Menempa Mental Baja
Herry Prasetyo | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:15 WIB
: 1755


(dok/ist)
Tidak hanya fisik namun juga mental kuat yang dibutuhkan seorang pekerja.

Menjadi karyawan adalah pilihan sebagian besar orang untuk menghidupi diri dan keluarganya. Apalagi di kota besar. Tentunya banyak yang merasa didikte untuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan swasta atau negeri.

Iming-imingnya tentu keberlangsungan penghasilan dan berbagai tunjangan. Untuk itu tak heran jenis pekerjaan ini dianggap paling aman dan tak banyak yang dipertaruhkan. Setidaknya itulah anggapan umum yang muncul ketika membicarakan jenis pekerjaan ini.

Oleh karena itu, tak mengejutkan bila banyak karyawan yang hidupnya terasa monoton dan tak berkembang kariernya. Kebanyakan mereka seperti itu karena tak tahu cara memosisikan dirinya dalam bekerja.

Cari aman saja, istilahnya begitu. Ini karena bagi mereka, keluar dari zona kenyamanan berarti memasuki rimba ketidakpastian. Ketidakpastian finansial adalah masalah berat bagi penduduk kota seperti kita ini.

Sebenarnya tak ada salahnya kita memilih menjadi karyawan, itu hanya soal pilihan. Namun, bukan berarti kita boleh merasa aman dengan pekerjaan tetap yang kita punya dan melupakan kesempatan mengembangkan diri. Mengembangkan diri di sini bukan berarti mengejar jabatan dan menghalalkan bermacam cara.

Kenaikan jabatan adalah dampak ikutan yang kita cari. Tujuan utamanya adalah mengembangkan segala aspek dalam diri kita sendiri. Kemampuan bersosialisasi, keterampilan dalam bidang pekerjaan, pengaturan waktu, itulah di antaranya yang perlu kita kembangkan.

Lalu bagaimana kita memulainya? Cara sederhananya, bacalah buku! Begitu banyak buku-buku bertebaran di luar sana yang membicarakan pengembangan diri. Lebih spesifiknya lagi, bacalah buku tentang cara mengembangkan diri sebagai karyawan.

Dan kebetulan saya mendapatkan buku yang cocok untuk itu. Judulnya adalah Kiat Menjadi Karyawan Bermental Baja. Sedikit banyak buku ini memberi pelajaran bagaimana cara menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi seorang karyawan.

Buku ini lebih menekankan cara menghadapi permasalahan dengan mengubah diri sendiri. Kita akan sedikit menemukan contoh masalah dan cara menghadapinya secara langkah per langkah. Yang lebih ditekankan di sini adalah pengembangan diri agar masalah yang ada akan menjadi lebih ringan.

Istilahnya bila kita dapat melatih otot supaya kuat, tentu kita juga dapat melakukannya pada mental kita. Mental yang sering dilatih tentu akan menjadi lebih kuat dalam menghadapi berbagai beban persoalan. Masalahnya, banyak dari kita yang tak tahu sama sekali bagaimana cara memulainya.

Untuk itu, buku ini dapat memberi petunjuk. Namun, sekali lagi, tidak secara langkah per langkah. Buku ini mendedahkan beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menempa mental seorang karyawan.

Secara garis besar cara yang ada adalah memanfaatkan lingkungan pekerjaan (dalam arti positif). Satu di antaranya adalah mengembangkan kreativitas. Menurut buku ini, kreativitas harus dimiliki seorang karyawan yang ingin berkembang mental dan kariernya. Kita tentu akan dihargai karena ide dan prestasi kita yang cemerlang.

Karyawan yang menginginkan penghargaan namun tak berbuat lebih, hanya akan menjadi beban bagi dirinya sendiri dan orang lain. Tak ada kata lain yang cocok untuk orang seperti itu kecuali: “bebal”.

Kelebihan dalam buku ini pula, penulisnya banyak menggunakan kiasan yang mempermudah pemahaman kita dalam menyerap maknanya. Misalnya, kita diharuskan belajar dari karyawan yang suka “ngemil”. Ini tentu akan membingungkan awalnya, namun seiring kita membaca, maksudnya akan semakin jelas.

Maksudnya, kita harus belajar dengan filosofi “ngemil”. Kita mesti belajar dengan memilih-milih apa yang perlu dipelajari, seperti kita memilih camilan. Kita pasti akan memilih yang enak rasanya dan membuat kita rileks.

Begitu pun dalam belajar, kita perlu memilih yang membuat nyaman kita, sekaligus penting dipelajari. Lambat laun, kita pun akan menerima asupan yang cukup untuk mental kita. Namun, menurut buku ini pula, jangan terlalu banyak ”ngemil”, karena segala yang berlebih akan berakibat buruk. Terlalu ”kegemukan” dalam menerima asupan mental juga membuat kita ragu-ragu dalam bertindak, lantaran terlalu banyak pertimbangan.

Kemudian cara lain yang cukup ditekankan di sini adalah berani mengambil risiko. Tentunya kita tak akan benar-benar berkembang sebelum menguji kemampuan kita sendiri kan? Nah, buku ini menyarankan kita untuk memilih jalur yang sulit dalam berkembang. Terimalah beban kerja yang sedikit berat, untuk membuat kita terpacu mengerahkan segala kemampuan kita.

Di samping itu, ini akan menuntut kita mengembangkan kesabaran dan ketenangan yang lebih. Kesabaran kita butuhkan dalam kehiduoan kerja yang beritme cepat dan ”panas”. Di dunia kerja sekarang ini, orang yang tidak sabaran hanya akan menjadi sasaran empuk orang lain yang menghendaki kehadiran kambing hitam.

Lalu pada buku ini juga dijelaskan pula makna ”mental baja” yang dimaksud dalam judul bukunya. Tentunya itu merupakan definisi penulisnya. Semacam singkatan untuk mempermudah pemahaman, tetapi dibuat dengan cukup kreatif. Ya, memang terkesan agak dipaksakan, namun sebaiknya Anda harus melihatnya sendiri di bagian akhir buku ini. Tentu pendapat setiap orang berbeda-beda, bukan?

Tak ada buku yang tanpa cela tentunya. Ini pun berlaku pada buku ini. Terus terang saya agak menyayangkan jumlah halamannya yang terlalu sedikit. Walaupun sebenarnya ini tak masalah, karena memang dibuat begitu agar mudah dibawa-bawa, tetap saja ini membuat materi buku kehilangan detail.

Saya juga agak kurang nyaman dengan keterpautan antar-subbab dalam buku ini. Setiap subbab memang masih dalam pokok bahasan yang sama, namun pergantian antara satu subbab ke subbab yang lainnya terasa kurang lancar dan terputus-putus. Ini mungkin dapat diatasi dengan membuat materi subbab yang lebih padat.

Namun sekali lagi memang buku ini dibuat dengan ringan namun sekaligus padat. Jadi, kita tak bisa mengharapkan detail yang lebih baik dalam edisi buku ini.

Ya, berharap saja nanti penulisnya mau membuat buku yang lebih detail dan diperkuat dengan dasar teori yang lebih kuat. Dengan begitu, kita dapat lebih banyak belajar lebih banyak lagi bagaimana caranya menjadi karyawan bermental baja. Ya, semoga.

 

Judul Buku: Kiat Menjadi Karyawan Bermental Baja

Tebal halaman: xv + 93halaman

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 2012

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 00 0000 00:00:00 WIB

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Dua  Warga Malaysia Edarkan Narkoba di Riau