereka untuk kembali memaksimalkan kemampuannya,” kata Tirta yang juga aktif mengajak kaum ibu belajar komputer.

Kebetulan, pada 2010 muncul program Koran Ibu yang diadakan Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga momentum ini digunakan Tirta untuk mewujudkan impiannya, yakni mengubah ibu-ibu rumah tangga menjadi wartawan.

”Sebenarnya ini hanya sebutan yang digunakan untuk membakar semangat ibu-ibu agar tetap rajin menulis dan membaca. Buktinya sejak tulisan mereka dimuat di Koran Pasinaon, mereka menjadi merasa hidup lebih berarti bagi sesama, dibandingkan sebelumnya,” tutur Tirta yang mendapat dukungan semangat dari sang suami agar terus bergerak di bidang sosial.

Namun program pemerintah itu hanya menyediakan bantuan untuk menerbitkan koran sebanyak dua kali saja, dengan jumlah 1.000 eksemplar per edisi. Kondisi itu tidak membuat Tirta berkecil hati. Dengan tekad kuat ia melanjutkan penerbitan koran setebal 20 halaman itu dengan biaya sendiri.

Kini halaman rumah Tirta menjadi redaksi Koran Pasinaon yang setiap harinya selalu dipenuhi ibu-ibu pembuat artikel. Para wartawan itu menulis di kertas sobekan buku tulis, lalu dikumpulkan di sebuah kotak. Dari kotak itu, Tirta menyunting dan memilih sendiri materi yang akan diterbitkan.

Menulis di Sawah

Rohmiyati (54) termasuk salah seorang wartawan yang produktif menulis. Ia juga tidak pernah lupa membawa buku tulis dan bolpoin ke sawah. Di sela-sela waktunya mengolah sawah, ia menyempatkan menulis apa saja yang terlintas di benaknya. Sembari istirahat siang, Rohmiyati juga membaca buku-buku pengetahuan umum yang membuat wawasannya semakin terbuka.

”Saya merasa perlu terus membaca agar tidak mudah ditipu orang. Saya juga senang karena sekarang jadi lancar membaca surat undangan sendiri tidak perlu minta tolong dibacakan orang lain,” kata Ibu lima anak itu.

Karena menjadi wartawan pula Rohmiyati bisa bertemu dengan para pejabat, termasuk mewancarai Linda Gumelar, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan berbincang dengan Ibu Negara Ani Yudhoyono yang saat itu berkunjung ke Semarang. ”Dulu membayangkan saja tidak, sekarang malah bisa bertemu orang-orang hebat,” katanya dengan tersenyum bangga.

Untuk membantu ibu-ibu yang sudah kehilangan kemampuan keberaksaraan dan belum pernah menulis berita, Tirta menciptakan panduan sederhana berupa akronim ”Anas Ngendika Piye”.

Akronim berbahasa Jawa itu sebenarnya adalah jembatan keledai bagi para ibu untuk mengingat prinsip penulisan berita 5W+1 H, kepanjangan dari Apa/Opo (What), Nalika (When), Sopo (Who), Ngopo (Why), Endi (Where), dan Kapiye (How). ”Pembelajaran dalam bahasa lokal keseharian itu lebih mudah dipahami daripada saya repot menerangkan 5W+1 H”, tutur Tirta.

Sukses dengan Koran Pasinaon yang meraih beberapa penghargaan, Tirta dan Hermawan Budi Santosa, sang suami, kini juga mengajak kaum remaja desa membuat majalah Ekspas, singkatan Ekspresi Pasinaon. Ekspas berisi tulisan anak-anak yang aktif di TBM Warung Pasinaon dan berisi kiat-kiat belajar, pengalaman keseharian, dan karya sastra khas anak-anak.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    3 Komentar :

    redi mulyadi
    30 April 2012 - 22:18:38 WIB

    sip dech....!
    wawan
    01 Mei 2012 - 13:56:39 WIB

    selamat......sukses terus......
    Yuri Ivanovick
    10 Agustus 2012 - 09:49:53 WIB

    Aku bangga padamu mba / mas...
    Sukses terussssss......!!!!
    << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 21 April 2014 00:00:00 WIB

    Daniel Radcliffe-Erin Darke Jalan Bareng

    , 21 April 2014 00:00:00 WIB

    10 Korban Belum Ditemukan