Registrasi Semua Produk Budaya
Naomi Siagian | Selasa, 19 Juni 2012 - 14:26 WIB
: 1079


(dok/ist)
Penyelesaian klaim Malaysia atas budaya Indonesia harus dengan pendekatan budaya.

BANDUNG - Klaim Malaysia atas tari Tor-tor dan alat musik Gondang Sambilan (Sembilan Gendang) dari Mandailing, Sumatera Utara, mendorong pemerintah untuk meregistrasi produk budaya nasional; semua produk budaya setiap daerah harus didata ulang.

"Kasus Tor-tor ini jadi pelajaran bagus. Tapi ada atau tidak ada klaim itu, sudah saatnya kita meregistrasi semua produk budaya," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, Senin (18/6) usai membuka Lomba Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ke-20 di Bandung.

Dia menegaskan, negara harus memiliki data lengkap tentang suatu produk budaya. Ini karena saat ini produk budaya yang teregistrasi masih sangat sedikit, sehingga pengetahuan lengkap terhadap produk budaya tersebut sangat minim.

Nuh mencontohkan Jaran Kepang (Kuda Lumping) dari Jawa Timur, di mana banyak orang yang tidak mengetahui falsafah, asal-usul, atau sejarahnya.

Karena itu jika Jaran Kepang diidentifikasi ulang, akan membuat masyarakat tahu dan ini bisa menjadi sumber pendidikan bagi generasi muda. Dengan adanya registrasi secara nasional, pemerintah akan lebih mudah mengamankan produk budaya Indonesia dari klaim negara lain.

Dengan adanya registrasi, bisa segera dipilah produk budaya apa yang bisa didaftarkan sebagai warisan budaya dunia. “Kita memiliki banyak produk budaya. Ada Reog yang pernah juga akan diklaim Malaysia, Tari Srimping, dan lainnya. Selama ini tidak dipedulikan,” kata Nuh.

Menurutnya, tidak terelakkan apabila ada klaim negara lain terhadap produk budaya dari Indonesia seperti halnya Tor-tor. Ini karena asal-usul orang Malaysia sebagian adalah dari Sumatera yang hijrah sekaligus membawa budaya dan menetap turun-temurun di Malaysia. "Budaya itu kemudian berkembang turun-temurun di Malaysia," Nuh menambahkan.

Untuk menyelesaikan kasus klaim Tor-tor oleh Malaysia, Nuh menyatakan akan meminta klarifikasi dari Menteri Komunikasi dan Informasi dan Kebudayaan Malaysia. "Kami akan mempertanyakan kebenaran pemberitaan itu, apakah benar (Malaysia) akan mendaftarkan menjadi warisan budaya dunia," kata Nuh.

Dia menegaskan, penyelesaian kasus itu harus dengan pendekatan budaya, tidak dengan pendekatan politik atau keamanan. Dalam hal ini diplomasi kebudayaan lebih diutamakan.

Banyak Produk

Selama ini sudah banyak produk budaya Indonesia yang diklaim sebagai budaya asli Malaysia, yang membuat masyarakat Indonesia marah. Di antaranya adalah lagu "Rasa Sayange", angklung, Reog Ponorogo, Tari Pendet, kerajinan batik, bunga raflesia arnoldi, keris, dan masakan rendang.

Dalam situs www.musicmall_asia.com disebutkan bahwa angklung berasal dari Malaysia tepatnya di Kota Johor. Musik angklung merupakan pengiring kesenian Kuda Kepang. Namun pemerintah Malaysia membantah melakukan klaim atas alat musik khas Jawa Barat tersebut.

Tari Pendet dari Bali juga termasuk yang diklaim Malaysia, setelah sebuah iklan pariwisata “Visit Malaysia” menampilkan Tari Pendet. Dalam hal ini pemerintah Malaysia juga menjelaskan bahwa ini terjadi hanya karena salah paham.

Lagu "Rasa Sayange" juga pernah membuat ribut di Indonesia pada Oktober 2007, ketika sebuah iklan pariwisata “Malaysia, Truly Asia” menggunakan lagu yang liriknya sangat mirip dengan lagu "Rasa Sayange". Saat itu pemerintah Malaysia juga menyatakan tidak ada maksud untuk mengakui lagu tersebut sebagai milik Malaysia.

Situs Kantor Berita Bernama di Malaysia, Kamis (14/6) menyebutkan, Menteri Penerangan Komunikasi dan Kebudayaan Datuk Seri Rais Yatim berencana mendaftarkan tari Tor-tor dan alat musik gondang sambilan (sembilan gendang) dari Mandailing dalam Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

"Tetapi dengan syarat pertunjukan berkala mesti ditunjukkan, bermakna tarian mestilah ditunjukkan, paluan gendang dipelbagaikan dalam pertunjukan di khalayak ramai," kata Rais dalam acara peresmian Perhimpunan Anak-anak Mandailing di Kuala Lumpur.

Dalam situs itu disebutkan pula bahwa rencana itu penting dilakukan untuk memperjuangkan seni dan budaya masyarakat Mandailing dan bertujuan membuka wawasan warga di negara tersebut tentang asal-usul mereka.

Padahal, Mandailing merupakan salah satu subsuku di Sumatera Utara. Masyarakat Sumatera Utara mengenal tari Tor-tor sebagai salah satu bagian dalam upacara-upacara adat untuk menghormati para leluhur.

Seni tari tradisional meliputi berbagai jenis. Ada yang bersifat magis berupa tarian sakral, dan ada yang bersifat hiburan yang berupa tari profan. Tari profan adalah tari pergaulan muda-mudi yang ditarikan pada pesta gembira. Tor-tor ada yang ditarikan saat acara perkawinan.

Biasanya ditarikan oleh para hadirin termasuk pengantin dan para muda-mudi. Sementara tari magis misalnya tari Tor-tor Nasiaran, Tor-tor Tunggal Panaluan. Tarian magis ini biasanya dilakukan dengan penuh kekhusukan. (Wahyu Dramastuti)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



2 Komentar :

rizky
02 Juli 2012 - 11:18:25 WIB

tarian khus nya di provinsi riau di klim oleh malaysia
kmi tdk stju dengan budaya kmi yg klim org malaysia
tampa izin kami

rizky
02 Juli 2012 - 11:20:56 WIB

tarian provinsi riau di klim malaysia
kami tidak setuju tarian kami di klim oleh malaysia
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh