Penyelenggara Negara yang Minus Nurani
Ruhut Ambarita | Kamis, 26 September 2013 - 16:51 WIB
: 394


(SH/Septiawan.)
Ilustrasi.
Korupsi dan keserakahan menguasai perilaku elite.

Mungkin Anda belakangan ini sedang akrab dengan kata "Labil", yang mendadak populer setelah diucapkan seorang anak muda bernama Vicky Prasetyo. "Labil" hanyalah sepotong kata dari sekian kata yang disampaikan pria bernama asli Hendrianto itu, dalam jumpa pers bersama mantan pasangannya yang seorang penyanyi dangdut, Zaskia Gotik.

Sebagian warga perkotaan, usai menonton rekaman wawancara media infotainment dengan Vicky ketika menyampaikan bahasa "intelek"-nya itu yang diunggah kemudian di YouTube, banyak yang mendadak latah dilanda Vickynisasi. Namun, kita tidak akan membahas lebih jauh soal kekacauan Vicky dalam menggunakan bahasa berikut kelatahan masyarakat untuk menggunakannya.

Terlepas dari segala kekurangannya, sebagian kata yang diucapkan Vicky secara tidak langsung menggambarkan kondisi Republik akhir-akhir ini. Vicky sempat melontarkan kalimat "kontroversi hati". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kontroversi artinya perdebatan, persengketaan atau pertentangan, sedangkan hati yang dimaksud Vicky jelas bukan dalam arti sesungguhnya. Hati yang dituju lebih pada sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia, yang dianggap sebagai tempat untuk menyimpan perasaan batin. Meski kontroversi tidak khusus hanya untuk "hati", secara bebas, kontroversi hati yang disampaikan Vicky bisa diartikan adanya pertentangan batin.

Bila diartikan semacam itu, pertentangan batin sudah sejak lama melanda masyarakat terutama birokrat dan elite di Republik ini. Meski tidak banyak yang bisa dijadikan contoh, kita bisa melihatnya dari mantan politikus Partai Demokrat Theresia Ebenna Ezeria boru Pardede alias Tere.

"Beban menjadi wakil rakyat itu luar biasa," ujar Tere ketika mengumumkan pengunduran dirinya sebagai anggota DPR dan politikus Partai Demokrat, Mei 2012. Alasan Tere mengundurkan diri bisa dilihat sebagai pertentangan hatinya sebagai seorang politikus baru di parlemen.

Kontradiktif
Menurut Tere, situasi dan kondisi yang harus dihadapinya ketika menjadi seorang politikus bertentangan dengan ilmu yang ia terima ketika menjadi mahasiswa. Para pengajarnya di kampus menggambarkan perpolitikan yang ideal. Namun, pada kenyataannya, "Kontradiktif dengan apa yang saya dapat di kampus," kata Tere yang satu almamater dengan Angelina Sondakh, mantan politikus Partai Demokrat yang menjadi tersangka kasus korupsi.

Konspirasi kemakmuran, seperti yang disampaikan Vicky, pun nyata terjadi di Republik ini. Dalam kamus, konspirasi berarti persekongkolan oleh sejumlah orang yang bersekutu secara rahasia untuk melakukan kejahatan. Namun, apakah ungkapan kalimat yang disampaikan Vicky itu salah? Tidak juga.

Persekongkolan untuk mendapatkan kemakmuran telah berlangsung sejak lama di negeri ini. Elite Republik beramai-ramai merampas dan menghisap duit negara untuk memakmurkan dirinya sendiri, keluarga dan kelompoknya. Segelintir orang di eksekutif, legislatif, dan yudikatif terus berupaya menciptakan keadaan makmur hanya untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka.

Hitung saja, berapa banyak anggota DPR dan pejabat negara di pusat dan daerah yang telah dan akan menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi. Mulai dari suap pemilihan pejabat publik, korupsi pengadaan barang dan jasa hingga manipulasi bantuan untuk Bank Century.
Situasi dan kondisi Republik yang penuh kontroversi dan konspirasi semakin bertambah buruk akibat labilnya nurani punggawa negeri ini. Kelabilan punggawa negeri sering kali mengakibatkan tidak stabilnya kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.

Harga sembako melonjak naik, nilai tukar rupiah merosot. Tidak kokohnya tembok nurani pemimpin negeri ini juga telah mengakibatkan sebagian warga dihantui rasa cemas dan takut ketika menjalankan ibadah seperti yang dialami jemaah Islam Ahmadiyah dan GKI Yasmin atau HKBP Filadelpia.

Kontroversi hati, konspirasi kemakmuran dan labilnya para elite negeri ini hanya semakin mempertakut masyarakat. Ketidakpastian dan keserakahan para elite negeri ini sama saja telah mengudeta rakyat yang sudah tulus memberikan mandatnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

 Peringati Hari Bumi, Aktivis Gelindingkan Bola Bumi di Jalan

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Sekretaris KPU Bawa Pisau ke Rapat Pleno