Subak di Bali Berkurang 54 Buah
Rabu, 02 Mei 2012 - 10:44 WIB
: 513


(Foto:dok/ist)
Keberadaan subak makin terdesak akibat alih fungsi lahan pertanian, khususnya untuk pariwisata.

DENPASAR - Organisasi pengairan tradisional dalam bidang pertanian (subak) di Bali keberadaaan berkurang 54 subak dalam kurun waktu lima tahun akibat alih fungsi lahan yang kondisinya semakin mengkhawatirkan.

"Meskipun pada satu sisi terjadi pemekaran subak, terutama sejak Pemprov Bali mengucurkan bantuan subak sebesar Rp20 juta/subak, tetap saja jumlahnya berkurang terutama di wilayah Kota Denpasar," kata Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia, MS di Denpasar, Rabu (2/5).

Ia mengatakan, subak yang tersebar di delapan kabupaten dan satu kota di Bali pada tahun 2003 tercatat 1.600 buah berkurang 42 buah menjadi 1.558 buah, menurun lagi 13 buah menjadi 1.545 buah pada tahun 2008 dan pada 2008 tercatat 1.546 subak.

Kondisi itu kini semakin berkurang lagi, akibat keberadaan subak semakin terdesak akibat alih fungsi lahan pertanian yang tidak bisa dihindari untuk memenuhi keperluan berbagai pembangunan, khususnya bidang pariwisata yang semakin berkembang pesat di darah ini.

Di Kota Denpasar, misalnya awalnya terdapat 46 subah, namun sekarang hanya masih tersisa 37 subak atau sembilan subak telah sirna. Kawasan subak yang ada sekarang kondisinya compang-camping, karena di sela-sela sawah ada bangunan-bangunan megah.

Di Kota Denpasar dalam lima tahun terjadi penyusutan lahan dari 5.753 hektare masih tersisa 2.856 hektare dan itupun diperkirakan masih terus menyempit lagi.

Sementara di Kabupaten Badung juga terjadi alih fungsi lahan, namun jumlah subak justru meningkat berkat adanya pemekaran dari 113 subak pada 2003 sekarang menjadi 116 subak.

"Alih fungsi lahan pertanian yang sangat mengkhawatirkan itu bisa mengancam ketahanan panngan di daerah ini," ujar Prof Windia.

Kondisi itu menunjukkan sektor pertanian sangat terpojok dan menjelang ajalnya. Lahan sawah beriigasi di Bali secara keseluruhan di Bali pada 2005 tercatat 87.850 hektare, namun sekarang hanya masih tersisa 82.664 hektare, sehingga menyusut 5.186 hektare.

Sementara penyusutan lima tahun sebelum 2005 rata-rata 750 hektare setiap tahunnya untuk memenuhi berbagai kepentingan pembangunan, termasuk tempat pemukiman baru, tutur Prof Windia.
Sumber : Ant

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

Agung A A N
04 Agustus 2013 - 10:19:18 WIB

Maka diperlukan ketegasan pemimpin daerah di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota, u mengamankan dan melindungi keberadaan lahan sawah yg merupakan habitat Subak di Bali, tanpa sawah maka Subak akan tinggal cerita u Anak cucu kita. Modernisasi pertanian juga diperlukan u menarik minat kaum muda mau bertani.
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh