“Manajemen Kepepet”
Herry Prasetyo | Selasa, 15 Mei 2012 - 13:49 WIB
: 1072


(dok/ist)
Kesulitan akan selalu datang, dan itu hal biasa; buatlah itu menjadi luar biasa.

SITUASI “kepepet” sering kali harus kita alami dalam hidup. Situasi terjepit, terdesak, yang memaksa kita melakukan langkah yang tak biasa, demi mempertahankan hidup, menyambung “napas” atau meningkatkan kinerja agar tidak terpinggirkan oleh era kompetisi yang semakin dahsyat.

Banyak orang kemudian berujar, mungkin juga sambil bergurau, “Manajemen kepepet membuat saya bisa sukses, bisa berkarya dan menghasilkan cukup uang untuk hidup!” Hal positif ketika seseorang kepepet adalah semakin aktifnya otak “bekerja”, mencari jalan keluar agar sang diri tidak dengan mudah menjadi pecundang.

Bagaimanakah agar di saat kepepet itu, kita bisa beraktivitas dengan baik, bisa memanajemeni diri dengan luar biasa, sehingga apa yang kita miliki tidak sia-sia? Berikut ini beberapa hal yang dapat kita coba.

Motivasi untuk “Survive”

Karunia hidup jangan sia-siakan. Jika toh masih ada hal buruk atau kurang mengenakkan hati dalam perjalanan prosesnya, anggap itu sebagai bahan pembelajaran yang inspiratif, bukan sebagai pelemah semangat atau motivasi.

Kesulitan akan selalu datang, dan itu hal biasa; buatlah itu menjadi luar biasa ketika kita mampu mengubahnya menjadi kemudahan demi kemudahan dalam berkarya menuju kesuksesan. Salah satu cara atau sikap di saat kita kepepet adalah menjaga motivasi untuk “survive”, motivasi untuk bertahan dalam situasi buruk, yang tentu tidak mengenakkan.

Dengan motivasi untuk bertahan itulah, kita dapat mengendalikan diri yang mewujud dalam mengerahkan fokus pada pemberdayaan kemampuan pikiran dan hati. Situasi yang kepepet, yang mengharuskan kita berbuat lebih dari yang seharusnya, buatlah sebagai pendorong bahwa kita harus bisa berbuat; kita tidak harus dengan mudah menyerah. Kita harus tetap bisa bertahan lalu bertumbuh ke arah yang lebih baik lagi.

Bernard Marcus, pendiri The Home Depot, penjual ritel perkakas rumah tangga terbesar dan pencapaiannya paling mengagumkan, membuktikan bisa bertahan di saat kepepet. Bernard dipecat dari rantai toko perkakas lainnya.

Ketika pindah ke Atlanta untuk menjalankan rantai toko perkakas berdiskon, ia tidak punya banyak rekomendasi. Ia berusia 50 tahun. Ia bangkrut. Ia dibebani perkara hukum yang pelik. Namun, motivasi untuk “survive” mengantarnya kepada kesuksesan.

Motivasi untuk “survive” itu pun menular. Bernard menginspirasi para pegawainya, menanamkan apa yang ia dapatkan dari kegagalan terbesarnya, “Anda tidak dapat dihentikan oleh kegagalan. Menghadapi kegagalan sama pentingnya dengan menghadapi kesuksesan.”

Situasi sulit demi situasi sulit memang kerap kali membosankan dan memberatkan hati dan pikiran. Namun, ketika kita mampu bertahan, ketika kita mampu “survive” di saat kepepet itu, buah yang manis bisa kita petik. Kuncinya: jaga motivasi!

 

Berani Malu”

Kata “malu” biasanya dikaitkan dengan situasi negatif. Di saat gagal, misalnya, kita malu diketahui orang kalau kita sedang mengalaminya. Di saat hidup serbakekurangan, kita merasa malu, lalu menutupi diri agar tidak dilihat orang.

Dalam situasi kepepet, banyak hal malu yang perlu kita kendalikan karena memang kita sedang dalam situasi terdesak. Sangat manusiawi ketika kita menjadi malu karena sedang dalam posisi terjepit dan sangat mudah mengundang orang untuk meremehkan bahkan menghina kita.

Namun, apa pun itu, kita harus berani malu, dalam arti menghadapi situasi sulit itu dengan kekuatan diri sendiri. Kita berani menanggung malu, merasakannya hingga meresap ke dalam hati dan pikiran, lalu mendorongnya untuk melakukan tindakan yang lebih dari biasanya.

