Perempuan Astronot Pertama China
Albertina S.C. | Sabtu, 16 Juni 2012 - 12:57 WIB
: 648


(Liu Yang/www.dw.de)
“Sejak pertama saya sudah mengatakan saya tidak berbeda dengan pria astronot,” kata Liu Yang.

BEIJING – Sabtu (16/6) adalah hari bersejarah bagi Liu Yang dan juga bagi China dalam misi mengirimkan perempuan ke luar angkasa. Liu Yang akan bergabung dengan Jing Haipeng, 45, sang komandan misi, dan Liu Wang, 43, di wahana ruang angkasa Shenzhou 9. Ketiganya akan meluncur bersama Shenzhou-9 menuju modul stasiun ruang angkasa Tiangong 1 dari Gurun Gobi.

Peluncuran pesawat berawak China dengan perempuan astronot ini adalah bagian dari upaya China membangun stasiun permanen di orbit. Tiga astronot ini akan melakukan pendaratan pesawat berawak pertama, sebuah prosedur yang sangat teknis, untuk membawa bersama dua kapal berkecepatan tinggi di orbit.

"Sejak hari pertama saya telah mengatakan bahwa saya tidak berbeda dengan astronot pria," ucap Liu yang pilot pesawat tempur terlatih dalam sebuah wawancara yang disiarkan langsung dalam acara pengumuman dirinya sebagai perempuan astronot pertama yang akan melintasi angkasa luar, di Beijing, Jumat.

Liu Yang adalah Tentara Pembebasan Rakyat berpangkat mayor. Dia mengikuti pelatihan astronot pada Mei dua tahun lalu. Perempuan yang menikah tapi belum dikaruniai anak ini akan mengambil bagian dalam peluncuran roket berawak ke-empat China, kata juru bicara Program Antariksa negara tersebut.

Liu dipilih sebagai kandidat potensial untuk misi Sabtu karena unggul dalam tes, menurut kantor berita resmi China, Xinhua.

"Saya percaya pada ketekunan. Jika Anda tekun, kesuksesan ada di depan Anda," kata Liu tampak emosional dalam balutan baju biru astronotnya dalam wawancara langsung.

Awalnya dia dilatih sebagai pilot kargo dan dipuji atas kemampuannya mengatasi insiden ketika jetnya menabrak sekawanan merpati. Dia mampu mendaratkan pesawat yang dalam kondisi rusak berat.

Jing, Wang, dan Liu akan lepas landas pada pukul 06:37 waktu setempat dari pusat antariksa China, di Jiuquan,  di gurun Gobi utara China.

Pada konferensi pers para astronot peluncuran ini adalah "tes besar" bagi mereka. Tetapi, ketiganya telah dilatih melakukan prosedur ini lebih dari 1.500 kali.

"Kami bertiga saling memahami satu sama lain. Satu lirikan, satu ekspresi wajah, satu gerakan, Kami saling memahami secara menyeluruh," kata Jing.

Misi merapat ke modul Tiangong-1 yang saat ini mengorbit di Bumi adalah langkah terbaru dalam rencana yang besar membangun stasiun ruang angkasa mandiri permanen pada 2020. China mengirimkan orang pertama di luar angkasa para 2003. Sejak itu, beberapa misi berawak diluncurkan dan terakhir pada 2008, tetapi belum pernah ada perempuan.

Tradisi Juni
Misi sepuluh hari Liu ini akan membuat China sebagai negara ketiga setelah Uni Soviet dan Amerika Serikat yang mengirimkan perempuan ke ruang angkasa menggunakan teknologi sendiri. China juga meneruskan tradisi mengirimkan perempuan ke luar angkasa pada Juni. Letnan Valentina Tereshkova dari Soviet meluncur ke luar angkasa pada 16 Juni 1963. Duapuluh tahun kemudian, tepatnya, 18 Juni 1983, AS mengirimkan Sally Ride.

Misi luar angkasa China ini sekaligus mewakili propaganda dari negara yang dikendalikan oleh partai komunis ini. China mengharapkan program ruang angkasanya sebagai simbol kemajuan teknolgi yang berkembang dan kesuksesan Partai Komunis membalikkan nasib bangsa yang miskin menuju kejayaan.

Xinhua mengatakan keadaan fisik ketiga astronot—termasuk metabolisme dan suasana hati--akan dimonitor dengan cermat selama misi yang didapatkan dari data tentang efek bobot tubuh manusia. Ketiganya dalam "kondisi baik dan stabil dan bersiap untuk perjalanan ruang angkasa mereka."

China adalah negara ketiga yang mengirim manusia ke ruang angkasa setelah Rusia dan Amerika, dan sekarang juga akan mengirim astronot ke bulan. Sebuah kertas putih dirilis Desember silam menguraikan program ruang angkasa ambisius China mengatakan negara itu "akan melakukan studi pada rencana awal untuk pendaratan manusia ke bulan."

Tidak ada yang pernah menjejakkan kaki di Bulan setelah pesawat ulang alik Apollo AS mendarat terakhir pada Desember 1972.

Tapi, tidak semua orang yakin—banyak pengguna situs yang mempertanyakan keputusan untuk mencurahkan dana buat program ambisius ketimbang mengalokasikannya demi kebutuhan dasar seperti pendidikan dan perawatan medis.

"Saya tidak mampu membeli rumah, ke dokter, dan membiayai pendidikan anak saya. Apakah kita pergi ke luar angkasa atau tidak, benar-benar sedikit sekali bedanya bagi saya," seorang warga menulis di portal berita Netease.
Sumber : AFP/Xinhua

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh