Korsel Ingin Ganti Julukan
Dina Damayanti | Senin, 07 Mei 2012 - 15:51 WIB
: 553


(Foto:dok/bbc.co.uk)
Dari Zona Demiliterisasi (DMZ) diubah menjadi Zona Damai dan Kehidupan (PLZ).

SEOUL - Hingga kini, peninggalan sejak masa Perang Dingin, yang disebut sebagai Zona Demiliterisasi (DMZ) dijaga oleh jutaan tentara dan jutaan ranjau darat lainnya yang tersebar di area seluas 248 km.

Tempat inilah yang dulu disebut oleh mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sebagai 'tempat paling menakutkan di dunia' - dan tempat inilah yang kini oleh pemerintah Korea Selatan (Korsel) ingin dijadikan sebagai zona ekowisata terbaru mereka.

Ini bukan berarti DMZ sulit menarik wisatawan asing (wisman) untuk berkunjung ke sini.

Sekitar 6,5 juta wisman datang setiap tahun untuk melihat wilayah Korea Utara (Korut) yang selama ini tertutup melalui teropong yang disediakan di perbatasan Korsel. Mereka bisa menginjakkan kaki ke dalam terowongan yang dijadikan tempat melarikan diri dan berfoto di depan monumen-monumen dan replika peninggalan masa perang.

"Saya kira orang yang datang kesini adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap orang Korea Utara, karena ini adalah wilayah paling dekat yang bisa mereka datangi," ujar Steven Felker, pendeta Christ Chapel di New York, seperti dikutip dari BBC, Senin (7/5).

"Orang-orang lainnya datang kesini karena ini adalah wilayah paling dekat yang bisa dicapai dengan aman ke zona militer yang masih aktif dan mereka hanya penasaran bagaimana rasanya adrenalin itu."

Julukan Baru
Pemerintah Korsel tidak suka dengan citra DMZ yang terlanjur lekat sebagai tempat peperangan dan ketegangan. Mereka berharap bisa memberi julukan baru bagi wilayah ini dengan sebutan PLZ, atau Zona Damai dan Kehidupan (Peace and Life Zone).

"Sampai saat ini, wilayah DMZ masih menjadi tempat terlarang dan dijaga ketat," sahut Park Meeja, direktur Kebijakan Sumber Daya Alam di Kementerian Lingkungan Hidup Korsel.

"Namun dengan mengubah wilayah ini menjadi sebuah zona ekowisata, saya kira ini akan mengubah cara pandang orang melihat wilayah ini. Ketimbang datang hanya untuk melihat negara terpecah dua terakhir di dunia, di masa depan kami berharap bahwa orang akan datang kesini untuk mendapatkan pengalaman dengan kehidupan alam liar."

Ini bukanlah sebuah hal yang mustahil terjadi. Perjanjian gencatan senjata pada saat berakhirnya Perang Korea 60 tahun yang lalu menciptakan zona penyangga, sejauh 20 km dari masing-masing garis gencatan senjata di kedua negara, dimana peralatan maupun anggota militer dilarang berada di sana.

Di luar itu, ada jalur sepanjang 8 km yang secara ketat membatasi akses publik.

Para pakar lingkungan hidup mengatakan bahwa semua ini telah menciptakan cagar alam alami, dengan ribuan spesies hewan, diantaranya adalah burung bangau dan tupai terbang Korea yang langka.

Menteri Lingkungan Hidup Korsel berencana menciptakan jalur yang melalui wilayah ini untuk membuka akses bagi para turis yang datang.

Sulit Dilupakan
Meski konflik sudah terjadi 60 tahun yang lalu, nyatanya masih saja sulit dilupakan. Tersembunyi di sebuah lahan pertanian, jauh dari jalan raya dekat perbatasan, ada sebuah tempat yang tidak pernah disinggahi oleh bus-bus tur.

Ratusan palang kayu putih, ditanam membentuk barisan yang rapi. Di sanalah terdapat makam para tentara Korea Utara dan China yang tewas saat Perang Korea berkecamuk.

Pemakaman terakhir di sini terjadi setahun yang lalu. Ingatan kelam semacam ini selalu dikenang oleh tentara Korut sepanjang masa.

Ada pula pengingat lainnya, yaitu fakta bahwa perang tersebut secara formal belum diakhiri. Korut dan Korsel terikat dengan gencatan senjata yang rentan, bukan terikat dengan sebuah perjanjian perdamaian.

Sejak saat itu, di acara-acara tertentu pemerintah Korut selalu mengirim mata-mata ke Korsel.

Kedua belah pihak secara rutin juga mengadakan latihan militer berskala besar. Agaknya ketegangan militer diantara kedua belah negara masih sulit untuk dihapus.
  
Sumber : BBC

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh