Aksi Mogok Makan dan Perjuangan Tanpa Kekerasan
Dawoud Abu Lebdeh* | Sabtu, 02 Juni 2012 - 12:44 WIB
: 499


(dok/ist)
Perjuangan damai tanpa kekerasan dalam skala besar bisa menjadi satu bentuk perlawanan efektif.

Ketika tahanan Palestina, Khader Adnan, melakukan aksi mogok makan Desember lalu, ia pun memulai babak baru gerakan non-kekerasan Palestina. Aksinya pun berujung dengan keberhasilan ketika dua pekan lalu Israel menyetujui beberapa tuntutan penting para tahanan Palestina.

Aksi mogok makan Adnan selama 66 hari itu berakhir Februari lalu setelah para pejabat Israel sepakat membebaskannya pada bulan April. Tindakannya pun diikuti ratusan tahanan lain yang juga melakukan aksi mogok makan di berbagai penjara Israel untuk membuktikan bahwa aksi non-kekerasan dalam skala besar bisa lebih efektif daripada kekerasan.

Hana Shalabi, orang kedua yang melakukan aksi mogok makan, meminta pejabat penjara membebaskannya dan mendeportasinya ke Jalur Gaza. Tindakannya disusul oleh Bilal Diab dan Thaer Halahleh, yang melakukan aksi mogok makan selama 76 hari, memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang aktivis Irlandia Bobby Sands, yang meninggal di sebuah penjara Inggris setelah mogok makan selama 66 hari.

Pada April lalu, 1.600 tahanan Palestina di seantero Israel mengikuti langkah Diab dan Halahleh. Mereka berpuasa selama 28 hari dan baru menghentikan aksinya pada 14 Mei setelah para pejabat Israel berkompromi dengan tuntutan-tuntutan mereka, termasuk pembatasan pada kurungan seorang diri, izin belajar selama di penjara, dan hak dikunjungi bagi para tahanan dari Gaza, termasuk hak untuk bertemu secara fisik dengan keluarga mereka.

Aksi mogok makan terbuka termasuk cara perlawanan damai yang populer yang digunakan para tahanan politik untuk menuntut hak-hak yang diberikan konvensi-konvensi internasional bagi mereka.

Begitu aksi mogok makan dilakukan di berbagai penjara, perjuangan para pelaku aksi pun menjadi perhatian internasional, khususnya organisasi-organisasi HAM. Aksi-aksi duduk untuk mendukung para tahanan dilaksanakan di berbagai kampus di Eropa.

Di tingkat lokal, termasuk di Tepi Barat, Jalur Gaza dan di Israel, aksi mogok makan ini mendapat dukungan dari warga Palestina, yang memasang tenda-tenda di pusat-pusat kota dan desa, dan menggelar pawai untuk mendukung para tahanan.

Banyak pawai diarahkan ke Ofer, salah satu penjara penting di Tepi Barat. Di sana mereka harus menghadapi senjata-senjata pembubaran massa seperti gas air mata dan peluru karet, meskipun para demonstran menggelar demonstrasi secara damai.

Pilihan Penting

Tindakan non-kekerasan adalah pilihan penting bagi para pemimpin Palestina dan perjuangan mereka untuk membentuk negara Palestina.

Dalam pandangan mereka, penggunaan kekerasan akan merusak capaian-capaian dari proyek pembentukan negara Otoritas Palestina dalam menunjang perekonomian Palestina dan meletakkan infrastruktur bagi institusi-institusi politik sebuah negara. Selain itu, mereka memahami bahwa kekerasan juga akan merusak upaya-upaya menjalin hubungan internasional yang telah dilakukan orang Palestina dalam beberapa tahun terakhir.

Berbagai kampanye tanpa kekerasan di Tepi Barat juga telah membuahkan hasil. Desa Budrus, yang berjuang tanpa kekerasan selama bertahun-tahun untuk melawan rencana pembangunan tembok pemisah di atas tanahnya, berhasil memengaruhi para pejabat Israel untuk mengubah jalur tembok itu. Kampanye-kampanye serupa berlangsung di desa-desa lain di Tepi Barat, seperti Ni'lin, Bil'in dan Nabi Saleh.

Aksi mogok makan para tahanan, yang menyatukan para tahanan dari berbagai kelompok politik berbeda, telah menunjukkan kepada rakyat Palestina maupun komunitas internasional apa yang bisa dicapai dengan perjuangan tanpa menggunakan kekerasan.

Mungkin pelajaran terpenting yang bisa kita petik dari aksi mogok makan para tahanan ini adalah bahwa perjuangan damai tanpa kekerasan dalam skala besar bisa dikatakan salah satu bentuk perlawanan yang paling efektif.

Aksi ini secara jelas menunjukkan kebutuhan akan rencana kolektif bagi rakyat Palestina yang bisa diterima semua pihak dan perlunya berbagai faksi masyarakat Palestina bekerja sama untuk menerapkan rencana semacam itu. Aksi ini menunjukkan bahwa rakyat Palestina harus kembali turun ke jalan dan menuntut hak mereka mendirikan sebuah negara melalui perjuangan rakyat tanpa kekerasan.

Orang-orang Israel Yahudi yang menyaksikan perkembangan ini semestinya memahami bahwa perkembangan ini merepresentasikan sebuah pergeseran besar dalam masyarakat Palestina menuju keadaan tanpa kekerasan dan memandangnya sebagai sebuah peluang. Perjuangan tanpa kekerasan untuk mendirikan negara sendiri adalah langkah penting menuju solusi dua-negara yang akan menguntungkan kedua bangsa.

 

*Penulis ialah seorang warga Palestina yang tinggal di Jerusalem Timur. Ia adalah Manajer Program Center for Democracy and Non-Violence, dan salah satu pendiri Watan Student Movement di Hebrew University, Jerusalem. Ia menulis blog untuk Middle East Post. Artikel ini ditulis untuk Kantor Berita Common Ground (CGNews).

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh