Memanfaatkan Kepentingan Rusia di Asia Pasifik
Hendra Manurung* | Senin, 18 Juni 2012 - 14:32 WIB
: 5684


(dok/ist)
Kini adalah saat yang ideal bagi Rusia untuk mengeksplorasi pilihan politik luar negeri.

Sangat wajar bila Rusia menjadikan Asia Pasifik sebagai salah satu prioritas utama kebijakan luar negerinya.
 
Ketika Vladimir Putin ke Indonesia pada 2007, kunjungan itu melahirkan makna strategis dan historis sebagai presiden Federasi Rusia yang pertama ke Indonesia, setelah Nikita Khurschev selama era Uni Soviet pada 1960.
 
Rusia memosisikan Indonesia sebagai salah satu mitra penting dalam upaya memelihara perdamaian dan keamanan di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, pusat gravitasi pertumbuhan global dengan cepat bergerak menuju Asia dan Pasifik.

Diakui, saat ini perekonomian wilayah Asia Pasifik telah menunjukkan tingkat pertumbuhan yang signifikan, meski ada krisis ekonomi yang melanda Eropa Barat. Kawasan Asia Pasifik kini sering disebut sebagai penggerak pembangunan global sehingga muncul harapan masyarakat internasional untuk “sebuah tatanan dunia baru yang polisentris (polysentric international system)”.
 
Tak heran Rusia menyambut tawaran Menlu Hassan Wirayuda (ketika itu), untuk berbagi pandangan bilateral dan multilateral pada perubahan yang terjadi di wilayah Asia Pasifik dan keinginan Rusia untuk memberikan kontribusi nyata demi terwujudnya stabilitas keamanan dan pertumbuhan ekonomi regional.

Indonesia dan Rusia bukanlah aktor kemarin sore di kawasan Asia Pasifik. Secara historis, Rusia ikut berperan dalam gerakan kemerdekaan banyak negara di Asia. Karena itu, kalau saat ini Rusia mengintensifkan keterlibatannya dalam berbagai kerja sama politik dan ekonomi menuju integrasi pasar di Asia Timur, ini merupakan bagian dari kebijakan politik luar negeri Rusia jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan sistematis.
 
Akibatnya, Indonesia memiliki setiap alasan untuk mempertimbangkan pemanfaatan pengaruh Rusia sebagai salah satu elemen penting terwujudnya stabilitas politik dan militer, serta pembangunan berkelanjutan di Asia Timur, khususnya di Asia Tenggara.

Punya Pendukung

Semasa Perang Dingin, negara Uni Soviet memiliki perbedaan ideologi dengan sejumlah besar negara kawasan, meski juga banyak sekutunya. Dengan begitu, kalau hari ini banyak negara sahabat eks Uni Soviet di kawasan Asia Pasifik menjadi mitra strategisnya, itu buah dari hubungan masa lalu.
 
Rusia juga peduli terhadap perkembangan yang serba cepat dan saling menguntungkan di kawasan Asia Timur, melalui peningkatan hubungan dengan Jepang dan Korea Selatan, serta kemitraan dialog dengan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Peran strategis Rusia secara efektif memberikan kontribusi dalam memecahkan berbagai persoalan, mulai dari ketersediaan energi di kawasan ini sampai memelihara stabilitas keamanan dan politik regional.
 
Rusia adalah anggota Asosiasi Multilateral dan Trans-Regional Kawasan, seperti Brasil, Rusia, India, China, BRICs; Organisasi Kerja Sama Shanghai (Shanghai Forum); Forum Regional ASEAN (ARF); Konferensi Interaksi dan Langkah-langkah Membangun Kepercayaan di Asia (International Conference for Interaction and Confidence, CICA); dan Dialog Kerja Sama Asia.

Terciptanya tatanan internasional baru memerlukan format kerja sama internasional lainnya yang melibatkan Rusia, India, dan China dalam menandingi pengaruh dan perimbangan kekuatan militer yang dimiliki Amerika Serikat beserta negara-negara sekutunya dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Karena itu Rusia ikut dalam KTT Asia Timur dan Pertemuan Tingkat Tinggi Asia-Eropa tahun 2010 (ASEM Meeting).

Meskipun perdagangan dan hubungan ekonomi antara Rusia dan negara-negara Asia semakin kuat dan proyek-proyek ekonomi bilateral sedang dilaksanakan, telah lebih dari 50 tahun Rusia membangun aliansi modernisasi dengan China, India, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Indonesia, dan Australia berdasarkan inovasi peningkatan nilai tambah sektor ekonomi.
 
Sejumlah mitranya, termasuk Korea Selatan dan China, menunjukkan minat yang besar di Pusat Inovasi Skolkovo.

Sejauh ini, Rusia juga bekerja sama dengan China dan India di bidang-bidang, seperti pengadaan dan pemanfaatan energi atom, teknologi luar angkasa, serta teknologi informasi (TI).
 
Rusia akan terus interaksi dengan negara-negara Asia Pasifik di bidang energi, termasuk dalam pengembangan konvensional dan sumber energi non-konvensional dan penciptaan penyulingan minyak dan infrastruktur produksi gas cair. Di dalam negeri pemerintah Rusia terus bekerja untuk mewujudkan potensi dalam penggunaan navigasi global dan sistem telekomunikasi, GLONASS.

Partisipasi aktif Rusia sangat penting dalam kegiatan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC), forum yang telah dipimpin Rusia pada 2012 ini. Presiden Dmitry Medvedev menekankan November lalu pada KTT APEC di Honolulu bahwa pemerintah Rusia akan selalu memastikan keberlanjutan pencapaian tujuan tercapainya pertumbuhan ekonomi kawasan.

Oleh karena itu, Rusia selalu mengikuti proses yang mengarah pada pembentukan sistem perjanjian perdagangan bebas di Asia Pasifik (Asia Pacific Free Trade Area, 2020), termasuk penetapan kerangka Kemitraan Ekonomi Komprehensif untuk Asia Timur, yang dipromosikan East Asian Summit (EAS) dan Kerja Sama Trans-Pasifik (Trans-Pacific Partnership).
 
Negosiasi perjanjian perdagangan bebas antara Rusia dan Selandia Baru telah memasuki fase terakhir mereka di tahun ini. Sebuah dokumen serupa juga sedang dirundingkan dengan Vietnam. Muncul rencana untuk membentuk kemitraan yang sama dengan ASEAN dalam waktu dekat.

Awal September 2010, Presiden Dmitry Medvedev dan Presiden China Hu Jintao merundingkan upaya memperkuat stabilitas keamanan Asia Pasifik. Kedua pemimpin menyerukan komitmen bersama bagi semua negara di kawasan Asia Pasifik dalam menghormati kedaulatan; kemerdekaan dan integritas teritorial; serta tidak ikut campur dalam urusan internal satu sama lain.
 
Ini untuk menegaskan kembali komitmen mereka terhadap prinsip keamanan yang sama dan tak terpisahkan, serta sifat defensif kebijakan militer mereka dan pengembangan kerja sama lintas batas dan antarmanusia.

Kini adalah saat yang ideal bagi Rusia untuk mengeksplorasi pilihan politik luar negeri dan penerapan hukum internasional bagi kawasan Asia Pasifik.
 
Sangat penting mengembangkan visi seperti arsitektur kawasan sangat berkorelasi dengan konsep keseimbangan dinamis yang diperkenalkan Menlu Marty Natalegawa. Mengingat Rusia menilai penting kawasan ini, sepatutnya Indonesia juga menyambut berbagai kerja sama strategis dengan Rusia, demi keuntungan bersama.

*Penulis adalah dosen di Fakultas Bisnis dan Hubungan Internasional, Universitas Presiden. Alumnus Saint Petersburg State University, St Petersburg, Federasi Rusia.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sharon Stone Dilaporkan Stroke