Mi Instan Ada, Juara Instan Nanti Dulu
Kristanto Hartadi* | Selasa, 29 Mei 2012 - 14:22 WIB
: 1392


(dok/ist)
Bulu tangkis adalah cabang olahraga kebanggaan kita.

Apa yang bisa membuat kita bangga akan prestasi olahraga kita hari-hari ini? Kalau kepada saya pertanyaan itu diajukan, saya akan kesulitan menjawabnya. Sebab kalau dicermati, secara sporadis memang ada satu atau dua prestasi diraih para atlet kita, namun berita-berita kekalahan jauh lebih banyak dan bertebaran di mana-mana.

Misalnya, pekan lalu Tim Piala Thomas Cup Indonesia untuk pertama kalinya kandas di perempat final, padahal biasanya minimal mencapai ke final. Kalau untuk Tim Uber Cup, sudah lama selalu kandas di babak penyisihan atau paling jauh sampai perempat final.

Kepada mantan Kepala Bidang Bina Prestasi KONI, Wimbo Harjito Sulistyo, saya tanyakan mengapa demikian buruk situasi bulu tangkis kita, dia menjawab: “Pembibitan di cabang bulu tangkis juga sudah sangat berkurang, dan itu ekses kerusuhan Mei 1998, banyak atlet yang keturununan Tionghoa takut bergabung.” Kemudian dia memberikan penjelasan panjang lebar.

Bukan hanya proses pembibitan yang merosot, kualitas dan perilaku penonton pun makin liar dan tidak punya aturan. Minggu (27/5) malam lalu, tiga suporter Persija tewas dianiaya sesama suporter usai pertandingan Indonesia Super League (ISL) antara Persija (Jakarta) melawan Persib (Bandung) di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Siapa pembunuhnya belum diketahui, tapi insiden ini jelas sangat menyedihkan, karena cerminan dari amburadulnya dunia persepakbolaan Indonesia.

Cuma 17 Atlet

Menjelang pelaksanaan Olimpiade musim panas mendatang di London, Indonesia diperkirakan hanya bisa mengirimkan atlet tak lebih dari 17 atlet di tiga cabang (9 dari bulutangkis, 6 panahan, dan 1 anggar), kita gagal menenuhi kuota 29 atlet. Ketua Komite Olimpiade Indonesia Rita Subowo sudah mengakui kegagalan itu. Kenyataan ini sungguh pahit, karena dibanding sesama negara ASEAN lainnya kita jauh di bawah: Thailand mengirim 28 atlet, Malaysia 27 atlet, dan Vietnam 30 atlet.

Lalu apa artinya Indonesia menjadi juara umum SEA Games XXVI, November 2011 lalu? Padahal, untuk kemegahan pembukaan dan penutupannya menelan biaya lebih dari Rp 150 miliar, demi untuk menampilkan berbagai atraksi tari-tarian, tata lampu. Kemegahan itu sama sekali tak ada kaitannya dengan prestasi olahraganya, karena kuota 29 atlet pun tak terpenuhi.

Dalam sebuah percakapan dengan pemimpin event organizer (EO) yang menangangi upacara pembukaan dan penutupan SEA Games XXVI, saya katakan tidak ada gunanya acara "extravaganza" seperti itu, karena itu semua semu. Teman dari EO yang cukup terkenal itu cuma nyengir, mungkin dalam hatinya: emang gue pikirin mau berprestasi atau tidak, yang penting gue untung. Dan dia tidak salah.

Teman lainnya, yang menangani pengadaan tata lampu canggih di semua venue SEA Games XXVI di Jakabaring, kini sudah berganti mobil dengan sedan sport mewah terbaru buatan Jerman. Namun itu karena dia bekerja keras menjalankan kontrak kerjanya, bukan seperti Nazaruddin dan para politikus di DPR yang cuma memungut rente (baca: korupsi) dana pembangunan wisma atlet.

 

Tanpa Sasaran

Semakin jelas pembinaan olahraga kita salah kaprah. Kemegahan semu yang diprioritaskan dan ada dananya, itu mencerminkan situasi bangsa kita hari ini yang demam pencitraan. Semua mau serba cepat terkenal, melupakan pentingnya esensi.

Tak heran, untuk pemain sepak bola proses naturalisasi pemain asing di liga lokal bisa memakai jalur cepat. Masih ingat kisah para pahlawan bulu tangkis kita (yang sebagian besar keturunan Tionghoa seperti Susi Susanti) perlu bertahun-tahun menanti proses menjadi WNI. Padahal ketika itu Ketua PBSI adalah Try Sutrisno, sang wakil presiden. Dalam hal ini saya yakin Nurdin Halid memang lebih sakti.

“Pembinaan tidak ada, terbawa suasana Indonesia yang maunya jalan pintas. Olahraga adalah universal, di mana pembinaan hanya satu-satunya jalan,” kata Wimbo Sulistyo. Saya setuju itu; dan semakin percaya bila ada petinggi olahraga mengatakan “SEA Games adalah sasaran antara”, itu istilah untuk pembinaan yang tanpa sasaran. Ini karena prestasi di SEA Games bukanlah ukuran kemajuan olahraga kita.

Sungguh menyedihkan, negara seukuran Indonesia, yang bangga punya GDP US$ 1 triliun, masuk G-20, punya penduduk 240 juta, ternyata hanya mampu mengirimkan 17 atlet ke Olimpiade. Kalah dibanding sesama negara ASEAN atau negara-negara kecil seperti Jamaika, yang mengirim lebih dari 70 atlet. Di London nanti, bila disorot kamera TV, kontingen Indonesia hanya akan tampil kurang dari tiga detik, karena jumlahnya sangat sedikit, panjang barisannya mungkin kurang dari 3 meter. Jadi, bagaimana mau memperkenalkan Indonesia kepada dunia?

Kenyataan pahit itu harus membuat kita berpikir ulang mengenai strategi pembinaan olahraga. Juara dan atlet terbaik dan berbakat hanya akan muncul dari kompetisi dan sirkuit yang teratur dan sering mulai dari tingkat kabupaten/kota sampai tingkat nasional, yakni mulai dari kejuaraan daerah sampai ke kejuaraan nasional. Namun, hari ini kita sudah tidak mampu menggelar kejuaraan-kejuaraan yang bermutu.

Kemajuan suatu cabang olahraga sangat tergantung pada sistem pembinaannya, mencakup pembinaan sumber daya manusia (manajer, pelatih dan atlet), sumber dana, sumber alat, dan teknologi. Atlet berprestasi baru muncul dari program yang tersusun baik dari mulai usia dini, dan bukan dari program ad hoc.

Kegagalan membangun olahraga adalah cermin kegagalan membangun masyarakat yang punya jiwa sehat dan sportif. Padahal, saya selalu percaya moto dunia olahraga: mens sana in corpore sano, bahwa dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ternyata saya salah, ya? ***

*Penulis adalah redaktur senior di Sinar Harapan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Tarif Suara Rakyat di Pasar Pemilu

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Batasi Konglomerasi Industri Keuangan