Angka Ibu Meninggal di NTT Masih Tinggi
Jumat, 29 Juni 2012 - 10:37 WIB
: 255


(Foto:dok/majalah-anbi.blogspot.com)
Ada 554 ibu meninggal dalam setiap 100.000 kelahiran hidup.

KUPANG - Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur, Stef Bria, mengatakan bahwa berdasarkan data Susenas, di NTT masih terdapat 554 ibu meninggal dunia dalam setiap 100 ribu kelahiran hidup.

"Angka ini melebihi data rata-rata secara nasional 307/100 ribu kelahiran hidup," katanya di Kupang, Jumat (28/6), terkait dengan langkah dan upaya apa yang perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut.

Ia mengatakan, dengan berbagai upaya, angka kematian ibu ini sudah diturunkan, namun karena jumlahnya masih di atas rata-rata nasional.

"Angka itu memang tidak berbicara, namun kalau dibaca 554 orang ibu yang meninggal, pasti menyentuh perasaan kita semua. Karenanya Program Revolusi Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) ini perlu digencarkan," katanya.

Ia mengatakan, salah satu bentuk Revolusi KIA, adalah semua ibu harus melahirkan anaknya pada fasilitas kesehatan yang memadai agar mendapat pertolongan memadai oleh tenaga terlatih.

Hal ini penting karena penyebab kematian ibu yang terbesar adalah akibat pendarahan karena melahirkan di rumah. "Jadi, strateginya bertindak cepat dengan cara yang luar biasa," tegasnya.

Dia mengatakan, dalam Revolusi KIA ada enam elemen seperti orang yang menolong harus memadai.

Berikut, peralatan kesehatan dan obat serta bahan yang dibutuhkan harus sesuai standar, bangunan yang sesuai dengan standar dan fungsi.

Selanjutnya, sistem pelayanan yang bagus dan terakhir dan terpenting adalah anggaran yang memadai pula.

"Untuk mendukung Revolusi KIA, minimal di setiap desa di NTT harus memiliki pustu dengan ruang perawatan yang memadai dan tempat tinggal petugas kesehatan (bidan, dokter) agar mereka tidak selalu meninggalkan tugas," katanya.

Selain itu, lanjutnya, pada tahun 2010, semua puskesmas di NTT harus ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap dan tanpa ini, maka upaya untuk menurunkan angka kematian ibu dan anak akan hanya sebatas slogan dan program dan sulit untuk mencapai mimpi yang diangankan.

Dia mengatakan masih tinggginya angka kematian ibu saat melahirkan telah mengkategorikan NTT dalam 20 provinsi yang masih memiliki masalah besar untuk kesehatan ibu dan anak sehingga untuk Indonesia diperkirakan tidak dapat memenuhi target MDG untuk penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) jika tidak dilakukan intervensi.

Ke-20 provinsi yang memiliki masalah kesehatan ibu dan anak tinggi adalah Sumatera Utara, Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku, Papua dan Papua Barat.

Sehingga program EMAS atau "Expanding Maternal and Neonatal Survival" bertujuan untuk menurunkan 25 persen jumlah kematian ibu dan anak melalui penguatan pada kualitas pelayanan kesehatan yang akan dijalankan di enam provinsi yang menyumbangkan jumlah kematian dan anak terbesar yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Sejak tahun 2011, Pemerintah juga menjalankan program Jaminan Persalinan (Jampersal) yang membebaskan biaya bersalin bagi ibu hamil yang tidak memiliki asuransi kesehatan, dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi.
Sumber : Ant

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh