Berbagi Cahaya Setelah Mata Padam
Retno Manuhoro | Senin, 07 Mei 2012 - 16:26 WIB
: 1935


(SH/Retno Manuhoro)
Terlahir buta, seorang perempuan malah mengabdikan seluruh hidupnya untuk melayani sesama.

Dari tengah ruangan, terdengar suara Kim Liong sedang memaki-maki tanpa alasan. Segala sumpah serapah keluar dari mulut lelaki 68 tahun itu, dan tak seorang pun berusaha menghentikannya. Di ruangan yang lain, Lien Lien (47) sedang membimbing salah seorang temannya untuk membersihkan lantai yang basah oleh air seni.

“Om Liong itu korban salah tangkap aparat, dan selama bertahun-tahun, ia mendekam di penjara tanpa pernah tahu kesalahannya. Selepas dari penjara, Om Liong depresi berat dan sampai sekarang ia selalu marah kepada semua orang. Keluarganya kewalahan, lalu dia diserahkan di sini,” kata Priskilla Smith Jully (34), pendiri The School Of Life Semarang.

Lien melintas dan berhenti di depan Priskilla. Ia meraih tangan Priskilla lalu menjabatnya dengan erat. Priskilla tersenyum sambil mengucapkan terima kasihnya pada Lien.

”Kalau Cik Lien, dulu ia datang ke sini dalam kondisi stres berat dan kehilangan dirinya sendiri hingga enggan berpakaian,” ujar Priskilla yang sering dipanggil dengan sebutan Priska saja.

Sedetik kemudian terdengar lengkingan tangis bayi dari ruang depan. Semakin dekat dengan ruangan, isak tangis itu terdengar makin menyayat hati. ”Nah, Rey sesak napas lagi itu, ia pasti kesulitan bernapas,” kata Priska lirih. Rey adalah nama bayi 11 bulan yang baru saja menjalani operasi bibir sumbing. Sejak lahir, Rey diserahkan orang tuanya karena kondisi fisiknya yang tidak sempurna di samping ketiadaan biaya.

Perlahan Priska berjalan ke pintu depan, sementara tangan kanannya tetap dalam genggaman salah satu asistennya. “Saya buta total, tetapi saya bersyukur Tuhan memberi kepercayaan pada saya untuk tetap dapat melayani sesama," tuturnya.

The School Of Life pada awalnya bermula dari tekad tulus Priska untuk membantu sesama difabel yang hidup di Kota Semarang. Nama itu dipilihnya sebagai representasi sebuah wadah bagi mereka yang ingin menjalani hidup lebih bermakna.

Awal 2004 berangkat dari Jambi kota asalnya, ia tiba di Semarang untuk mengikuti sebuah pelatihan pembentukan karakter yang dilayani oleh Tommy Burnett, seorang pengajar dari Amerika. Pada pelatihan itu Tommy Burnett menceritakan bahwa di tempat tinggalnya, ia menampung orang-orang yang membutuhkan bantuan terutama mereka yang berkebutuhan khusus sebagai salah satu bentuk pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Usai mengikuti acara itu, panggilan hati Priska semakin kuat untuk mengikuti jejak Tommy Burnett yakni membantu penyandang cacat fisik dan mental. Padahal, di Semarang, Priska hidup sebatang kara, tanpa pekerjaan.

Dengan uang seadanya, Priska lalu mencari indekos dan mencoba melamar pekerjaan di sebuah radio rohani. Untungnya, radio itu sedang membutuhkan penyiar perempuan dan mau menerima Priska. Dengan gaji seorang penyiar yang tidak begitu besar, Priska memulai hidupnya di Semarang.

”Saya sudah terbiasa hidup menggelandang dari satu kota ke kota lainnya tanpa rasa takut. Masa lalu saya penuh kepahitan dan kekerasan, karena saya adalah orang yang tertolak oleh keluarga sehingga akhirnya sering hidup di jalanan,” tutur Priska mengenang masa lalunya.

Tidak Dikehendaki Orang Tua

Priska terlahir tanpa dikehendaki orang tuanya, sejak dari kandungan ia bahkan nyaris terbunuh karena ibunya rutin mengonsumsi jamu peluruh kandungan. Alih-alih ingin menghilangnya nyawa calon bayi, Priska lahir selamat namun tanpa alat penglihatan yang sempurna.

Si anak buta itu akhirnya harus menjalani kehidupan yang tertolak sepanjang hari dan tumbuh menjadi pemberontak karena kemarahan yang terpendam. Di lingkungan rumah ia dihina dan tidak pernah diperhatikan, maka Priska remaja sering kabur dari rumah, mengarungi kehidupan keras dengan tujuan ingin membuktikan bahwa tanpa siapa pun ia bisa berhasil.

”Meski buta, saya jago berantem, pernah juga jadi kondektur, dan berkelana dari kota satu ke kota lainnya,” ia mengenang.

Kekerasan hati Priska akhirnya terhenti pada suatu titik ketika ia menyadari bahwa dirinya tetap tidak mampu hidup tanpa pertolongan Tuhan. Sejak saat itulah, Priska mulai tekun beribadah dan menuruti panggilan hatinya. ”Saya pernah di titik nol maka saya ingin membantu orang lain yang terbuang untuk kembali menemukan arti hidupnya.”

