Siapkan Bambu untuk Konstruksi
Wheny Hari Muljati | Kamis, 07 Maret 2013 - 13:27 WIB
: 880


(dok/ist)
Tak ubahnya kayu, bambu memiliki potensi besar dalam bidang konstruksi.

Ringan, ulet, lurus, rata, keras, namun kuat adalah beberapa karakter bambu yang jarang ditemukan pada bahan bangunan lain.

Selain harganya murah, material ini juga mudah dibelah, mudah dibentuk, dan mudah diangkut karena ringan. Banyaknya karakter positif bambu membuat tanaman yang termasuk dalam kelas rumput-rumputan ini tak tergerus perkembangan zaman.

Hampir sama dengan kayu, dalam bidang konstruksi bambu memiliki banyak potensi yang patut dikembangkan.

“Bambu bisa dimanfaatkan dalam struktur bangunan, mulai dari lantai, dinding, atap, dan bagian bangunan lain. Bahkan, bisa jadi bahan pembuat mebel,” tutur Yu Sing, pengamat bidang properti ini kepada SH, Rabu (6/3).

Cara Khusus

Menurut Yu Sing, karena bentuk dan karakter yang berbeda dengan kayu, bambu perlu mendapat perlakuan khusus saat dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan.

“Kayu bentuknya solid, sedangkan bambu berlubang di tengah. Jadi, pemanfaatan bambu sebagai bahan konstruksi perlu dilakukan dengan cara khusus, misalnya dalam hal merancang sistem sambungan dan penggunaan mur-bautnya,” tuturnya.

Oleh karena lubang di tengahnya, sistem sambungan bambu bisa menggunakan cara ikat, misalnya dengan rotan atau ijuk, atau memasang pasak dan mur-baut. “Pasak untuk sambungan juga bisa dibuat dari rotan,” lanjut Yu Sing.

Lebih jauh arsitek ternama ini menyampaikan beberapa kiat memanfaatkan material bambu dalam bidang konstruksi. Menurutnya, hal terpenting sebelum memanfaatkan bambu sebagai bahan konstruksi adalah mengawetkan bahan ini. “Ada banyak cara mengawetkan bambu. Cara yang paling sederhana adalah merendamnya di lumpur atau di sungai,” tuturnya.

Waktu Penebangan

Menurut Yu Sing, tujuan perendaman adalah menghilangkan rasa manis yang tersimpan pada pori-pori bambu. Agar mendapatkan hasil maksimal, pengawetan dengan cara ini sebaiknya dilakukan dalam waktu tiga sampai enam bulan.

“Bila waktu perendaman cukup, proses fermentasi lumpur akan efektif menghilangkan kadar manis pada pori-pori bambu, sehingga kumbang tidak akan suka pada bambu tersebut,” paparnya.

Selain proses perendaman, hal penting yang perlu diperhatikan sebelum menggunakan bambu sebagai bahan konstruksi adalah waktu penebangan. “Waktu menebang bambu jangan sampai berbarengan dengan bulan purnama. Kadar air bambu pada masa ini umumnya banyak, sehingga memengaruhi kualitas bambu tersebut,” pesan Yu Sing.

Ada pula yang mengatakan jangan menebang bambu saat berkembang biak, yakni saat ada rebung atau tunas baru di rumpunnya. “Mungkin karena saat itu bambu sedang memberi makan tunas atau rebungnya. Jadi, kalau ditebang pada masa ini, kualitas bambu kemungkinan besar kurang baik,” kata Yu Sing.

Gampang-gampang Susah

Memanfaatkan bambu sebagai bahan konstruksi terhitung gampang-gampang susah. Untuk hasil memuaskan, sebagai bahan konstruksi bambu sebaiknya ditebang pada usia sekitar 4-5 tahun. Terlalu muda atau terlalu tua dari rentang usia tersebut tidak bagus. Apabila terlalu muda, bambu umumnya akan menyusut, bila terlalu tua bambu akan mudah pecah, karena kurang liat.

Pada saat ini, mengawetkan bambu secara alamiah dengan perendaman selama 3-6 bulan dianggap banyak kalangan memakan waktu terlalu lama. Untuk mempersingkat proses ini, sebagai alternatif proses pengawetan bisa dilakukan dengan menggunakan bahan kimia.

“Bila menggunakan zat kimia, proses pengawetan bisa selesai dalam waktu satu jam saja. Caranya, zat kimia dimasukkan ke pori-pori bambu dengan cara mendorongnya dengan pompa,” kata Yu Sing.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh