Biaya Moneter BI Capai US$ 3,41 Miliar
Faisal Rachman | Rabu, 30 Mei 2012 - 13:30 WIB
: 392


(dok/ist)
Cadangan devisa BI yang berakhir April 2012 berada di kisaran US$ 113-114 miliar.

JAKARTA - Tertekannya rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini membuat Bank Indonesia (BI) harus bekerja ekstra keras. BI selama sebulan harus mengguyur dolar ke pasar sebesar US$ 3,41 miliar untuk menjaga likuiditas dolar.

Deputi Gubernur BI, Hartadi A Sarwono mengatakan, cadangan devisa BI yang per akhir April 2012 mencapai US$ 116,413 miliar saat ini berada di kisaran US$ 113-114 miliar. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan BI dalam kurun satu bulan terakhir untuk menjaga rupiah antara US$ 2,41-3,41 miliar.

"Untuk stabilisasi rupiah, kami menggunakan cadangan devisa. Jadi pasti berkurang, tapi bagi BI urusan biaya itu nomor dua," ujar Hartadi di Jakarta, Selasa (29/5).

Sayangnya, ia tak membeberkan secara khusus biaya yang terpakai sepekan terakhir tatkala rupiah tertekan hebat. Berdasarkan kurs tengah BI, rupiah menjadi Rp 9.425 dari Rp 9.310 per dolar AS akhir pekan lalu. Senin (28/5), rupiah kembali ditutup melemah tajam 110 poin (1,18 persen) ke 9.400/9.450.

Pada penutupan selasa kemarin, rupiah terperosok 1,3 persen ke level Rp 9.606 per dolar AS. Ini merupakan level terendah sejak 30 bulan terakhir atau tepatnya sejak November 2009. Jika dihitung, sepanjang bulan ini pun rupiah sudah jeblok 4,5 persen.

Asing tercatat banyak keluar dari aset domestik dan memilih memegang dolar AS. Tercatat, di bulan ini saja asing telah mengurangi kepemilikan di obligasi pemerintah sebesar Rp 3,9 triliun. Sementara itu, dana asing yang keluar dari pasar saham domestik mencapai US$ 676 juta.

Menurut Hartadi, pelemahan rupiah bukan lantaran kondisi fundamental perekonomian Indonesia, melainkan faktor sentimen negatif krisis di Eropa. Itu sebabnya pelemahan tak cuma dialami rupiah melainkan juga mata uang negara-negara tetangga.

"Yang penting sekarang kami akan menambah amunisi sebagai komplemen dari cadev yang sudah ada, yaitu term deposit valas," ujarnya.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengakui pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi belakangan ini, lebih disebabkan reaksi dunia terutama perkembangan bank rush di Eropa dan Amerika. "Pelemahan rupiah kemarin itu memang terjadi cukup tajam karena reaksi dunia atas terjadi bank rush di Eropa, yaitu Yunani dan Spanyol, serta adanya bank di Amerika yang membukukan kerugian," kata Agus.

BI menawarkan instrumen Term Deposite berdenominasi dolar AS untuk menyerap dana-dana valuta asing (valas) perbankan yang ditempatkan di pasar uang luar negeri. Perbankan dinilai kesulitan dalam mencari outlet agar dana-dana devisa hasil ekspor (DHE) yang ditempatkan dalam giro, tabungan, dan deposito tidak memberatkan neraca bank.

Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan, kendati DHE sudah masuk ke perbankan domestik tetapi perbankan ternyata masih kesulitan dalam mencari outlet agar DHE ini yang ditempatkan dalam giro, tabungan, dan deposito tidak akan memberatkan neraca bank. Ini akhirnya perbankan menempatkan pada pasar uang di luar negeri dengan bunga yang sangat rendah sekitar 0,1-0,2 persen.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Romantis dan Penuh Cinta ala Romance et LAmour

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

LKP PKTT Gelar Seminar Kesehatan Internasional