Bantuan Siswa Miskin Naik
Naomi Siagian | Selasa, 12 Februari 2013 - 13:35 WIB
: 621


(dok/SH)
Siswa miskin menjadi target utama dari bantuan pendidikan.

JAKARTA – Nilai Bantuan Siswa Miskin (BSM) untuk SD dan SMP tahun ajaran baru 2013/2014 akan dinaikkan. Kenaikan tersebut untuk memperluas akses semua siswa dari keluarga miskin sehingga dapat menjangkau layanan pendidikan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan satuan biaya SBM untuk SD saat ini Rp 360.000 per anak per tahun akan naik menjadi Rp 560.000 per anak per tahun. Adapun BSM untuk SMP adalah Rp 570.000 per anak per tahun menjadi Rp 780.000 per anak per tahun. Sementara untuk SMA/SMK sebesar Rp 1 juta sudah diputuskan mulai berlaku tahun ini.

Mendikbud menyatakan, alasan faktor ekonomi tidak boleh menjadi penghalang anak mendapatkan layanan pendidikan. “Karena itu, harus dipastikan semua anak dari keluarga miskin harus bisa bersekolah dan jangan sampai putus sekolah,” kata Mendikbud di sela-sela pelaksanaan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (11/2).

Untuk mencegah terjadinya anak putus sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, Mendikbud mengatakan akan membuat kebijakan nasional. Salah satunya mengintegrasikan BSM mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Dengan begitu, siswa SD penerima BSM wajib menerima BSM pada SMP dan SMA. Jika prestasi akademiknya baik, dipastikan anak tersebut akan mendapat beasiswa Bidik Misi.

Jumlah penerima BSM adalah SD sebanyak 3,53 juta siswa, SMP hingga 1,295 juta siswa, dan SMA 550.000 siswa, serta SMK 618.00 siswa. Pada tingkat perguruan tinggi, ada 91.000 mahasiswa penerima beasiswa Bidik Misi. Total penerima BSM dan beasiswa Bidik Misi adalah 8,08 juta orang dengan anggaran Rp 3,99 triliun. “Kenaikan anggaran BSM ini akan diajukan dalam APBN Perubahan tahun 2013,” katanya.

Mendikbud menambahkan, angka putus sekolah masih sangat tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2013, rata-rata nasional angka putus sekolah usia 7–12 tahun mencapai 0,67 persen atau 182.773 anak; usia 13–15 tahun 2,21 persen atau 209.976 anak; dan usia 16–18 tahun semakin tinggi hingga 3,14 persen atau 223.676 anak.

Provinsi terbanyak siswa putus sekolah usia 7–12 tahun dan 13–15 tahun adalah Jawa Barat hingga masing-masing 32.423 anak dan 47.198 anak. Pada usia 16–18 tahun, distribusi putus sekolah terbanyak di Provinsi Jawa Timur mencapai 35.546 anak. Mendikbud mengatakan ada 30 persen anak dari SD yang tidak masuk ke SMP, 26 persen yang tidak melanjut dari SMP ke SMA, dan 18 persen dari SMA ke perguruan tinggi.

Untuk memastikan kebijakan serius mengurangi jumlah anak putus sekolah, Mendikbud meminta agar para kepala dinas provinsi dan kabupaten/kota membentuk posko. “Pada tahun pelajaran mendatang saya meminta semua kepala dinas membuka posko untuk mencari anak-anak di wilayah masing-masing yang tidak melanjutkan atau tidak sekolah pada usia sekolah. Kita cari dan kita 'tangkap' untuk kita masukkan ke sekolah,” katanya.

Diakui perlu membangun kesadaran di sebagian kelompok masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Ini karena pada beberapa daerah, anak dianggap ikut bertanggung jawab mencari nafkah sehingga tidak harus bersekolah.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh