FAO Mengatasi Pangan Global
Albertina S.C. | Jumat, 01 Juni 2012 - 17:29 WIB
: 267


(Anak kekurangan gizi di India./arogyashoodh.blogspot.com)
Pembangunan berkelanjutan hanya pepesan kosong ketika satu dari tujuh anak dunia kekurangan gizi.

MILAN – Dunia pangan berhadapan dengan dua kutub. Di sejumlah negara, banyak mulut yang sulit mendapatkan makanan dan bahkan nyari mati kelaparan. Di belahan dunia yang lain, makanan begitu melimpah hingga terbuang sia-sia.

Dunia dapat mengatasi masalah pangan dengan mengurangi produksi makanan dari perkiraan sebelumnya, berbalik pada pertanian berkelanjutan, mengurangi limbah makanan, dan berhenti makan berlebihan. Demikian laporan yang dikeluarkan Jose Graziano da Silva, Direktur Jenderal  FAO, Rabu (30/5).

Di sisi produksi, pertanian dan sistem pangan harus mengurangi dampak lingkungan negatif mereka. Termasuk masalah penipisan tanah dan kesulitan air serta emisi gas rumah kaca, kata laporan itu.

Dari sudut konsumsi, orang perlu mengurangi limbah makanan yang mencapai 1,3 miliar metrik ton (1.433 miliar ton) per tahun. Ini setara dengan sekitar sepertiga produksi pangan untuk konsumsi manusia dunia.

Jika pola konsumsi yang terjadi sekarang tidak disetop, dunia harus meningkatkan produksi pangan sebesar 60 persen untuk memenuhi kebutuhan makanan dunia yang populasinya diperkirakan mencapai angka 9 miliar pada 2050, dari sekitar 7 miliar penduduk sekarang.

"Untuk 'mengalahkan proyeksi' kita perlu membuat keputusan politik yang berani. Yang akan mempengaruhi pola pertumbuhan erubahan preferensi makanan, kadar sampah makanan, dan bagaimana produksi pertanian digunakan untuk tujuan nonmakanan," kata laporan itu.

Laporan berjudul “Towards the future we want: end hunger and make the transition to sustainable agricultural and food systems” ini dipersiapkan untuk menyambut Konferensi Pembangunan Berkelanjutan atau Rio+20 yang akan digelar di Brasil, 20-22 Juni mendatang.

Pembangunan berkelanjutan, kata Jose, tidak mungkin terjadi tanpa memberantas kelaparan di dunia. Saat ini, 900 juta mulut tidak cukup makan.

"Kami tidak bisa menyebut pembangunan berkelanjutan ketika masalah ini masih terjadi, ketika satu dari setiap tujuh perempuan dan anak-anak kekurangan gizi," kata dia.
Sumber : Reuters

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Miley Cyrus “Patah Hati”, Konser Dibatalkan

, 16 April 2014 00:00:00 WIB

Berakhir, Program Perdamaian World Bank di Aceh