Dongeng yang Sarat Moral dan Budaya
Jessica Rezamonda | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:03 WIB
: 156


(SH/Muniroh)
Perhelatan SMSH bukan sekadar drama musikal, melainkan sebuah saluran pengajaran sosial.

Suara nan merdu terdengar kala para Peri Jingga (Be 3) memasuki panggung Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (14/6).

Sebuah lagu bernada riang pun terlantunkan. Ketika tirai terbuka, tampaklah pemandangan taman yang indah dan penuh warna, di mana para serangga sedang asyik bercengkrama.

Mereka pun segera ikut bernyanyi bersama para peri. Ruang pertunjukan menjadi semakin meriah kala serombongan anak berkostum semut berbaris masuk dari segala penjuru ruangan, menghampiri para penonton sambil mendendangkan kata "mut mut mut" berulang kali, yang berarti salam, sayang, atau rindu.

Selanjutnya, mereka naik ke atas panggung untuk bernyanyi bersama serangga lainnya seperti kupu-kupu, ulat, kepik, dan lebah. Panggung pun menjadi sangat meriah pemandangan warna-warni, kostum unik, serta keceriaan lagu bertajuk “Atta La Liyu” (I Love You/Aku Cinta Kamu) tersebut. Nyanyian mereka pun disambut tepuk tangan antusias dari para penonton yang mayoritas anak-anak.

Dari bagian pembukanya, drama musikal “Semut Merah Semut Hitam” (SMSH) karya Titiek Puspa itu sudah memberi sinyal kepada para penonton bahwa mereka akan disuguhkan sebuah dongeng dari negeri para semut, yang kaya warna dan sarat akan budaya serta pesan moral, juga dikemas dalam balutan musikal, selama kurang lebih tiga jam ke depan.

Unsur budaya Indonesia dapat ditemukan, salah satunya pada kostum para pemain yang menggunakan kain tradisional khas daerah-daerah Indonesia, seperti songket dan batik, serta kain-kain dari Palembang, Bali, dan Makassar. Beberapa adegan turut menampilkan nyanyian daerah, sementara para semut pun terbagi menjadi tiga kelompok yang mewakili tiga kawasan Indonesia.

Semut merah untuk Indonesia bagian barat, semut jingga mewakili bagian tengah, sementara semut hitam adalah bagian timur Indonesia. Oleh karena itu, para pemain pun hampir selalu berdialog dalam logat masing-masing daerahnya. Ada yang berlogat Padang, Jawa, Betawi, Madura, Bali, ataupun Maluku.

Logat-logat khas itu juga yang kerap memancing tawa penonton. Adapun warna-warni didapatkan selain dari kostum, juga dari penataan panggung yang apik dan dekorasi penuh warna karya Ari Tulang dan Hardiman. Pergantian properti panggung terasa sangat mulus sehingga tidak menghambat cerita, dan justru memukau para penonton cilik.

Yang tak ketinggalan tentu adalah nilai moral yang terkandung dalam ceritanya. Keseluruhan cerita sangat sederhana, namun mengena dan sangat mudah dimengerti anak-anak. SMSH berbicara tentang persahabatan, kerja sama, kejujuran, saling memaafkan, dan cinta kasih antara dua insan "semut", yaitu Putri Semut Merah dan Pangeran Semut Hitam.

Konsep musikalnya sangat memesona karena dimainkannya musik-musik gubahan Dian HP yang sangat meriah disertai kemampuan vokal para pemainnya yang mumpuni. Para bintang yang terlibat di dalamnya memberi warna tersendiri pada pergelaran ini.

Sebut saja Candil dengan genre rock-nya, Camelia Malik dengan cengkok Melayu, serta Mitha "Mamamia" yang bernuansa jaz. Sementara itu, Be 3, Sita Nursanti, Dea Mirela, dan beberapa pemain lainnya mampu membawa "aura opera" ke atas panggung. Para pemain lain yang merupakan hasil audisi juga memberikan performa vokal yang baik.

Dari seluruh pemain yang terlibat, mungkin hanya ada empat orang yang tidak menunjukkan kemampuan bernyanyi dengan baik, yaitu Ivan Gunawan, Ari Tulang, Tieke Priatnakusuma, dan Inggrid Widjarnako. Bukan karena tidak bisa bernyanyi, tetapi lebih karena peran mereka yang lebih menuntut akting lucu untuk mencairkan suasana.

Cat Woman

Kali ini, Ivan Gunawan yang berperan sebagai Semut Bertopeng-lah yang paling mencuri perhatian penonton. Kemunculannya yang tiba-tiba selalu membuat penonton tertawa. Ivan memang terlihat cukup menguasai perannya dengan baik. Dalam balutan kostum hitam metalik rancangannya sendiri, ia melakukan gerakan-gerakan layaknya Cat Woman.

Sesekali ia berimprovisasi dalam dialognya, untuk memancing perhatian penonton. Sebuah awal yang baik bagi perancang busana yang baru kali ini bermain dalam sebuah pertunjukan teater. Ivan memang sangat antusias dalam pergelaran ini. Tak hanya terlibat dalam peran, ia pun turut membuat kostum para pemain, bersama perancang Musa Widyatmodjo serta Hengky Kawilarang.

Titiek Puspa merasa sangat bahagia karena karyanya tersebut didukung banyak pihak. "Senang rasanya semua bisa berjalan dengan baik. Ini adalah kerja sama yang luar biasa dan yang menolong itu banyak sekali.

Karena jujur, mencari sponsor itu sangat sulit," kata perempuan yang hampir berusia 75 tahun itu. Drama musikal ini digelar selama tiga hari berturut-turut di Teater Jakarta, Taman Ismail Maruki (TIM), Jakarta, mulai 15 Juni (khusus undangan) sampai 17 Juni.

Akan ada dua kali pertunjukan di setiap harinya pada pukul 16.00 dan 20.00 WIB, yang masing-masing berdurasi dua jam. Tiket dapat diperoleh dengan harga mulai dari Rp 250.000 sampai Rp 1.000.000.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Jokowi Siapkan Tim Pembela Hukum

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Koalisi Demokrat Terbebani Konvensi Capres