Bencana Tetap Ancam Berbagai Daerah
Aju | Jumat, 18 Januari 2013 - 14:30 WIB
: 176


(dok/antara)
Gelombang tinggi, banjir dan tanah longsor berpotensi terjadi di semua daerah.

PONTIANAK – Gelombang tinggi mengempas sejumlah daerah. Di Pulau Karimata-Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat (Kalbar), warga terisolasi sejak beberapa minggu lalu karena gelombang tinggi dan angin kencang. Akses untuk mendapat kebutuhan pokok makin sulit karena hanya bisa mengandalkan kapal laut.

Bupati Kayong Utara, Hildi Hamid, Kamis (17/1) mengatakan, hingga saat ini kapal berukuran kecil yang biasa dipakai untuk mengangkut bahan kebutuhan pokok tidak mampu melawan gelombang. Padahal, ketersediaan bahan pokok di pulau tersebut sangat tergantung dari pasokan yang dibawa secara reguler oleh kapal-kapal yang difasilitasi pemerintah daerah.

“Masalahnya kemudian, cuaca yang sangat ekstrem seperti sekarang warga di gugus Pulau Karimata tetap tidak berani melaut. Sumber mata pencaharian warga hanya menangkap ikan di laut,” ujar Hildi. Ia berharap ke depan bisa menyediakan kapal yang lebih besar, yang mampu memecah ombak sekalipun dalam situasi sulit seperti sekarang.

Gelombang serta kondisi curah hujan tinggi juga bakal terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bengkulu. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel) memprakirakan tujuh kota di provinsi tersebut diguyur hujan, yakni Kota Lahat, Musi Rawas, Martapura, Muaradua, Tebingtinggi, Pagaralam, dan Lubuklinggau.

BMKG Bengkulu memperkirakan gelombang laut di perairan Bengkulu mencapai 2,5 meter. Meski sedikit lebih rendah dari sebelumnya, BMKG tetap memperingatkan warga untuk berhati-hati. Di pantai sepanjang Pulau Jawa gelombang tinggi belum berakhir. Nelayan diminta untuk tidak melaut hingga kondisi kembali normal.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DI Yogyakarta juga telah menetapkan status Yogyakarta siaga darurat bencana cuaca ekstrem. Keputusan itu ditetapkan sejak 9 Januari 2013, setelah melihat kondisi cuaca di DI Yogyakarta dalam beberapa bulan terakhir, seperti angin puting beliung, tanah longsor serta banjir.

BPBD DI Yogyakarta telah mendirikan 50 titik pantau bencana yang akan bersiaga hingga 60 hari ke depan. “Tidak kalah penting lagi adalah menyiapkan relawan karena mereka memegang peranan penting di lapangan,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD DI Yogyakarta Prasetyo Laksono, kemarin.

Di Serang Banten, Balai Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, dan Cidurian Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum merencanakan membangun sejumlah penanggulangan banjir. Saat ini, penanganan jangka pendek dengan pengerukan Bendung Pamarayan, sementara jangka menengah dengan menormalisasi Sungai Ciujung. Namun, untuk merealisasikan hal itu, dibutuhkan anggaran Rp 124 miliar.

Gubernur Banten Rt Atut Chosiyah, di Serang, Rabu (16/1) mengatakan, proyek tersebut akan dilaksanakan pemerintah pusat. Namun, pemerintah daerah berkewajiban mengusulkannya. Untuk jangka panjang, pembangunan Waduk Karian tengah dilakukan pemerintah pusat. Banjir yang terjadi di Banten, kata Atut Chosiyah, karena meluapnya Sungai Cisadane.

"Sungai Cisadane juga membutuhkan normalisasi," tuturnya. Penanganan banjir di wilayah perkotaan akan diselesaikan dengan memperbaiki semua drainase yang hingga saat ini masih kurang memadai.

Di Aceh, anggaran untuk pengelolaan proyek bencana di Badan Penanggulangan Bencana (BPBA) Aceh tahun 2010 dan 2011 yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) diindikasikan dikorupsi pihak tidak bertanggung jawab. Sebagian besar proyek tanggap darurat masih terbengkalai meskipun anggaran telah digunakan hingga 100 persen.

Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh, Askhalani, menyebutkan, 17 paket kegiatan tanggap darurat selama 2010-2011 yang tidak jelas penanganannya. Padahal, dana yang dihabiskan mencapai Rp 3,641 miliar.

Ada dugaan mark-up yang dilakukan PPTK dan KPA secara terstruktur dan terencana. Bahkan, dari 17 proyek tersebut, hanya pekerjaan Pembangunan Tebing Sungai Krueng Pase Gampong Keulilee, Gampong Meunyelhe dan Gampong Mamplam Kecamatan Lhok Nibong, Kabupaten Aceh Utara yang telah selesai 100 persen. (Yuyuk Sugarman/Iman Nur Rosyadi/Inno Jemabut)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh