Umat Beragama Kehilangan Visi
Wahyu Dramastuti | Senin, 04 Juni 2012 - 14:15 WIB
: 172


(dok/ist)
Habitus baru dalam berperilaku sangat diperlukan untuk mengelola bangsa.

JAKARTA - Gairah beragama yang tinggi tidak selalu memiliki pengertian setara dengan semangat beragama yang hakiki, yakni untuk mengubah cara hidup yang lebih manusiawi. Malah, sering umat beragama kehilangan visi dan perspektif hidup.

Umat beragama kehilangan kemampuan untuk mengambil jarak kritis dan kehilangan kemampuan untuk menjadi hening. Mereka juga kehilangan kemampuan untuk berkontak dengan Tuhan.

Inilah paradoks dalam kehidupan beragama saat ini. Kehidupan menjadi kontra produktif karena gairah beragama tak lagi menjadi bagian dari perubahan laku. Beragama dan ber-Tuhan dengan mengedepankan toleransi sering hanya bisa diucapkan melalui kata-kata,” tutur Sekretaris Dewan Nasional Setara Benny Susetyo, dalam sambutan tertulis yang dikirimkan kepada SH, Minggu (3/6).

Sambutan itu disampaikan dalam Seminar Dialog Kerukunan Umat Beragama Ende, Flores, 30 Mei–1 Juni 2012. Benny yang juga Sekretaris Komisi HAK–KWI (Konferensi Waligereja Indonesia) dan pemerhati sosial itu mengemukakan, perilaku kehidupan yang mementingkan keserakahan di satu sisi dan kesucian di sisi lain sering kali berseberangan secara ekstrem.

Keduanya saling mengklaim sebagai pembawa kebenaran satu-satunya. Bagi perkembangan kemanusiaan dan solidaritas, kedua pandangan ini sering berkontribusi negatif. Dari kenyataan ini, pemikiran progresif untuk memperbaiki bangsa ini sangat dibutuhkan. Revolusi kebudayaan dan cara pandang mengelola bangsa ini harus dimulai dengan menciptakan habitus baru dalam berperilaku.

“Negara harus mengambil langkah-langkah guna menyelamatkan kebinekaan dan janji kebangsaan yang tertuang dalam Pancasila dan Konstitusi Republik Indonesia,” kata Benny. Sudah saatnya empat pilar yang dikenalkan kembali oleh ketua MPR tidak hanya dijadikan slogan, tetapi dijadikan kebijakan politik untuk mencapai kesejahteraan, kemanusiaan, dan keadilan.

Empat pilar itu adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar itu merupakan hal mendasar dalam menata bangsa untuk dijadikan acuan hidup bersama.

Problem Pluralitas

Benny mengingatkan pula, masalah kebinekaan di Indonesia cukup krusial akhir-akhir ini. Masalah kebangsaan sering berhadapan dengan problem pluralitas yang semakin sulit dihargai. Akar kekerasan masih sering dipicu oleh hilangnya hal-hal yang dianggap sederhana dan sepele, seperti toleransi, kebersamaan, pluralisme, dan penghormatan nilai-nilai.

Akibatnya, berbagai kepentingan menyusup di balik sensitifnya hubungan agama di Indonesia. Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama antarpemeluknya masih menghadapi tantangan.

Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama, melainkan oleh kekuatan bersama, pandangan atas “agamaku” dan “keyakinanku” justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.

Oleh karena itu, dalam relasi antarumat beragama, dialog harus lahir dari hati nurani. Dialog harus tercipta sebagai sebuah cara untuk merasa, melihat, dan mengalami bahwa perbedaan agama bukan menjadi penghalang dalam membantu kesadaran persatuan dan persaudaraan sesama bangsa.

Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan pun dan di mana pun.

Sementara itu Eman J Embu SVD, Candraditya Research Centre, Maumere, yang juga Pendamping Ahli Komisi HAK Regio Nusa Tenggara mengemukakan banyak orang yang sadar ada masalah serius dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Tetapi militansi untuk bersuara dan berjuang sangat lemah. Banyak orang baik yang diam karena capek dan bosan sehingga menjadi the silent majority.

Menurutnya, pertemuan Ende ini menggarisbawahi hilangnya keteladanan di kalangan pemimpin berkontribusi pada kerusakan di banyak aspek kehidupan. Ini yang membedakan pemimpin sekarang dengan Soekarno, karena pemimpin punya jarak dengan warga, berjarak dengan umat. “Jadinya elitis dan koruptif. Tidak sungguh ambil bagian dalam penderitaan dan perjuangan warga, atau perjuangan umat,” ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



2 Komentar :

bungutama
07 Juni 2012 - 12:14:36 WIB

Agama mengajarkan bagaimana kita mengasihi Yang Maha Esa dengan mengerjakan perintahNya dan menjauhi laranganNya serta mengasihi sesama umat dan tidak menghakimi sesama dengan mengatasnamakan agama.
www.seruu.com
matawanita
07 Juni 2012 - 12:20:28 WIB

Para pemimpin umat agar mengajarkan umatnya dengan hati nurani yang benar sesuai dengan ajaranNya, apa yang salah dilakukan umat adalah lebih besar pertanggungjawabannya di hadapanNya.

www.matawanita.com
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN