Anak Perlu Berdebat
Albertina S.C. | Selasa, 19 Juni 2012 - 12:03 WIB
: 543


(Mengasah ketrampilan argumentatif/jeremyhelligar.blogspot.com)
Remaja yang terbuka dan tegas mengungkapkan pikirannya cenderung menolak pengaruh buruk temannya.

JAKARTA – Dari generasi ke generasi orang tua mengajarkan anak-anaknya untuk bicara yang sopan ketika berbeda pendapat dengan orang dewasa. Dan, ternyata dari adu mulut dalam rumah itu, orang tua dapat mempersiapkan buah hatinya menghadapi tekanan teman-temannya di luar sana.

Sebuah studi dari University of Virginia, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa anak-anak yang diajarkan berdebat secara efektif lebih mungkin menolak tekanan teman-teman sebayanya untuk menggunakan obat atau alkohol di kemudian hari.

"Pada dasarnya, temuan utama kami adalah bahwa semakin banyak remaja dapat secara terbuka mengungkapkan sudut pandang mereka sendiri dan bersikap tegas ... mereka lebih cenderung melawan pengaruh teman sebaya untuk menggunakan obat-obatan berbahaya dan alkohol beberapa tahun kemudian," kata Joanna Chango, mahasiswa pascasarjana psikologi klinis yang bekerja pada studi ini, seperti dikutip dari AP, Selasa (19/6).

"Ternyata apa yang terjadi di dalam keluarga sebenarnya adalah tempat pelatihan bagi remaja dalam hal bagaimana bernegosiasi dengan orang lain," kata Joseph Allen, profesor psikologi dan penulis utama studi yang diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Child Development.

Keterampilan Argumentatif
Prof Allen mengatakan bahwa orang tua sering "ketakutan setengah mati terhadap tekanan dari teman-teman", tetapi juga frustrasi menghadapi anak yang argumentatif.

“Apa yang kami temukan adalah ada hubungan yang mengejutkan antara keduanya," kata dia.

Prof Allen mengatakan bahwa remaja "belajar bahwa mereka dapat dianggap serius" melalui interaksi dengan orang tua mereka.

Memang, kelihatannya agak berlawanan memberitahukan orang tua agar membiarkan remaja mereka berdebat dengan mereka, kata Chango. Tapi, belajar keterampilan argumentasi yang efektif dapat membantu remaja belajar untuk "menegaskan diri mereka sendiri dan membangun rasa otonomi," dia menegaskan.

Penelitian yang merupakan bagian dari studi longitudinal yang lebih besar ini mengamati 150 anak usia 13 tahun yang sedang berbeda pendapat dengan orang tua. Kemudian, peneliti melakukan survey serupa tiga tahun kemudian tentang pengalaman mereka dengan narkoba dan alkohol.

Pada usia 13, para remaja ini direkam meringkaskan apa saja yang menjadi perbedaan pendapat antara mereka dengan ibu mereka. Rekaman itu kemudian diputar didengar para ibu.

"Biasanya, ini semacam perselisihan yang sedang berlangsung yang belum mampu mereka selesaikan," kata Chango yang menambahkan bahwa topik berkisar antara aturan rumah tangga dan besaran uang tunjangan bulanan.

Setelah diskusi dibuka kembali, Chango mengatakan, peneliti memfilmkan para remaja dan ibu mereka selama delapan menit.

Percaya Diri
Nah, remaja yang dalam tayangan "percaya diri" dan menggunakan alasan untuk mendukung pernyataan mereka lebih cenderung menolak obat-obatan atau alkohol ketika disurvey oleh peneliti tiga tahun kemudian, kata dia.

Lebih jauh Chango menganjurkan orang tua mengajarkan anak-anak mereka menyampaikan pikiran dan emosi secara efektif selama konflik. Pada gilirannya, dia menegasan, hal itu mengajarkan anak untuk berdiri teguh dari pengaruh negatif di luar rumah.

"Kami melihat ini sebagai transisi keterampilan," kata dia. "Bahkan jika pandangan mereka tidak runut, remaja akan dapat mengambil keterampilan itu untuk dimasukkan dalam lingkungan lain."

Dia juga mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk mendengarkan kekhawatiran anak-anak mereka selama konflik. Selain itu, orang tua yang memiliki anak remaja harus mengajar dengan contoh dan mempraktikkan model diskusi yang baik untuk anak-anak mereka, Prof Allen menambahkan.

Dia mengatakan bahwa orang tua harus tegas dan membuktikan kepada remaja bahwa memberikan "alasan yang baik dengan cara yang wajar" lebih efektif daripada merengek atau menunjukkan aksi bermusuhan, seperti membanting pintu.

"Jika mereka dapat belajar bagaimana menjadi percaya diri dan persuasif dengan orang tua mereka, mereka akan dapat diharapkan melakukan hal yang sama dengan rekan-rekan mereka," kata Chango.
Sumber : AP

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN