Presiden Tetap Terima Penghargaan Appeal
Vidi Batlolone | Sabtu, 18 Mei 2013 - 12:43 WIB
: 1899


(dok/antara)
Presiden mempermalukan diri sendiri dengan menghindari tanggung jawab terhadap kasus kekerasan.

JAKARTA - Di tengah-tengah kritikan para aktivis kebebasan beragama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tetap akan menerima penghargaan “Negarawan Dunia” dari Appeal Of Conciense Foundation.

Sebagaimana diketahui penghargaan itu diberikan karena Presiden SBY dianggap berjasa dalam menjaga kerukunan umat beragama.

Staf Khusus Presiden Bidang Luar Negeri Teuku Faizasyah menyatakan presiden akan menerima penghargaan itu di New York, Amerika Serikat pada 30 Mei 2013. Tetapi, agenda utama presiden di New York bukan untuk menerima penghargaan, melainkan untuk hadir dalam High Level Panel mengenai Post 2015 Development Agenda.

Jadi, kunjungan beliau ke New York utamanya untuk menyampaikan laporan High Level Panel,” tutur Faizasyah.

Menanggapi kritikan sejumlah pihak yang menganggap presiden tak pantas mendapat penghargaan itu, menurut Teuku, itu adalah dinamika biasa dalam demokrasi. “Zaman sekarang siapa pun bisa menyampaikan kritik, saran atau apa pun itu,” tuturnya.

Namun, pemerintah melihat penghargaan itu diberikan oleh organisasi independen yang tidak terafiliasi kepentingan apa pun. “Mereka melakukan kajian dan penilaian yang tentu atas pertimbangan itu memutuskan presiden layak menerima award tersebut,” katanya.

Menurut Teuku, Presiden SBY melihat pemberian tersebut bersifat komprehensif. Bukan hanya presiden yang mendapat award, tetapi juga salah seorang pelaku bisnis. Penghargaan itu disebutkannya, diberikan secara utuh atas keberhasilan Presiden SBY menyejahterakan rakyat, membangun demokrasi dan menciptakan kondisi yang stabil di kawasan.

Beliau juga tercatat sebagai salah satu negarawan yang memajukan dialog antarperadaban dan kebudayaan. Jadi, kita melihat mereka menilai secara utuh dan tidak ada sesuatu yang perlu diragukan sebenarnya,” urainya.

Teuku mengatakan proses pemberian penghargaan sebenarnya sangat panjang. Prosesnya sudah dimulai September 2012. Menurutnya jika ada pihak yang mempertanyakan, seharusnya menanyakan kepada institusi pemberi penghargaan. Ini karena pemerintah atau Presiden SBY tidak melakukan proses apa pun untuk mendapatkan pengakuan tersebut.

Sebelumnya berbagai pihak menyatakan keberatan terhadap pemberian penghargaan terhadap SBY. Rohaniwan Frans Magnis Suseno bahkan menulis surat langsung yang ditujukan kepada Appeal Of Concience Foundation sebagai lembaga pemberi penghargaan.

Dalam surat itu Frans mempertanyakan pertimbangan yang digunakan dalam memberikan penghargaan tersebut. Frans membeberkan sejumlah fakta sulitnya pembangunan rumah ibadah, serta kekerasan yang dialami kaum minoritas.

Rencana itu (pemberian penghargaan) sangat memalukan dan mempermalukan diri Anda sendiri. Itu dapat mendiskreditkan klaim apa pun akan Anda buat sebagai institusi berlandaskan moralitas,” ujarnya.

Frans mengatakan selama 8,5 tahun menjabat presiden, SBY tidak pernah mengatakan sesuatu kepada rakyat Indonesia bahwa kaum radikal harus menghormati kaum minoritas. “Ia (SBY) telah mempermalukan diri sendiri dengan menghindari tanggung jawab terhadap meningkatnya kekerasan yang menimpa jemaah Ahmadiyah dan warga Syiah,” tuturnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



5 Komentar :

ortupertama
19 Mei 2013 - 17:51:14 WIB

Kasian Papua, presiden tidak perduli dengan nasib mereka di Papua karena sibuk dengan pujian dari Amerika. FREEPORT HARUS DIUSIR DARI PAPUA. Siapa yang memberi idzin menambang dibawah tanah??? NKRI TERGANGGU presiden harus bertanggung jawab. Oxford bisa juga ke NEW YORK!!!!!
ortupertama
19 Mei 2013 - 18:04:18 WIB

Kesatuan NKRI terganggu!!! Kasian orang Papua! WSemoga Tuhan melindungi mereka dan membuka jalan bagi mereka!!!
basuwi
19 Mei 2013 - 19:44:18 WIB

Orang luar banyak mengapresiasi prestasi Presiden SBY tapi bangsanya sendiri kurang menghargai. Hak asasi suruh niru Amirika tapi ketika lembaga independen di Amirika memberi penghargann kpd SBY dicap macem macem. Bangsa ini memang sedang dijangkiti penyakit hati: iri, dengki,fitnah,curiga dan paling benar sendiri sehingga sulit untuk menghargai bangsanya sendiri
Faizuddin Sanusi
20 Mei 2013 - 06:30:34 WIB

Maju terus pak SBY, langkah anda sudah betul, karena tidak meminta penghargaan, lembaga yang menilai dan memberi anugerah. Pak Magnis "mengeksploitasi" kasus Ahmadiyah untuk mendukung "kegeraman" beliau.
Sirait
24 Mei 2013 - 15:03:33 WIB

si sby ini emang keliatannya gila gelar kehormatan, sesuailah dengan citra yg hrs diperjuangkan walau hrs pasang muka badak.. beyeee beyee..
pendulum2 jg selalu memuja2 sibeye.. inilah tipikal pemimpin yg ga punya kaca.. dengar2 sibeye ini katanya org yg bijak.. tp knp masalah ini aja dia ga mampu mempertimbangakan dia layak atau tidak menerima.. beyee beyee
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh