Sejenak Nikmati Suasana Pedesaan Senaru
Nofanolo Zagoto | Sabtu, 09 Juni 2012 - 11:51 WIB
: 338


(SH/Nofanolo Zagoto)
Rumah-rumah di lingkungan pedesaan itu langsung menarik perhatian begitu kami tiba.

Amboi, perhatikanlah, bentuk bangunannya nyaris sama. Tiap dinding terbuat dari anyaman bambu, sementara bagian atapnya terbuat dari daun rumbia. Setidaknya ada 20 rumah tradisional suku Sasak di balik pagar itu dan tampaklah kehidupan di dalamnya. Lelaki separuh baya menyapa ramah begitu saya mendekatinya ketika bersantai di dipan, depan rumahnya.

Pria berusia 50-an tahun itu bernama Amaq Nuliajib. Cukup menarik melihat caranya berpakaian. Sapuk melilit di kepalanya dan Pegon membungkus bagian badannya. Kain berlapis menutupi bagian bawah kaki. Dari perbincangan dengannya, mengertilah saya jika si Amaq merupakan salah seorang tokoh adat di desa tradisional Senaru, Lombok Utara.

Namun, karena rasa penasaran yang besar untuk memasuki kampung itu lebih jauh, saya pun memilih tak berlama-lama duduk bersama Amaq di dipan tersebut. Begitu kaki melangkah, mata saya segera bisa menikmati jajaran rumah-rumah tradisional yang sengaja mereka buat berdampingan. Bentuk atap rumah-rumah sederhana tersebut juga dibuat dengan kemiringan yang sama.

Pemandangan menarik di perkampungan yang tak begitu luas itu membuat saya mulai berpikir untuk masuk dan melihat kondisi bagian dalam rumah mereka. Tak perlu menunggu lama, keinginan saya itu bisa terpenuhi. Seorang ibu bernama Becengen, yang sedang menggendong anaknya, tak keberatan jika saya masuk ke dalam rumahnya.

Selanjutnya, di hadapan saya terlihatlah pemandangan bagian dalam rumah si ibu yang nyaris tanpa sekat. Satu-satunya ruang hanyalah ruang tidur, yang mereka sebut Inanbale. Ruang yang dimaksud bukan ruang tidur biasa, tapi berupa ruang kecil tanpa pintu yang rasanya hanya pas untuk rebahan. Ruang tersebut letaknya di bagian atas, bersentuhan langsung dengan bagian atap, sehingga diperlukan tangga untuk masuk ke dalamnya.

Rumah ibu itu, sedikit pengap dan dibiarkan remang-remang mengandalkan satu penerangan dari bohlam menyala. Lantainya pun masih beralaskan tanah dan saya menebak-nebak mungkin seperti lantai rumah lainnya. Tapi bagaimanapun rumah-rumah itu memakai fondasi batu alam, sehingga tetap tampak kokoh.

Ekowisata

Desa Senaru terletak di sekitar kaki Gunung Rinjani. Malah posisinya sekitar pintu masuk jalur pendakian Senaru, Gunung Rinjani. Tak heranlah jika Desa Senaru dihadirkan menjadi bagian dari wisata berbasis masyarakat, Ekowisata Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Masyarakat suku Sasak di Desa Senaru pun banyak yang mendapat penghasilan tambahan sebagai porter, di samping kegiatan mereka sehari-hari sebagai petani.

Suasana tradisional yang dijanjikan di Desa Senaru memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang berkunjung ke daerah jalur pendakian ini. Malah penduduk setempat cukup sering kedatangan wisatawan yang ingin menginap, terutama ketika masyarakat lokal melangsungkan kegiatan adat.

Ada juga yang sengaja sampai menginap berhari-hari, demi mengetahui bagaimana kehidupan mereka. “Kadang ada juga yang mau ikut kami mencari rumput,” kata Nawasim, salah seorang penduduk lokal.

Namun, Desa Senaru bukanlah satu-satunya wisata yang ditawarkan TNGR di jalur pendakian Senaru. Selain tentunya pendakian ke puncak Gunung Rinjani, lokasi ini juga menawarkan wisata mengunjungi Masjid kuno Bayan. Masjid bergaya tradisional tersebut dipercaya merupakan masjid pertama yang ada di Pulau Lombok. Selain itu, Budi Susmardi, Kepala Resor Senaru TNGR, mengatakan para pengunjung juga bisa menikmati pesona alam dari air terjun Sedang Gile dan air terjun Tiu Kelep.

Dari Mataram menuju Desa Senaru, dibutuhkan perjalanan selama sekitar tiga jam. Namun, karena kami berangkat dari Desa Santong, Lombok Barat, perjalanan cukup ditempuh selama satu jam. Sehari sebelumnya kami sengaja menginap di Desa Santong demi menyaksikan kehidupan masyarakat tepian hutan secara langsung. Istirahat kami di sana rasanya terlengkapi oleh udara Desa Santong, yang namanya berarti bambu itu, yang sejuk.

 

Kerajinan dan Pesona Alam

Cukup mudah untuk menemukan lokasi wisata di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya pantai dan Gili yang ada di sekeliling Lombok serta kehidupan masyarakat tradisional setempat yang memesona. Ada sejumlah pemandangan dan pengalaman menarik lain yang mudah ditangkap mata; seperti pengalaman yang juga kami nikmati sepanjang perjalanan di Lombok.

Selain mengunjungi Desa Senaru dan Desa Santong, kami juga menyempatkan mengunjungi Desa Karang Bayan. Di situlah kami menemui salah satu kelompok masyarakat yang membuat anyaman ketak yang menggunakan bahan pakis hutan. Mereka juga beternak lebah trigona. Beberapa di antara kami pun akhirnya tertarik membeli madu yang sudah mereka panen.

Kami juga sengaja melintasi jalur hutan Pusuk. Di tempat itu bisa dilihat kera-kera yang muncul di pinggir jalan. Di lain hari, perjalanan kami menyisir pantai. Kami sempat menikmati bagaimana indahnya Pantai Nipah. Pantai itu letaknya tak jauh dari Pantai Senggigi, pantai yang ramai wisatawan dan bisa ditemukan dengan mudah penginapan dan tempat hiburan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Jokowi Siapkan Tim Pembela Hukum

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Koalisi Demokrat Terbebani Konvensi Capres