Teladan “Survivor” Kanker
Wahyu Dramastuti | Sabtu, 02 Februari 2013 - 11:58 WIB
: 1325


(SH/Job Palar)
Survivor kanker, Laksmi Notokusumo (kanan bawah), sedang melatih gerakan teater bagi para pasien kanker sebagai persiapan mengikuti Festival London School pada 20-27 Februari 2013 di rumahnya di Cempa
Survivor kanker ingin membagikan sisa hidupnya untuk kebaikan semua orang.

Kanker itu menyerangmu. Stadium tiga.

Masih ada harapan sayang... semangat.

Ingat anakmu, ingat kami yang mengasihimu.

Tetaplah tersenyum seperti dulu.

Allah menciptakan sakit pasti menciptakan obatnya.

Aku selalu berdoa untukmu.

Catatan kecil itu ditulis di jejaring sosial oleh Parma (38) untuk salah seorang temannya yang sedang mengandung delapan bulan dengan vonis kanker. Padahal, Parma sendiri sampai saat ini masih menjalani serangkaian terapi pengobatan bagi kanker payudara yang bersarang di tubuhnya.

Bukan hanya Parma, ibu satu anak yang berprofesi sebagai jurnalis radio di Semarang, Jawa Tengah, ini yang giat mendukung pasien kanker.

Ada Willianto (21) juga, yang punya daya serupa. Meski sudah mahasiswa semester VI Bina Sarana Informatika (BSI) Jatiwaringin, Jakarta Timur, Willi tetap ingin membantu orang-orang yang sedang kesulitan, karena menyadari bahwa manusia memang harus saling membantu.

”Kita hanya tamu di dunia ini. Semua milik kita hanya titipan Sang Ilahi, karena itu kita wajib bersyukur pada Tuhan Yang Maha Esa,” tulis Willi lewat BBM-nya. Willianto punya beberapa teman sebaya yang sama-sama survivor kanker, di antaranya Vio, warga Yogyakarta.

Vio menderita kanker tulang, sehingga salah satu satu kakinya diamputasi. Tetapi gadis ini rajin sekali mengunjungi pasien-pasien kanker dari rumah sakit satu ke rumah sakit yang lain di Yogyakarta. Luar biasa!

Semangat mendukung sesama pasien kanker juga dipompakan oleh banyak orang yang tersebar di sudut-sudut negeri ini, yang akhirnya menular juga ke orang-orang di sekeliling mereka. Ini bisa dilihat dari beberapa yayasan yang pada awalnya didirikan oleh para survivor kanker dan keluarga terdekat mereka.

Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) dan Cancer Care Yayasan Pelayanan Kasih (CCYPK) adalah contoh yayasan yang dibidani dan digerakkan oleh pasien kanker itu sendiri. Sementara itu, Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) dan Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) bisa jadi contoh lembaga yang didirikan oleh mereka yang anggota keluarganya sakit kanker.

YKPJ didirikan antara lain oleh Linda Amalia Sari Agum Gumelar yang adalah Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP&PA), Andy Endriartono Sutarto yang istri mantan Panglima TNI (Purn) Jenderal Endriartono Sutarto, dan artis Rima Melati.

Linda Gumelar, Andy Endriartono Sutarto, dan Rima Melati adalah para survivor kanker payudara. Tentu saja mereka sempat mengalami syok dan stres luar biasa ketika vonis kanker payudara dijatuhkan oleh dokter kala itu.

Namun mereka tidak menyerah kalah. Malah, para ibu itu kemudian mendirikan institusi nirlaba yang punya program menggalakkan kegiatan penyuluhan dan penanggulangan kanker payudara di Jakarta, yang diberi nama YKPJ pada 2003.

Ini penyakit yang tidak diinginkan perempuan, tetapi justru di Indonesia penderita kanker payudara terhitung banyak,” kata Linda yang sudah sekitar 16 tahun berhasil melawan kanker tersebut. Oleh karena itu, Linda kemudian rajin mengampanyekan bahaya dan upaya mengatasi kanker payudara.

Linda sendiri merasa sangat bersyukur karena kankernya cepat diketahui ketika masih tahap stadium dini. Saat itu benjolannya segera diangkat sehingga bisa survive sampai sekarang. Maka ia selalu mengingatkan akan pentingnya masyarakat memahami deteksi dini kanker payudara.

James B Lumenta melakukan hal yang sama. Ia mendirikan Cancer Care Yayasan Pelayanan Kasih (CCYPK) untuk membantu pasien kanker dari keluarga tak mampu. James sejak 1997 bergulat dengan kanker livernya, tetapi tak terhalang niatnya untuk mengabdikan diri di bidang kemanusaiaan.

Baru sekitar tiga tahun CCYPK berdiri, sudah 14 pasien kanker stadium lanjut yang ditolongnya. Bentuk bantuannya pun total, tidak hanya sumbangan materi tetapi juga pendampingan konsultasi dengan dokter, bahkan membukakan akses untuk memperoleh kartu jaminan kesehatan pemerintah, hingga memenuhi kebutuhan pribadi pasien.

Ini semata-mata agar orang yang bersangkutan merasa “dimanusiakan” dan tumbuh kembali gairah hidupnya.

JBL—begitu panggilan akrab James—sebelumnya mendirikan Balai Pengobatan Umum (BPU) di Desa Cipari, Cisarua pada 2004, di mana setiap hari melayani sekitar 100 pasien dengan pembayaran sangat murah.

Tiga dokter mengabdikan diri di sana. Dana untuk biaya operasionalnya diambil dari hasil penyewaan gedung Grha Kasih dan Villa di area itu, Desa Cipari. Dengan kata lain, 100 persen modal proyek kemanusiaan ini diambil dari kantong pribadi JBL.

Pantang menyerah menjadi pemicu pula bagi Laksmi Notokusumo (65) untuk terus menari dan bermain teater. Ia bahkan mengajarkan tari dan teater kepada beberapa pasien kanker, meskipun kondisi kesehatannya sering kali turun-naik.

“Kalau tidak sedang sangat down, saya tetap beraktivitas. Waktu kemoterapi dan radiasi saya tetap menari meski kemudian muntah,” tutur jebolan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Menerima Kenyataan

Sebagai orang yang aktif bergerak, Laksmi kini malah melatih monolog bagi pasien kanker untuk persiapan mengikuti Festival London School pada 20-27 Februari 2013. Kegiatan ini dilakukan di sela-sela kiprahnya di Cancer Information and Support Center (CISC) bersama para survivor kanker lainnya.

“Ketika divonis kanker payudara stadium 2B tahun 2007, saya sesorean nangis terus. Tapi setelah itu saya janji pada diri sendiri untuk tidak menyerah, dan menyadari menangis itu tidak mengubah keadaan. Saya harus menerima kenyataan ini,” ujarnya.

Harus menyadari kenyataan. Prinsip ini juga dipegang teguh oleh salah satu pemimpin YOAI, Kartika Purwanto. Ia tergerak mengabdikan diri di YOAI—sekarang di bagian Hubungan Masyarakat dan Internasional—setelah anak pertamanya sakit leukemia.

Diawali pada September 1990, di saat anaknya, Ario Falah (6) mengalami gejala seperti demam berdarah dengue (DBD). Ketika sedang naik sepeda tiba-tiba lemas dan tak mau makan sehingga berat badannya turun berat 8 kilogram selama dua minggu. Lalu muncul lebam-lebam di tubuhnya, panas tinggi dan pendarahan.

Setelah dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah, Ario dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Setelah dilakukan Bone Marrow Puncture (BMP), terlihat Ario positif leukemia atau kanker darah. Ternyata setelah delapan bulan diobati sel-sel kankernya tak juga berhenti tapi malah metastasis atau menyebar ke otak. Padahal protokol medisnya mengharuskan anak umur enam tahun ini menjalani terapi selama dua tahun.

“Dokter RSCN angkat tangan. Harapan sembuh tipis. Akhirnya saya bawa dia ke Belanda, ke Academisch Medisch Centrum (AMC) Amsterdam. Ini dengan biaya sendiri, meskipun rasanya tak mungkin,” kata Ika, nama panggilan Kartika Purwanto.

Praktis, ia bermodalkan nekat karena tak punya sanak-saudara di Belanda sementara bahasa yang ia pahami hanya bahasa Inggris. Ternyata pula, obat-obatan yang diberikan di Negeri Bunga Tulip itu dosis tinggi sehingga efek sampingnya berat.

