Menjadi Manusia yang Manusiawi
Ahmad Ubaidillah* | Rabu, 06 Juni 2012 - 14:30 WIB
: 2319


(dok/ist)
Manusia pada dasarnya baik, lingkungan dan psikologis yang mempengaruhi dia berubah.

Dalam cacatan sejarah bangsa-bangsa di dunia, kekerasan sosial memang selalu mewarnai derap langkah perjalanan bangsa tersebut.

Realitas tindakan penganiayaan, perampokan, pemerkosaan, bahkan pembunuhan baik antar-individu maupun kelompok masyarakat turut menjadi bagian dari sejarah. Banyak hal yang memicu tindakan destruktif-anarkistis ini, di antaranya agama, keyakinan, ideologi, suku, dan bahasa.

Di Indonesia, kekerasan dengan berbagai bentuknya bisa kita temukan. Kita ambil contoh, di Yogyakarta. Sebagaimana diwartakan media massa, telah terjadi peristiwa tawuran yang melibatkan pemuda dari Indonesia Timur di depan Benteng Vredeburg pada Jumat (1/6) yang mengakibatkan dua kendaraan bermotor hangus terbakar.

Tragedi kekerasan ini jelas merusak tatanan kota Yogyakarta sebagai kota pelajar dan berbudaya. Masih banyak lagi kekerasan-kekerasan yang terjadi di daerah-daerah di Indonesia yang menujukkan eksistensi manusia yang tak lagi manusiawi.

Padahal, semua perilaku tidak manusiawi yang dilakukan manusia tersebut sering kali mendatangkan kerugian bagi manusia itu sendiri, baik secara material (misalnya hancurnya rumah, kendaraan atau fasilitas umum) maupun kerugian nonmaterial (misalnya hilangnya kerukunan, keharmonisan atau persudaraan).

Memang, sejak dulu, kehidupan damai manusia, termasuk manusia Indonesia, tidak henti-hentinya diusik manusia sendiri itu. Manusia terkadang suka meluluhlantakkan nilai-nilai kemanusiaan dan menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri. Manusia kerap kali bersikap melampaui fitrahnya sendiri dengan berbuat di luar kewajaran. Manusia pada dasarnya baik. Oleh karena itu, segala sesuatu yang tidak baik harus ditolak karena bertentangan dengan fitrah manusia itu sendiri.

Hal yang lebih menyedihkan, friksi antar-agama, suku, keyakinan atau golongan tertentu terkadang sengaja diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, bahkan aktor intelektual. Demi kepentingannya, mereka menjadi biang kerok setiap kekerasan yang terjadi.

Para perusuh yang membabi-buta di tengah masyarakat yang kemudian merusak tatanan kehidupan berbangsa dan negara sering kali adalah wayang-wayang yang dikendalikan sang dalang tertentu demi tujuan tertentu juga.

Hancurnya kehidupan damai dan sejahtera manusia tersebut tidak terlepas dari perilaku “bodoh” manusia itu sendiri, yaitu perilaku manusia tetapi tidak memahami nilai-nilai kemanusiaan. Padahal, setiap manusia cenderung memiliki sifat-sifat manusiawi yang bermuara pada hidup rukun dan damai.

Ini mungkin juga akibat dari budaya kekerasan yang ada dalam masyarakat kita yang tampaknya sengaja dikembangkan. Kalau perilaku seperti terus-menerus dipertahankan, besar kemungkinan yang muncul adalah peradaban yang dangkal dan rapuh. Di masa depan, boleh jadi bangsa ini akan kehilangan jati diri dan identitasnya sebagai bangsa yang ramah dan sopan santun. Apakah akibat buruk ini sudah kita renungkan baik-baik?

Inilah masyarakat kita yang sedang mengalami krisis kemanusiaan. Inilah realitas bangsa kita yang tengah mengalami kekosongan nilai-nilai humanisme. Kita harus sepakat bahwa segala bentuk tindakan kekerasan oleh siapa pun dan motif apa pun merupakan pelecehan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Kita sebagai manusia sudah semestinya berdiri dan bersatu dalam suatu resolusi serta berkomitmen untuk menyingkirkan semua kekejian dan kekejaman tersebut.

Maka di sinilah sikap humanisme yang dimaknai sebagai penjagaan harkat, martabat, dan nilai dari setiap manusia dan semua upaya untuk meningkatkan kemampuan alamaiah manusia secara penuh, harus diinternalisasikan ke dalam diri kita masing-masing. Setiap individu bangsa ini perlu membumikan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam jiwa-jiwa mereka.

Pendidikan Humanisme

Berbagai kasus kekerasan, penganiayaan, dan pembunuhan yang menggerogoti bangunan kebangsaan dan kenegaraan kita belakangan ini mengindikasikan bahwa pendidikan belum mampu berperan secara signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa kita yang punya jiwa manusiawi.

Kekerasan atas nama agama, suku, ideologi, kelompok, kepercayaan, dan seterusnya adalah masalah-masalah bangsa yang segera harus dipecahkan oleh kita semua sekaligus tugas bagi dunia pendidikan yang belum terselesaikan. Salah satu upaya strategisnya adalah dengan membangun paradigma pendidikan yang berwawasan kemanusiaan, yaitu pendidikan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan mengedepankan sikap toleransi terhadap segala bentuk perbedaan tersebut.

Upaya mewujudkan satu proses rehumanisasi melalui pendidikan menuju manusia Indonesia baru tidak mungkin bisa terlaksana tanpa adanya penguatan mulai dari pendidikan sejak dini. Di sini, konsep atau kurikulum, sejak pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, perlu mengandung fondasi-fondasi humanistik kepada peserta didik secara matang dan mantab agar nantinya manusia Indonesia ke depan memiliki karakter saling menghormati, toleran, dan bersikap pluralisme.

Selain itu, penanaman kembali nilai-nilai humanistik juga bisa ditempuh melalui peran tokoh agama, tokoh masyarakat, atau pemimpin bangsa sebagai panutan dan pembimbing umat manusia, khususnya manusia Indonesia. Mereka harus memainkan peranannya masing-masing dalam proses rehumanisasi dengan cara memberikan pengajaran serta keteladanan yang komprehensif tentang ajaran agama, budaya, adat istiadat, hukum dan sebagainya yang mengedepankan nilai-nilai humanisme.

Upaya rehumanisasi manusia Indonesia akan mencapai kesuksesan kalau seluruh anak bangsa bersinergi dan bersikap serius dalam mewujudkannya. Ini semua perlu dilakukan agar tatanan bangsa dan negara Indonesia yang kita huni ini nantinya diisi oleh manusia-manusia yang berjiwa manusiawi.

Akhirnya, demi mencetak sejarah peradaban bangsa yang unggul di masa mendatang, kita harus membangun kesadaran kolektif bahwa kemajuan peradaban bangsa Indonesia tidak akan pernah terwujud kalau anak-anak bangsa sebagai pembangun peradaban tidak mampu menghargai segala bentuk perbedaan. Kita perlu memupuk keyakinan bersama bahwa segala bentuk pluralitas di negeri ini akan mendatangkan kekayaan dan kebaikan bangsa kalau ditopang oleh sikap pluraliseme.

*Penulis adalah Mahasiswa pada Program Magister Studi Islam UII Yogyakarta.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

anthonyus gulo
24 November 2013 - 18:30:18 WIB

sungguh luar biasa
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh