Teeuw, Sastra, dan Cinta
Nofanolo Zagoto | Rabu, 13 Juni 2012 - 15:02 WIB
: 713


(dok/ist)
Teeuw akan selalu menempati posisi istimewa di kalangan publik sastra Indonesia.

Andries Teeuw, pria Belanda yang sangat mencintai sastra Indonesia, pergi ke Garut, suatu hari di masa yang jauh dan Yus Rusyana masih mengenangnya. Yus adalah satu dari 13 mahasiswa pertama Indonesia pada periode 1971-1973, yang terpilih untuk menimba ilmu di Universitas Leiden, tempat Teeuw mengajar.

“Waktu itu tak tega mengajaknya sampai masuk ke kampung saya di Garut yang jaraknya jauh,” kenangnya.

Sampai kini yang paling dikenang Yus memanglah perhatian Teeuw yang mendalam kepada sesama. Pada satu kesempatan datang ke Indonesia, Teeuw mengunjunginya.

Yus masih ingat betul, sang gurulah yang justru mengungkapkan ketertarikannya untuk mengunjungi kampung halaman Yus di Garut, malahan sampai mengunjungi tempat Yus bersekolah dulu di Garut. Yus menceritakan pengalamannya itu saat acara “Mengenang A Teeuw” di Teater Salihara, Selasa (12/6) malam.

Tanggal 18 Mei lalu, pria asal Belanda itu meninggal dunia di usia 90 tahun. Sumbangan guru besar bahasa dan sastra Melayu/Indonesia, yang juga ahli filologi Nusantara Universitas Leiden Belanda ini sungguh besar bagi kajian bahasa dan sastra Indonesia lewat berbagai tulisannya, mulai dari uraian teori hingga ulasan karya sastra.

Sebutlah beberapa buku Indonesianis itu; Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Modern (1952), Tergantung pada Kata (1980), Sastra Baru Indonesia (1980), Membaca dan Menilai Sastra (1983), Sastra dan Ilmu Sastra (1984), dan Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan (1994). Sampai kini karyanya itu telah banyak memberikan penerangan bagi para pembaca sastra Indonesia.

Achadiati, guru besar sastra Universitas Indonesia, mengatakan sampai akhir hayatnya, ada 234 tulisan ilmiah Teeuw, yang 17 di antaranya berupa buku. “Tetapi saat sudah pensiun saja dia masih aktif menulis. Saat bertemu dengannya sebelum meninggal, dia mengaku masih berencana menyusun buku lagi,” kata Achadiati menceritakan pengalamannya saat mengunjungi Teeuw, Agustus tahun lalu.

Teeuw mulai mengenal Indonesia saat usianya 17 tahun. Achadiati mengatakan, itu di saat ia mendapatkan kesempatan untuk mendalami studi tentang bahasa Indonesia. “Padahal ketertarikan awalnya pada bahasa klasik Eropa, tetapi saat ada kesempatan dia justru mengambil bahasa Indonesia,” jelas Achadiati.

Kecintaan terhadap sastra Jawa kuno-lah yang membuat Teeuw selalu kembali. Diperkirakan Achadiati, ketertarikan Teeuw terhadap sastra Jawa kuno karena ia mengamati penelitian di wilayah itu belum terpetakan sehingga bisa menemukan sesuatu yang baru. Tetapi pada akhirnya minatnya pun sampai kepada wilayah sastra modern.

Sapardi Djoko Darmono melihat, walaupun Teeuw bukan satu-satunya pemerhati asing yang berusaha memahami dan meneliti sastra Indonesia modern, ia menempati kedudukan istimewa. Dalam catatan makalahnya, Sapardi mengatakan kedudukan itu dapat terjadi karena minat Teeuw yang luas dan pergaulannya.

Teeuw dikenal akrab dengan sastrawan maupun peneliti Indonesia. Namun Sapardi mengaku cukup sulit membuat garis tegas menyoal pandangan Teeuw dengan “Paus Sastra Indonesia”, yakni HB Jassin, yang juga dikenal Teeuw, tentang karya sastra modern pada masa itu.

“Teeuw tidak pernah menceritakan ‘cakar-cakaran’ di Indonesia. Dia menulis lurus, lebih tertib karena memang tetap merasa orang luar. Agak berbeda dibandingkan Jassin yang memang orang Indonesia,” ungkap Sapardi.

Pengaruh Teeuw terhadap karya sastra Indonesia, dijelaskan Sapardi, sangat terasa, ketika 1970-an Teeuw kembali di kampus-kampus Tanah Air.

Sapardi mencermati Teeuw memunculkan keyakinan akan keutamaan teori dalam penelahaan sastra. Tetapi ujungnya, Sapardi mengamati ada kecenderungan salah tafsir di kalangan akademikus, yang justru perlahan menyingkirkan karya sastra dari perhatian utama pendidikan.

“Situasi yang bisa saja mengubah jurusan Sastra menjadi jurusan Kritik Sastra,” jelas Sapardi. Ia mengatakan, dalam buku kumpulan karangannya yang berjudul Indonesia: Antara Kelisanan dan Keberaksaraan (1994), Teeuw juga coba berbicara tentang dirinya yang seolah berada di dua dunia selama di Indonesia.

Sikap Teeuw terhadap sastra Indonesia itu sempat tergambar dalam sebuah esai Teeuw yang juga sempat dibacakan Ayu Utami malam itu: “Dunia ilmu sastra Indonesia nampaknya adalah dunia seminar, lokakarya, workshop. Singkatnya dunia kelisanan…”.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Kepanikan Warnai Keputusan Evakuasi Penumpang

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Uji Nyali dengan Pijat Ular