Dari Musik, Mengelola Galeri
Sihar Ramses S | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:24 WIB
: 556


(dok/ist)
Nama Bams “Samsons” belum banyak yang tahu kalau dia tertarik mengelola galeri.

Di tengah aktivitas kelompok musik Samsons yang sedang vakum, Bams sebenarnya sudah lama terjun di dunia bisnis. Kini dia bahkan sedang mengelola sebuah galeri. Benda seni berupa furnitur yang ditampilkan di galeri Bams ini beragam.

Di dalam galeri yang terletak di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan, itu tampak berjejer benda kayu tua dan antik sehingga menyerupai seni abstrak, perahu tua yang dipulas menjadi barang seni dan dijadikan lemari penghias ruangan, fosil yang dijadikan bagian keindahan rumah, bambu, bahkan patung totem dari masyarakat tradisi.

Menurut Bams, nyatanya, konsumen benda-benda furnitur bernuansa seni sekaligus antik semacam ini animonya cukup bagus. Malah, kata dia, anak-anak muda suka yang seperti ini, trennya natural dicampur industrial.

Karena itu, jangan heran bila potongan tak beraturan dari gelodongan pun jadi pohon Natal. Gelondongan kayu pun menjadi tempat duduk. Bahkan, furnitur bernuansa alami yang paling disuka sekarang justru berupa meja terbuat dari kayu yang langsung dibelah. Teksturnya tetap tampak, tebal, panjang, dan besar.

Konsumen benda-benda seperti ini di Indonesia cukup bagus. “Tapi selera terhadap benda seni termasuk furnitur, di tiap negara ada yang sama, ada yang berbeda. Karena galeri franchise yang saya kelola ini berada di Jakarta, di Indonesia, tentu benda-benda di galeri ini disesuaikan dengan selera masyarakat lokal,” ujar Bams.

Untuk memperoleh benda seni yang ditampilkan di ruangan galerinya ini pun menurut Bams bermacam-macam. Ada yang produk dari pabriknya di Yogyakarta, ada yang dari pengerjaan para seniman atau perajin di Yogyakarta dan Bali. “Pabriknya di Yogyakarta, tapi ada yang bikin sendiri. Inovasi diperbolehkan, karena itu setiap galeri memiliki taste yang berbeda-beda,” ujarnya.

Bams bahkan menghadirkan beberapa produk seni yang dia dapatkan sendiri, tentu atas pengetahuan dan persetujuan pihak galeri. Dia dan pihak galeri, kerap melakukan pertemuan rutin berkala untuk benda-benda yang perlu dan tepat dihadirkan di outlet-nya ini.

Franchise cukup bergengsi ini pertama kali berdiri di Bali sejak tujuh tahun yang lalu, dan sekarang sudah memiliki 10 outlet di pulau itu. Bams baru dipercaya mengelola outlet di Jakarta pada 11 Desember 2011.

Di seluruh dunia, menurut Bams, outlet-nya ada di beberapa negara. “Karena karya seni, produknya pun berbeda, bahkan outlet-outlet yang di Bali berbeda dengan yang saya kelola di Jakarta. Di Indonesia, umumnya, nuansa benda yang dihadirkan lebih summer, lebih tropical,” ujarnya.

Keberadaan galeri ini ditambah dengan restoran hasil inovasinya sendiri dinamainya Lio Gallery, Bar, & Resto. Tak dinyana, keberadaan restoran yang mendampingi galeri ini malahan diikuti outlet yang lain. Di Bali, ujar Bams, akan dibuka galeri yang konsepnya seperti outlet di Jakarta.

Perlu Inovasi

Bagi Bams, karya kerajinan bangsa Indonesia tak kalah nilainya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Hanya saja, persoalan finishing yang kurang bagus, karena untuk itu diperlukan ketelitian. Padahal selera konsumen saat ini cukup baik. “Orang kita (perajin Indonesia-red) nggak bisa bikin model, nggak bisa menjualnya. Seniman asli di sini ngertinya cuma gitu-gitu doang, sehingga penyelesainnya kurang disukai,” paparnya.

Untuk masalah ini, Bams mengaku sudah turun langsung ke beberapa daerah. Hal yang terjadi justru, bahan baku dan penggarapan mentah dilakukan di Indonesia, tapi finishing terjadi di luar Indonesia. “Gue udah muter-muter semuanya, barang jadi perusahaannya di luar, nah bikinnya di Indonesia. Finishing-nya dikerjakan di sana. Kalau masih mentah, kita sudah bisa memproduksinya,” papar Bams.

Waktu ditanya tentang banyaknya seniman kontemporer Indonesia yang inovatif dalam karya seninya, Bams balik mengatakan bahwa itu tak dibarengi oleh pengerjaan para perajinnya. Menurutnya, karya kontemporer oleh para seniman itu masih bagian kecil dari masyarakat Indonesia. Yang terjadi selama ini, pengerjaannya masih kurang inovatif bahkan cenderung kolot. Karena itu, bagaimana pun hasil karya masyarakat kita, perlu dipulas lagi agar lebih modern.

Bams mengaku tak hanya ke Bali dan Yogyakarta, di sepanjang penjajakannya ke Semarang, Jepara, dan Kudus, persoalan finishing dan eksplorasi dirasakan masih kurang. “Cara pengerjaan dan sudut pandangnya masih sempat. Dari dulu masih kayak gitu, padahal perubahan konsep itu diperlukan untuk memenuhi keinginan masyarakat modern di dunia sekarang ini,” Bams menambahkan.

“Artis Sekarang Harus Pintar”

Ketika disinggung soal bisnis yang dikelolanya, Bams kemudian sekilas berkisah tentang kehidupan musikus yang di hari tuanya harus pandai mengelola dan memanajemen untuk kehidupan yang lebih baik. “Artis zaman sekarang mulai pintar, dulu susah, ya sekarang juga susah. Tapi masih lebih baiklah,” ujarnya sambil tersenyum.

Bams yang bernama asli Bambang Reguna Bukit ini kelahiran Ottawa, Kanada, 16 Juni 1983. Musikus yang orang tuanya adalah pasangan Hotma Sitompul dan Desiree Tarigan ini mengaku bertemu dengan Principle Galeri ini di Bali dan mereka sudah lama berteman baik. “Ya, dia tahu saya siapa di Indonesia, tak mungkinlah karena sekadar teman dia mau,” ujar Bams.

Dari situlah dia dipercaya untuk galeri di wilayah Kemang. Kalau mamanya suka melukis, selain musik, Bams juga mengaku menyukai dunia seni lainnya. Walaupun begitu, untuk furnitur, seni rupa atau desain, Bams lebih sering menikmati, menilai, atau memberikan tanggapan.

“Aku suka menikmati dunia desain, termasuk restoku ini. Desain resto ini bisa dibilang saya yang mendesain, dengan cara menjelaskannya pada house designer, lalu dituangkan ke komputer, kemudian dia yang mengerjakannya,” ujar Bams.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh