Menelusur Kisah Permata Asia
Angela Rianti | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:28 WIB
: 180


(dok/SH)
Kota Tua Jakarta dikenal dengan sebutan Oud Batavia atau Batavia Lama.

Wilayah ini dulunya juga dijuluki sebagai “Permata Asia” atau “Ratu dari Timur” pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa sebenarnya memiliki tataan yang berbeda dari Ibu Kota Republik Indonesia di masa sekarang.

Kota Tua adalah salah satu ikon Jakarta, letaknya di sebelah utara Ibu Kota. Bila dilihat dari sejarah masa lalu, sebenarnya, tataannya amatlah menarik hati. Adanya kanal, jalan raya, taman kota, Balai Kota, adalah bagian dari sejarah masa lalu.

Cerita wilayah ini pun sangat panjang, setua sejarah kota ini, dengan nama yang berganti-ganti pula. Pelabuhan Sunda Kelapa pada masa kerajaan Hindu Pajajaran diserang Fatahillah, yang dikirim Kesultanan Demak pada 1526.

Sumber Wikipedia menyebut, pada 1619, VOC pun kemudian menghancurkan Jayakarta di bawah komando Jan Pieterszoon Coen dan setahun setelahnya membangun kota baru bernama Batavieren. Nama ini diambil dari leluhur bangsa Belanda.

Kota Batavia selesai dibangun pada 1650, kemudian dijadikan kantor pusat di Hindia Timur. Dari situ mulai ada perkembangan, pelebaran karena beberapa hal, sampai ke wilayah yang sekarang disebut Lapangan Merdeka. Pada 1942, selama pendudukan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta dan dijadikan ibu kota negara.

Kini, di kota ini, masih terlihat adanya sungai kecil serupa kanal, gedung-gedung tua, taman-taman, stasiun kereta api Beos di depannya, Museum yang disebut Museum Fatahillah, sementara di sampingnya terletak terminal bus, serta pangkalan mikrolet. Sejarah yang tumpang tindih, masa lalu dan masa kini.

Meskipun namanya Kota Tua, pengunjung arena sejarah yang kemudian dijadikan ajang wisata ini terdiri dari berbagai generasi, termasuk remaja dan anak-anak. Malam Minggu, serta hari libur akan tampak penuh dengan pengunjung anak muda dan para pedagang kaki lima.

Sementara itu, di siang hari berubah menjadi objek wisata anak sekolah. Bahkan, tempat ini menjadi pilihan wajib juga bagi turis mancanegara.

Aneka Musium

Ada beberapa museum yang dibangun pada masa Gubernur DKI Ali Sadikin pada 1972, seperti Museum Bahari di Pasar Ikan; Museum Juang di Menteng; Museum Seni Rupa dan Keramik; Museum Wayang di Kota; Museum Sejarah Jakarta di Kota, Museum Tekstil di Tanah Abang, Taman Prasasti di Tanah Abang; Museum Husni Thamrin; dan Monumen Nasional.

Keputusan ini dilakukan semata-mata bertujuan menyelamatkan dan melindungi sejarah arsitekturnya. Aset atau bangunan bersejarah ini sekarang mulai jadi objek wisata yang pengelolaannya berada di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI.

Pada awalnya, luasnya mencapai 864 hektare (ha). Itu hitungan riil dari Jakarta Utara–Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, sampai ke Museum Tekstil yang terletak di Tanah Abang. Namun, dalam pandangan masyarakat kebanyakan, yang disebut sebagai “Kota Tua” terlokalisasi di Kota.

Kota Tua inilah yang sekarang ramai. Tidak hentinya orang berdatangan untuk menikmati gedung-gedung tua bersejarah. Beberapa museum yang ada dalam lokasi ini adalah Museum Keramik, Museum Wayang, dan Museum Sejarah Jakarta.

Museum Sejarah Jakarta menjadi salah satu tempat teramai dan terbanyak pengunjungnya, hingga sempat mendapat penghargaan “Museum Terpopuler” dari salah satu komunitas Ibu Kota. Anak-anak sekolah memang kerap mengunjungi Museum Sejarah Jakarta ini.

Gedung ini adalah bekas kantor gubernur jenderal di zaman Belanda. Sekarang, di dalam gedung tua ini tersimpan perabotan rumah tangga seperti kursi, meja, kaca besar, lemari besar, dan tempat tidur tempo doeloe. Ditambah lagi, beberapa koleksi patung, batu, serta benda bersejarah lain.

Museum Wayang yang juga terdapat di sini. Museum ini, menurut cerita, berasal dari bangunan gereja Belanda yang hancur karena gempa. Pada 1950-an, gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia.

Di dalamnya kemudian dipamerkan berbagai jenis wayang. Ada wayang orang, wayang golek, topeng, gamelan, dan lukisan wayang. Selain itu, ada pertunjukan wayang disajikan pada hari Minggu, hanya di minggu kedua dan ketiga.

Di wilayah yang kemudian disebut Kota Tua, ada juga Konservasi Cagar Budaya Bergerak, Museum Keramik, bangunan tua perkantoran, juga kafe-kafe. Tempat ini menjadi tempat yang menarik untuk persinggahan pengunjung.

 

Membaca Pudarnya Sejarah

Beberapa dari bangunan tua yang tersisa itu masih ada yang tampak bagus, ada juga yang kusam. Tergantung siapa yang punya dan bagaimana perawatannya. Ada juga yang digunakan sebagai kafe.

Namun, keramaian Kota Tua sekarang bukan karena nilai historisnya, melainkan perubahan tampilan. Cobalah kita menyusuri wisata Kota Tua di malam Minggu.

Seluruh alun-alunnya dipenuhi dengan gelaran pedagang kaki lima. Kendati semrawut dan tidak tertata, sebenarnya datang ke tempat terbuka ini terasa mengasyikkan karena seluruh warga Jakarta berbaur di tempat yang gratis dan massal ini.

Di beberapa ruas jalan terbuka, terlihat beberapa komunitas, sebut saja komunitas Sepeda Ontel yang menjadi ikon kekunoan dipajang dan disewakan buat para pengunjung. Sepeda ontel menjadi daya tarik tersendiri, dan bisa disewa untuk olahraga. Bisa juga untuk background foto bersama keluarga.

Malam Minggu, di wilayah ini pun semakin ramai. Bukan cuma ratusan, tetapi hingga ribuan pengunjung sibuk berjejal di alun-alun. Mereka sibuk melihat para pedagang yang menggelar barang-barang dagangannya. Pameran dan studio foto mobil tua juga dilirik para pengunjung.

Kota Tua merupakan warisan dari sejarah tempat, bangunan, dan tata kota pada zaman Batavia yang terus memudar. Namun upaya mengenangnya tetap dilakukan, misalnya dengan jalan-jalan, sambil menebak tataan kota asli di tengah tataan kota yang terbaru negeri ini.

Anda bisa juga berwisata kuliner, mendatangi para pedagang kaki lima dengan jajaan mereka yang unik, seperti kerak telor dan selendang mayang. Menurut mereka, “Ini adalah makanan khas masyarakat Betawi.”

Kerak telor adalah makanan dari beras yang direndam dan digongseng dengan telor, lumayan mengenyangkan perut. Sementara selendang mayang adalah kue lapis yang dibuat dari tepung sagu aren. Kemudian kue itu disiram sirop dan santan. Hmmm....lebih sedap diminum dengan es batu, terasa menyegarkan!

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Sultra Terima 4.099 Calon Bintara Polri

, 21 April 2014 00:00:00 WIB

Membangun Koalisi Demokratis