Ciptakan Taman Ramah Lingkungan
Fredy Dwi Prakoso | Kamis, 14 Juni 2012 - 13:31 WIB
: 919


(dok/SH)
Sebagai warga perkotaan, kita bisa proaktif turut mencegah pemanasan global.

Luas ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta sekitar 9,4%. Jumlah ini masih sangat minim dibandingkan dengan syarat standar RTH perkotaan yang adalah sebesar 30%.

Sudahkah Anda memiliki taman? Bila sudah, apakah taman di rumah Anda ramah lingkungan?

Sebuah taman bisa dikatakan ramah lingkungan bila keberadaannya mampu berfungsi optimal, baik dari segi estetika, ekologis, ekonomis, maupun sosial. Dosen perencanaan kota Jurusan Planologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Putu Rudi, mengatakan, taman pada dasarnya adalah bagian dari RTH.

Selain memiliki berbagai fungsi seperti estetika, ekologis, ekonomis, dan sosial, tujuan pembuatan taman umumnya juga karena fungsi aktif dan pasifnya.

Fungsi aktif berarti bila kita dapat menggunakan taman sebagai sarana berinteraksi langsung dengan komponen-komponen di dalamnya. Sedangkan fungsi pasif adalah bila keindahan taman itu bisa kita nikmati tanpa menyentuh atau bersinggungan dengan komponen-komponennya.

“Misalnya, kita bisa menikmati keindahan taman walaupun kita sedang berada di luar pagar taman itu,” tutur Putu.

Menurut Putu, taman bisa berfungsi aktif sekaligus pasif, tergantung skala dan tujuan pembuatannya. Jika skala besar, umumnya taman juga bisa berfungsi pasif. “Misalnya taman di Monas, Jakarta. Taman bisa dinikmati keindahannya dari jauh, tanpa harus memasuki kawasannya,” lanjut Putu.

Ramah Lingkungan

Konsep taman ramah lingkungan tentu juga bisa diterapkan pada skala kecil untuk rumah-rumah di perkotaan. Bila menekankan pada fungsi ekologis, menurut Putu taman prinsipnya bisa digunakan lebih pada fungsi ekologisnya ketimbang fungsi lainnya.

“Fungsi ekologis bisa lebih banyak. Misalnya, alokasi 99 persen lahan untuk vegetasi bisa untuk menyediakan O2 sekaligus buah untuk dikonsumsi,” tutur Putu.

Dosen Arsitektur Lansekap Trisakti Sumiantono Raharjo mengatakan hal senada. Menurutnya, taman selain merupakan pendukung estetika bangunan, juga berfungsi penuh terhadap lingkungan sekitar.

“Indonesia yang beriklim tropis tentu membutuhkan taman yang dapat menyerap panas dan air hujan dengan baik. Selain menjadi 'paru-paru' kota, taman juga dapat menjadi 'paru-paru' bagi si penghuni rumah,” tutur Sumiantono.

Taman bisa dikatakan ramah lingkungan bila tidak menghabiskan banyak sumber daya alam dan energi, seperti air untuk kolam, dan energi listrik untuk lampu-lampunya,” lanjut Sumiantono.

Perkembangan Vertikal

Perkembangan bangunan perumahan di perkotaan saat ini cenderung vertikal. Kenyataan inilah yang menurut Putu menjadi alasan bahwa pemanfaatan lahan dan ruang harus kian efektif. Begitu juga pendapat Rudwi, seorang arsitek yang sedang belajar mengenai urban desain di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Menurutnya, pendekatan baru di dunia arsitektur yang penting diapresiasi adalah perlunya mengembalikan yang kita ambil dari lingkungan saat kita mendirikan suatu bangunan. “Caranya, sebagian lahan bisa kita alokasikan untuk RTH atau taman,” tutur Rudwi.

Menurutnya, untuk membuat taman yang ramah lingkungan, kita bisa menyiasatinya dengan beberapa cara. “Gunakan taman gantung, pot-pot kecil, yang bisa diselang-seling agar terlihat cantik,” sarannya.

“Pot-pot dan frame untuk menaruh pot bisa kita buat dari bahan daur ulang. Pot misalnya bisa kita buat dari kaleng dan wadah bekas. Selain murah, cara ini ramah lingkungan,” tambahnya.(Wheny Hari Muljati)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Bayern Fokus Hadapi Eintracht Braunschweig

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Beberapa Mayat Ditemukan di Ferry Korsel