Jeihan, Perempuan dan Filosofi Jawa
Nofanolo Zagoto | Sabtu, 26 Mei 2012 - 12:18 WIB
: 1616


(dok/SH)
Pelukis Jeihan Sukmantoro, pelukis yang cukup dikenal nama dan karyanya di jagat seni rupa Indonesia

Hanya butuh beberapa menit, selesailah sudah garis-garis sketsa yang membentuk figur manusia di atas kanvas itu. Sesekali Jeihan Sukmantoro (74), si pelukis, menghentikan gerak tangannya.

Dari balik kacamata yang dipakai Jeihan, tampak mata itu sangat serius mengamati seorang model yang duduk diam, tak jauh dari posisinya berdiri. Dia mengabadikan figur perempuan itu dengan caranya sendiri. Bola matanya dibuat hitam.

Figur manusia memang menjadi objek yang menarik bagi pelukis kelahiran 26 September 1938 tersebut. Objek Jeihan biasanya perempuan. Tak heran, Jacob Sumardjo dalam bukunya yang berjudul Jeihan: Ambang Waras dan Gila berani menyatakan jika sebagian besar lukisan Jeihan, sekurang-kurangnya 80 persen, adalah figur perempuan, baik dewasa, remaja, dan kanak-kanak. Dia juga menjelaskan, perempuan-perempuan dalam lukisan Jeihan kebanyakan ramping. Model pun dipilih bukan karena cantik, tetapi karena keunikannya.

Sosok perempuan memang dikatakan Jeihan merupakan sosok yang unik dan sangat memengaruhi karyanya selama puluhan tahun. “Karena kehidupan itu dimulai dari perempuan. Dari kaum ibu,” begitu katanya dalam sebuah diskusi yang berlangsung di bilangan Jakarta Pusat, kemarin. Diskusi digelar untuk menyambut pameran tunggal Jeihan bertajuk “The Soul of Art” pada 28-29 Mei 2012.

Pelukis berusia 74 tahun ini termasuk pelukis yang muncul dengan karakteristik yang khas. Jeihan selalu merampungkan tiap karya dengan tanda unik. Kerap didapati bola mata yang hitam pada tiap lukisan figural hasil goresannya. Warna hitam yang bila dipandang seolah ingin menunjukkan tatapan yang kosong, tetapi bisa mengandung makna kelam. Dapat juga mengamatinya sebagai mata hitam yang menyimpan misteri.

Jeihan punya alasan sendiri tentang mata hitam yang muncul pada tiap karya. Baginya mata hitam secara filosofi merupakan kegelapan misteri. Tanda itu juga sebagai manusia yang memakai softlens buat menahan cahaya matahari. Dia menyebutkan kegelapan pada mata hitam menjadi kegelapan melihat apa yang terjadi di masa depan.

Karakteristik

Bagi pelukis yang menetap di Bandung itu, setiap seniman sudah seharusnya membangun karakteristik pada tiap karyanya. Dan seniman Indonesia, tak hanya perupa, diamati Jeihan mempunyai kemudahan untuk mencapai tahap berkesenian itu. Apalagi bangsa Indonesia sebenarnya punya akar budaya yang kuat. “Sayang akar ini sering diabaikan,” katanya.

Jeihan merasakan banyak muncul karya di Indonesia yang justru dipengaruhi teori barat, padahal dilihatnya banyak ketidakcocokannya. Alhasil, karya muncul menjadi tanggung karena hasil cangkokan.

Kondisi itu disayangkannya sebab budaya lokal punya estetika yang menarik, seperti yang dilakukan Jeihan di kebanyakan karya miliknya yang terpengaruh falsafah Jawa. “Jadi, cangkok organ itu sama seperti cangkok budaya. Sama-sama bahaya dan berisiko tinggi,” ujar Jeihan yang sempat menjalani cangkok ginjal pada 2009 di Singapura.

Jeihan yang kini dikaruniai sembilan cucu tersebut menjelaskan jika berkesenian itu mengadakan, bukan mengada-ada. Seni baginya pun selalu berkaitan dengan spiritual. Karena dia percaya, jika pada awalnya seni muncul sebagai bentuk pujaan kepada Tuhan. Apa yang dirasakannya itulah yang menjadi alasan mengadakan pameran “The Soul of Art” di Jakarta.

Menjadi seorang pelukis sekarang ini, bagi pria yang mengecap pendidikan Seni Rupa ITB angkatan 1960 itu, dituntut harus bisa melukis baik dan berbicara dengan baik. Karena alasan itulah Jeihan berusaha buat menjaga mental dan spiritualnya. “Lagi pula bagi saya puncak seni itu puisi, puncak puisi adalah filsafat, dan puncak filsafat itu adalah sufi,” tuturnya. 

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Ada Rumah Joglo di Kebun Raya Arboretum

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Tiga Warga AS Dibunuh Polisi Kabul