Berani malu, dalam hal ini, kita artikan sebagai berani mengakui apa pun yang sedang kita alami lalu mengubah pandangan orang lain atas situasi sulit yang kita hadapi, menjadi rasa kagum mereka karena kita bisa mengubah keadaan, mengubah situasi kepepet itu menjadi suatu proses menuju prestasi yang lebih baik lagi.

Suze Orman, penasihat finansial yang sukses, semula malu karena ia mengalami kegagalan. Ia berusaha menutupi rasa malunya itu, tidak mau orang lain tahu status keuangannya yang sebenarnya setelah gagal. Ia nekat mempertahankan gaya hidupnya, meskipun itu menghabiskan tabungan pensiunnya. Suze menuju kehancuran karena tindakannya menghambur-hamburkan uang, padahal ia sedang bangkrut.

Namun, akhirnya ia “berani malu”, mengakui keadaannya, bangkrut dan putus asa, lalu melakukan perjalanan spiritual, menggali meditasi dunia Timur dan mempelajari pengajaran para guru. “Pelan-pelan saya mulai berpikir bahwa semua yang terjadi pada diri saya adalah cara Tuhan untuk mengajari saya. Jika saya dapat melihat beberapa tahun ini sebagai karunia yang harus dipahami maksudnya, saya pikir, saya pasti menemukan cara agar termotivasi, bukannya berkecil hati, bersyukur alih-alih bersedih.”

Suze berjuang melunasi utangnya dan menasihati kliennya untuk tidak membeli barang-barang mahal dan potongan kartu kredit. Suze Orman yang semula bekerja di toko roti di di Berkeley itu akhirnya menjadi penasihat finansial mandiri dan membuka kantornya sendiri, Suze Orman Financial Group.

Seluruh nasihat finansialnya kemudian memiliki dasar spiritual, berdasarkan filosofinya: “Utamakan orang, uang merupakan hal kedua, barang yang ketiga.” Ia menuliskan pelajaran itu dalam bukunya, You Earned It, Don’t Lose It dan The Nine Steps to Finansial Freedom. Ia juga memfilmkan acara khususnya sendiri, menjadi tamu reguler di Oprah, dan menulis kolom di majalah. Kerajaan bisnis Suze Orman pun menghasilkan jutaan dolar dalam setahun.

Selalu ada yang bisa kita lakukan di saat kepepet, di saat kita merasakan malu yang luar biasa karena hidup kita yang sedang tidak biasa-biasa saja. Seperti Suze Orman, kita juga bisa mengubah kepahitan, rasa kepepet itu, menjadi keberhasilan. Asalkan kita mau bertindak, tidak mudah mengeluh, dan selalu tahu apa yang harus kita lakukan, maka kesuksesan bukanlah sekadar impian.

Nikmati Saja!

Kehidupan adalah universitas terbuka karena kita bisa belajar apa saja, seakan tak ada pintu yang menutupnya. Setiap hari adalah waktu terbaik untuk kita menyerap ilmu untuk bahan pemberdayaan pikiran dan pengolahan kepekaan hati. Dari hal positif maupun negatif, kita bisa lebih cerdas dan bijak dalam mengisi hidup. Oleh karena itu, nikmati saja setiap proses yang kita lalui, termasuk di saat kita sedang kepepet.

Di saat banyak keluhan bisa mengganggu jalan terbaik kita menjadi pemenang, di saat itu pula kita menyadari bahwa hidup kita sedang diuji dan pelaku ujian itu, adalah diri kita sendiri. Jika bisa lulus dalam ujian itu, berarti kita naik kelas, bukan? Menjadi lebih bijak, lebih tahu diri, dan lebih mengenal kelebihan dan kelemahan diri sendiri adalah hal-hal yang dapat kita capai dalam proses setiap hari.

Manajemen kepepet” sebenarnya hanya salah satu cara kita bisa menikmati hidup. Jadi, jangan takut, jangan menjadi pengecut, berbuatlah dan olah diri dengan lebih baik lagi. Anda pasti bisa! (Berbagai Sumber)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    3 Komentar :

    aril
    03 September 2013 - 19:03:13 WIB

    lagi galau pikirin motor yang udah menunggak pembayarannya
    ariel
    03 September 2013 - 19:06:13 WIB

    apakah betul the power of kepepet itu ada
    ariel
    03 September 2013 - 19:08:32 WIB

    tolong di bantu yahhhhhhhh................................................ ...... meskipun itu dengan do,a
    << First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 24 April 2014 00:00:00 WIB

    Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

    , 24 April 2014 00:00:00 WIB

    Sharon Stone Dilaporkan Stroke