Begitu obat kemoterapi masuk ke dalam tubuh Ario, langsung anak ini muntah-muntah, merasa panas dan ngilu di sekujur tubuhnya. Lalu ia menjalani radiasi selama dua bulan. Ini semua terjadi pada 1991-1992.

“Aku tak mau memperlihatkan kesedihan di depan anakku, meskipun penyakitnya ganas. Aku hanya memeluk dia supaya merasa tenang. Misalnya saat hendak di-BMP, aku mengajak Ario berdoa dulu. Kalau dia kesal, kubiarkan rambutku ditarik-tarik. Kalau ingin nangis, aku nangis di mobil,” tutur Kartika.

Ibu ini hanya memberikan pengertian pada sang anak bahwa penyakitnya bisa disembuhkan asalkan dilawan.

Beruntung, di Belanda disediakan fasilitas untuk anak-anak yang sakit. Ada arena bermain, ada hadiah-hadiah menarik dan lucu dari para dokternya untuk pasien anak yang mau disuntik, misalnya. Bahkan, untuk plester pun anak disuruh memilih yang gambar monyet atau lainnya. Topi untuk pascakemoterapi juga disuruh memilih. Hal-hal semacam ini, menurut Kartika, sangat membantu anak secara psikologis.

Kini, Ario yang sudah beranjak dewasa kuliah di UPN Veteran, Jakarta, mengambil bidang komputer. Sebelumnya, ia kuliah di Fakultas ekonomi Universitas Trisakti. Apa pun yang terjadi, sang ibu ingin mengucapkan rasa syukurnya dengn menolong sesama. Karena ia sudah mengalami betapa sulitnya pasien kanker. “Saya ingin memberi semangat, jangan pernah putus asa. Harapan itu selalu ada,” lanjutnya.

Peranan Dokter

Obat-obatan bagi penyakit kanker sangatlah mahal, bisa mencapai miliaran rupiah. Maka seorang dokter yang tak mau disebutkan namanya mengungkapkan kepada SH, betapa malangnya pasien kanker dari keluarga tak mampu. Itu karena keluarganya juga bisa jadi ikut sakit lantaran tenaga, mental, dan harta bendanya terkuras habis. Maka ia menyambut baik setiap yayasan yang menolong pasien kanker.

“Peranan yayasan semacam CCYPK itu sangat besar karena biasanya pasien dan keluarga tidak well educated. Yayasan bisa melakukan sosialisasi tentang deteksi dini kanker atau mendampingi pasien saat konsultasi dengan dokter,” sambung dokter bedah saluran cerna ini. Ia juga menegaskan tentang pentingnya deteksi dini karena dengan deteksi dini maka kanker akan teratasi bahkan bisa disembuhkan.

Sayangnya, menurut dokter muda ini, pemerintah kurang kesadaran sehingga memberikan obat kemoterapi pada pasien dari keluarga tak mampu secara seadanya. Padahal dengan deteksi dini, biaya terapinya akan lebih murah. Kecuali setelah masa Gubernur DKI Jakarta Jokowi sekarang ini, pemerintah mulai mempermudah akses masyarakat untuk memperoleh obat-obatan kanker.

“Tapi harus ada usaha dari dokter yang menangani. Misalnya ada obat yang tidak di-cover oleh pemerintah atau asuransi, seharusnya dokternya memperjuangkan supaya pasiennya tetap memperoleh obat itu,” lanjut dokter yang berdinas di rumah sakit milik pemerintah itu.

Andaikan saja Indonesia memiliki banyak dokter seperti pemilik cerita di atas, pastilah banyak pasien kanker yang tertolong. Tak peduli punya uang atau tidak, mereka sama-sama punya peluang untuk sembuh.

Peranan dokter yang punya idealisme seperti itu sangatlah penting. Apalagi, prevalensi penderita kanker di Indonesia mencapai 4,3 orang per 1.000 warga. Dengan jumlah penduduk 237,6 juta jiwa pada tahun 2010, penderita kanker di Indonesia diperkirakan 1,02 juta jiwa.(Retno Manuhoro)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

KPU Papua Baru Terima Rekapitulasi Dua Kabupaten

, 00 0000 00:00:00 WIB