Baru saja memulai hidupnya di Semarang, ia mendengar salah seorang sahabatnya di Jambi yang bernama Merry telah menjadi yatim piatu. Priska tergerak untuk mengajak Merry ke Semarang karena Merry adalah penyandang cacat ganda, dan menampungnya di indekos. Bersamaan dengan Merry, bergabung pula salah seorang perempuan buta lainnya yang nyaris bunuh diri karena depresi akibat gagal menikah.

Akhirnya, tiga penyandang cacat fisik itu hidup bersama di kamar indekos Priskilla yang kecil dengan biaya hidup ditanggung seluruhnya oleh Priskilla. ”Saya merasa harus membantu mereka dan saya ikhlas untuk membagi hasil kerja saya untuk dua teman yang kondisinya jauh lebih sulit daripada saya,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, selain mengandalkan gaji penyiar ia juga menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari yang digelar di indekos. Segala usaha dilakukannya mulai dari menjual pulsa hingga menjajakan es keliling kampung.

Tanpa diduga, dari hari ke hari semakin banyak kaum cacat ganda yang datang dan ikut hidup di indekos, hingga ibu kos merasa keberatan dengan perilaku Priskilla. Terhitung setidaknya lebih dari lima kali Priskilla hidup berpindah tempat bersama orang-orang yang ditampungnya.

Kehidupan Priska sedikit mengalami perubahan saat Fandy Prasetya Kusuma (30) yang juga bekerja di radio rohani berteguh hati untuk menikahinya. ”Fandy itu lelaki yang sungguh-sungguh mengasihi saya, ia mau memahami dan ikut terjun mengurus orang-orang yang terbuang itu,” Priska melanjutkan sambil tersenyum.

Bersama Fandy akhirnya mereka berkomitmen mengurus puluhan orang cacat ganda, lansia, dan anak telantar tanpa mengandalkan dana bantuan dari pihak lain. ”Semua murni dari hasil kerja keras kami, meski rasanya nyaris mustahil namun kenyataannya Tuhan selalu penuhi kebutuhan kami,” kata Fandy.

Lebih lanjut Fandy menyebutkan hingga hari ini untuk menampung orang-orang yang diserahkan ke The School Of Life, mereka bisa menghabiskan dana hingga Rp 70 juta per bulan. ”Mereka benar-benar sudah tidak dikehendaki oleh keluarganya, diserahkan di sini dan kami menerimanya tanpa sepeser pun menarik biaya perawatan. Kami juga tidak mempunyai donatur tetap sebagai sumber pendanaan,” ujar Fandy.

Priska dan Fandy masih rutin membuka lapak pakaian di berbagai tempat sebagai wahana mencari dana di samping menerima permintaan sebagai penyanyi, pembawa acara, motivator, juga pengisi acara dialog yang sering diadakan oleh berbagai instansi dan rumah ibadah.

”Total ada 80 orang yang hidup dengan berserah kepada Tuhan di tempat ini, dan mereka mencoba menemukan arti hidup dengan saling membantu hingga nantinya bisa benar-benar mandiri,” kata Priska.

Kini The School Of Life menempati lokasi baru di Jalan Cakrawala Utara III/ 34-36 Semarang. Seorang dermawan meminjamkan rumah itu bagi Priska dan 80 orang lainnya untuk dihuni hingga lima tahun ke depan. Di mata para rekan kerjanya, Priska adalah ibu bagi semua orang yang ditelantarkan.

Vina (29), salah seorang pengabdi di School Of Life, menuturkan kekagumannya kepada Priska sambil berurai air mata. ”Bagi saya, Ibu Priskilla itu sosok yang luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, Ibu Priskilla mampu mengasihi orang-orang yang terbuang dengan lebih banyak dan tanpa pamrih,” tutur Vina.

Vina memutuskan bergabung untuk mengabdi setelah paham bahwa Priskilla benar-benar tidak pernah meminta-minta untuk menghidupi anak asuhnya. ”Semua pendanaan diusahakan sendiri, meski ada donatur tidak tetap namun Ibu Priskilla tetap tidak pernah mau mengajukan proposal permohonan dana,” ujarnya.

Cahaya hati Priskilla menembus setiap anak asuh dan siapa pun yang bertemu dengannya. Cahaya itulah yang membawa para terhilang menemukan jati dirinya kembali.

Sumber : Sinar

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



4 Komentar :

Abigail
29 Agustus 2012 - 19:57:35 WIB

Kalau mau sumbang lewat transaksi bisa tidak?
retno
16 Desember 2012 - 20:47:16 WIB

ada nomer telpon yg bisa dihubungin?


Budi Joyo
02 Mei 2013 - 03:52:34 WIB

Cp : Bpk Fandy
Telepon : 0818246297

Itu NO HP suaminya, yg saya kutip dari situs dibawah ini :
http://www.stefanussusanto.org/2012/10/school-of-life -semarang.html

Selamat Berbagi...dan menjadi saluran berkat Tuhan.
Tuhan Yesus Memberkati anda.
Budi Joyo
02 Mei 2013 - 04:01:30 WIB

"Ada yg menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan". (Amsal 11 : 24)

"Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum"
(Amsal 11 : 25)

GOD BLESS US
and Be Blessing for everyone around us..
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Berakhir, Program Perdamaian World Bank di Aceh

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Soal Tertukar, Pelaksanaan UN Tertunda