Septian Dwicahyo: Bahasa Diam Dunia Pantomim
Nofanolo Zagoto | Sabtu, 23 Juni 2012 - 11:47:09 WIB
: 861
Share


(dok/SH)
Septian Dwicahyo. tetap bertahan bahkan ketika dunia pantomim mengalami pasang-surut.

Begitu penerangan panggung menyala, tampak Septian Dwicahyo (43) berdiri di depan sebuah layar. Bayangannya segera berpadu dengan animasi yang ditampilkan.

Septian mengangkat tangan dan menggerakkan badannya pelan-pelan, seirama dengan arah gerak gambar Singa Barong dalam layar. Seolah dialah si penari Reog saat itu.

Lantas, tampilan layar pun berganti. Muncul animasi berupa siluet para penari Bali yang duduk melingkar, lalu bayangan Septian seperti menari di tengah-tengah mereka. Di depan layar itu juga, Septian bergerak bak penari Jawa, lalu ia bergerak layaknya penari tortor mengikuti nuansa kedaerahan yang tergambar di layar.

Seperti itulah salah satu fragmen yang ditampilkan Septian dalam pertunjukan pantomim yang berjudul “Mime to Fun” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 15 Juni lalu. Lantaran Septian ingin menawarkan sesuatu yang berbeda dalam pertunjukan pantomimnya itu, dimunculkanlah gerak yang bermain-main dengan multimedia.

Dia juga sengaja memasukkan unsur tari shuffle yang sekarang sedang digandrungi remaja, sedikit sulap, dan sentuhan komedi.

Ini menjadi usaha saya memunculkan pantomim yang lebih ngepop dan bisa berkolaborasi dengan kesenian lainnya,” begitu dikatakannya. Pementasan “Mime to Fun” memang jadi bentuk keresahan Septian yang mengamati seni pantomim mulai ditinggalkan, bahkan dirasakannya hilang. Padahal, di masa berbeda, sampai 1990-an, pertunjukan pantomim masih bergeliat di sana-sini.

Namun, seiring memudarnya kesukaan anak-anak muda terhadap breakdance kala itu, seni pantomim pelan-pelan juga seperti menghilang. Padahal, sudah banyak muncul pemain pantomim Indonesia seperti Sena A Utoyo, Didi Petet, atau Subarkah. “Lewat masa itu pantomim lebih banyak dimainkan di kalangan tertentu saja,” ujarnya.

Berdasar keadaan itulah kini Septian gelisah ingin kembali mengangkat seni pantomim agar bisa dinikmati masyarakat luas.

Dia berusaha menepis anggapan jika pantomim itu sudah ketinggalan zaman dan kuat dengan kesan abstrak, dengan gaya pertunjukan pantomim yang menghibur. Seni pantomim ingin diangkatnya lagi dengan cara yang unik dan menarik. Dia ingin menambah daya tarik pantomim dengan mengolaborasikannya dengan unsur kesenian lain.

Pantomim klasik sebetulnya masih tetap ada penontonnya, tetapi secara keseluruhan tidak terlalu banyak peminat dan penikmatnya,” ujar pria yang sempat membuat acara televisi komedi “Spontan” pada 1990-an tersebut.

Selama ini, Septian mengatakan pantomim klasik memang lebih menitikberatkan gerak dan mimik wajah, dan muncul dengan properti panggung yang minim. Tak heranlah jika kemudian ia sering mendengar adanya anggapan bahwa seni pantomim adalah pertunjukan yang menguras pikiran saat menontonnya.

Imajinasi

Sejak kecil, Septian menyukai pantomim. Dia pertama kali mengenal seni meniru itu ketika diajak ibunya menonton pemain pantomim dunia asal Prancis, Pradel, saat mentas di Taman Ismail Marzuki (TIM).

Dari situlah Septian merasa klop dengan seni pantomim, apalagi sebelumnya dia sejak kecil pula dia sudah dekat dengan kesenian, karena juga sempat mempelajari seni tari dan belajar teater di Teater Adinda.

Sekali suka, tidak bisa meninggalkan pantomim,” Septian sempat mengungkapkannya usai pertunjukan “Mime to Fun”. Kesukaan Septian tak layu, meski pantomim sekarang kurang diminati.

Sebaliknya, dia justru berusaha membangkitkan selera menonton pantomim di kalangan masyarakat. Bukan hanya lewat pertunjukan di atas panggung, tetapi juga sampai mendatangi sekolah-sekolah dan mengadakan lokakarya pantomim untuk anak-anak.

Selain bertujuan menularkan kesenian pantomim kepada anak-anak, kegiatan itu dikatakannya sangat berpengaruh menumbuhkan imajinasi dan kreativitas anak-anak.

“Dengan dimulai dari anak-anak, langkah untuk mengembangkan pantomim akan semakin panjang,” kata ayah dari Denino, Lulu, Vikal, dan Nanet tersebut.

Regenerasi dan Film

Septian Dwicahyo (43) dan pantomim seolah merupakan putaran yoyo. Kerinduannya selalu membuat dia kembali pada pantomim, dan pertunjukan “Mime to Fun” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) itu setidaknya menjadi salah satu bukti.

Dari situlah terbesit satu mimpi pria kelahiran 4 September 1968 itu untuk mencoba menyemarakkan kembali seni pantomim.

Malah, sebelum pementasan itu berlangsung pun, Septian sudah memulai niat regenerasi dengan mengajari anak-anak di Studio Septian Dwicahyo di kawasan Ampera, Jakarta Selatan. Sampai sekarang ada 15 anak yang langsung diajarinya. Anak didiknya itu berusia antara 2–13 tahun.

“Mereka tahu pantomim lewat pengenalan yang saya dan teman-teman lakukan dari sekolah ke sekolah. Ternyata mereka tertarik belajar,” ujar suami dari Uci tersebut.

Soal pengembangan pantomim, Septian mengaku punya satu keinginan yang masih belum terealisasi.

“Bukan hanya lewat pertunjukan, angan-angan besar saya justru ingin bikin film tentang pantomim,” ujar pria ini, yang dulu juga sempat bermain dalam beberapa judul film seperti Lupus, Gejolak Kawula Muda, Biarkan Kami Bercinta, dan Lima Sahabat.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

Kamis, 20 Juni 2013 14:49:43 WIB

Surga Pajak Sengsarakan Afrika

Kamis, 20 Juni 2013 14:47:04 WIB

Tarif BBM Diumumkan Sabtu