Melawan Kekerasan dengan Lemah Lembut
Jessica Rezamonda | Jumat, 25 Mei 2012 - 15:51 WIB
: 146


(dok/antara)
Dalam hal ini, Garin memilih memperjuangkan keberagaman melalui melalui kreativitas dan dialog.

Keberadaan pihak penentang keberlangsungan film, konser, teater, dan segala jenis bentuk seni dengan alasan tertentu bukan hal baru di Indonesia. Masalahnya: bagaimana kita sebagai masyarakat meresponsnya? Apakah langsung ikut melakukan penolakan dengan penuh emosi, atau bisa memandangnya secara bijak?

Sebutlah film seperti ? ”(Tanda Tanya)” karya Hanung Bramantyo yang diprotes lantaran mendiskreditkan sosok Banser sehingga dinilai sesat oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam. Belum lagi film Mata Tertutup karya Garin Nugroho yang hampir dicekal karena mengangkat tema radikalisme agama.

Dari ranah musik, musikus Ahmad Dhani pun pernah mendapat perlakuan yang serupa. Konser yang seharusnya berlangsung di Cirebon, Jawa Barat (Jabar) dibatalkan lantaran salah satu juri Indonesia Idol itu dituduh sebagai penyebar ajaran Yahudi. Fakta terbaru adalah konser Lady Gaga yang masih menuai kontrovesi, dengan alasan pornografi hingga isu ajaran sesat yang dianut dan disebarkan sang biduan yang bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta itu.

Film Soegija besutan Garin yang bakal dirilis 7 Juni 2012 mendatang juga tak luput dari kontrovesi. Dengan mengangkat Mgr Soegijapranata dari umat Katolik yang merupakan sosok Uskup Agung pertama di Indonesia, sebagian pihak menilainya sebagai upaya mengkristenisasi masyarakat Indonesia. Berbagai pesan singkat yang menentang film ini langsung tersebar melalui pesan singkat telepon selular (SMS) dan media jejaring sosial.

Garin beserta pihak produksi tidak ingin ambil pusing dengan persoalan ini. Mereka justru menganggapnya sebagai promosi gratis. "Saya justru berterima kasih karena telah mengiklankan film ini dengan caranya masing-masing. Ada yang norak, ada yang naif, ya tidak masalah," ujar Garin dengan santai, saat jumpa pers film Soegija di Jakarta, Kamis (24/5) siang.

Ketika ditemui SH seusai acara itu, Garin mengatakan, ancaman datang tidak hanya dari jejaring sosial, melainkan banyak juga yang datang langsung secara pribadi melalui SMS. Dia mengatakan, setiap orang harus mempunyai pilihan dalam hidup. Garin memilih untuk melawan, berjuang demi keberagaman dengan cara yang lemah lembut, yaitu melalui kreativitas dan dialog.

"Saya memulai dari bangsa yang beragam maka saya harus melakukan perjuangan untuk keberagaman itu. Ketika terjadi ancaman-ancaman, sebagai warga kita harus menjaga nilai-nilai kita sendiri, kalau memang pemerintah itu lemah," katanya.

Lagi pula, ia melanjutkan, pihak-pihak yang mendiskriminasi sebuah karya seni hanyalah sebagian kecil masyarakat Indonesia. Mayoritas masyarakat sudah bisa berpikiran terbuka. Ia pun mengibaratkan situasi ini seperti halnya sebuah kelas, di mana selalu ada anak (seseorang) yang tidak bisa mengikuti proses belajar-mengajar dengan baik, sehingga akhirnya hanya membuat kekacauan di kelas. Menurutnya, hal itu tidak akan pernah hilang dan akan terjadi terus-menerus.

Kendati demikian, sutradara Daun di Atas Bantal itu menyayangkan aksi "pengadilan jalanan" yang kerap terjadi di Indonesia. Seharusnya, semua hal harus melalui jalur hukum, bukannya langsung melarang dan memberhentikan karya seni di tengah jalan, serta menurunkan semua posternya begitu saja. "Harusnya prosedur hukumlah. Kalau di pengadilan terbukti secara hukum, pidana maupun perdata, mengganggu masyarakat, kan bisa dituntut. Kalau tidak ada prosedur hukum, setiap orang boleh membubarkan, mengancam, dan negara ini pasti tidak akan pernah jadi negara yang dewasa dan bagus," ujarnya.

Ia menambahkan, hal ini terjadi karena pemerintahan yang lemah serta negara yang belum dewasa.

Aktual

Film Soegija bukanlah sebuah film biografi atau sejarah hidup pribadi Soegija, tidak pula menyorot kehidupan Soegija dalam persoalan agama. Namun, ini sebuah kisah tentang bagaimana Soegija memimpin bangsa di tengah krisis, dengan panduan kemanusian (humanisme) di tengah keberagaman dan kekerasan.

Kendati Soegija adalah tokoh yang hidup berpuluh tahun lalu, nilai-nilai yang diyakininya masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, meski dalam perspektif berbeda. Ia melakukan panduan nilai kepemimpinan lewat kunjungan warga, khotbah dan tulisan-tulisan. Beberapa tulisannya pun terasa aktual karena mampu menggambarkan kondisi bangsa saat ini.

Semisal, "Dalam masyarakat, masih terdapat fatalisme, fanatisme, chauvinisme, dan terlebih egoisme.... yang mengganggu kehidupan bermasyarakat." Atau ketika ia menulis, "Apa artinya menjadi bangsa merdeka jika kita gagal mendidik diri sendiri?"

Ada sekitar sembilan tokoh utama yang memiliki peranan besar dalam film ini. Sembilan orang itu pun mewakili sebuah keberagaman. Sebuah assemble multikultur, mulai dari Jawa, China, Belanda, hingga Jepang, yang menghasilkan keberagaman bahasa.

Kendati berlatar gejolak perang Asia Pasifik di era 1940–1950 dan berdurasi cukup panjang, yakni 115 menit, film ini tetap mampu menyuguhkan sesuatu yang sangat menarik. Kemasannya yang mengelola rasa kemanusiaan dan kebangsaan tidak mengurangi nilainya sebagai sebuah tontonan yang menghibur.

Adegan perang yang mengharukan, sesekali dicairkan berbagai dialog humoris, terutama antara Soegija dengan Toegimin, koster atau pembantu Uskup. Butet yang memerankan Toegimin mampu mengganti air mata haru yang menetes menjadi sebuah tawa yang segar. Belum lagi ditambah ulah lucu tokoh gerilyawan remaja buta huruf bernama Banteng.

Garin terlihat cukup total dalam menggarap film ini. Artistik dan musik adalah dua hal yang sangat menguatkan film ini. Seluruh adegan perang, drama, dan dan komedi berbaur dengan indah, dibalut senandung lagu-lagu tempo dulu. Penataan artistik serta kostumnya mampu meyakinkan penonton bahwa adegan-adegan itu terjadi di tahun 1940-an.

Detail-detail kecil tidak luput dari perhatian Allan Sebastian selaku penata artistiknya. Mulai dari interior, alat musik, situasi, dan arsitektur gereja sampai jalan-jalan di perkotaan. Sementara itu, Djaduk Ferianto dengan cerdik meletakkan lagu-lagu populer masa itu, tidak semata lagu kebangsaan, sehingga memberi ruang sosial kehidupan rakyat dan menggabungkannya dengan keindahan humanis musikal yang kuat.

Sepanjang SH menyaksikan film itu, tak ada satu pun kalimat yang mengarah pada sebuah dogma ajaran agama tertentu. Film ini berbicara tentang cinta kasih serta perjuangan dengan cara yang lemah lembut. Tak perlu melihat sosok Soegija dari statusnya sebagai Uskup Agung, perannya sebagai seorang tokoh pejuang yang menggabungkan kemampuan diplomasi diam-diam dengan ketegasanlah yang perlu diperhatikan.

Oleh karena itu, Garin berpesan, "Dengarlah (hal-hal) yang memang memberi keindahan kebangsaan. Yang tidak memberi keindahan keberagaman kebangsaan (isu-isu provokatif) anggaplah memang tidak perlu didengarkan. Dan tidak perlu takut dengan ancaman." (Ray Soemantoro)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh