Kepri Masih Jadi Basis Transit Pencari Suaka Politik
Parlyn Manungkalit | Sabtu, 16 Juni 2012 - 11:47 WIB
: 214


(SH/Parlyn Manungkalit)
Suaka politik ini ditengarai diatur oleh sindikat internasional.

TANJUNGPINANG – Daerah Kepulauan Riau (Kepri) masih dijadikan basis transit imigran gelap oleh sindikat internasional penyelundupan manusia, untuk mencari suaka politik.

Seksi Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi (Wasdakim) Tanjungpinang-wilayah Hukum dan HAM Provinsi Kepri, Jumat (15/6), menangkap dua warga Pakistan dan satu warga Afganistan di Bandara Raja Haji Fisabilillah, karena melanggar keimigrasian Indonesia.

Menurut Kasie Wasdakim Agustyadi kepada SH, Jumat, setelah diperiksa di bandara, ketiga pria asing tersebut; Saqlain (14) dan Hasnain (17) asal Pakistan dan Shabir Ali (19) dari Afganistan, yang hendak bertolak ke Jakarta pukul 07.00 WIB dengan pesawat Sriwijaya Air ternyata tidak mempunyai paspor atau dokumen apa pun.

Dalam pemeriksaan selanjutnya di kantor Imigrasi Tanjungpinang kepada petugas Seksie Wasdakim, mereka mengaku datang ke Tanjungpinang lewat Johor Baru-Malaysia menumpang speed boat, Kamis (14/6). Mereka hendak melanjutkan perjalanan ke Jakarta, tapi keburu ditangkap petugas Imigrasi.

Setelah diamankan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Tanjungpinang, Jl Ahmad Yani, Hasnain, salah satu imigran gelap yang bisa berbahasa Inggris, kepada SH menyebutkan perjalanan mereka ke Indonesia diatur sebuah agen. Namun dia tidak mau menyebutkan biaya perjalanan yang dibayarkan ke agen, yang diduga sebagai sindikat internasional penyelundupan manusia itu.

Menurut Hasnain, keberangkatan mereka dari Pakistan naik pesawat langsung ke Kuala Lumpur-Malaysia atas pengaturan agen yang dimaksud.

Lalu mereka dibawa ke Johor Baru dan ditumpangkan ke speed boat milik orang Indonesia menuju Tanjungpinang bersama 10 warga negara asing lainnya. Hasnain juga mengakui paspor dan semua identitas mereka diambil dan ditahan agen perjalanan di Johor, sebelum diberangkatkan ke Tanjungpinang.

Setibanya di Tanjungpinang, ia dan kedua temannya disuruh agen meneruskan perjalanan ke Jakarta menemui perwakilan UNHCR (United Nation High Commission for Refugees), untuk mengurus status pengungsi dan suaka politik bagi mereka ke negara penerima.

Berbagai Dalih

Menurut Hasnain, mereka mau meminta suaka politik karena terancam bom bunuh diri yang semakin marak di negaranya. Namun berdasarkan data yang diperoleh SH dari Kepala Rudenim Tanjungpinang Yunus Zuned SH, pihak UNHCR saat ini sangat selektif untuk pemberian suaka politik bagi para imigran.

Sebanyak 382 dari 391 warga negara asing yang menghuni Rudenim saat ini merupakan pencari suaka politik. Umumnya berasal dari negara-negara di Timur Tengah, antara lain Pakistan, Afganistan, Sri Lanka, Irak, Iran, Sudan, dan Bangladesh.

Yunus mengatakan, yang telah mendapatkan status pengungsi dan akan dikirim UNHCR ke negara penerima hanya 35 orang saat ini, sedangkan 347 lagi belum ada kepastian.

Selanjutnya, sembilan dari 391 penghuni Rudenim merupakan nelayan asal Thailand, Vietnam, dan Myanmar, yang ditangkap petugas keamanan Indonesia karena mencuri ikan di perairan Indonesia. Setelah diproses secara hukum, mereka akan dikembalikan secara paksa (deportasi) ke negara masing-masing oleh Ditjen Imigrasi Kemenhukham, kata Yunus.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh