Atmosfer dari Matano
Albertina S.C. | Jumat, 29 Juni 2012 - 13:39 WIB
: 307


(dok/antara)
Peneliti menemukan mineral langka, karat hijau, di Danau Matano, Sulawesi Selatan.

Bumi dilingkupi lapisan gas bernama atmosfer yang menyelimuti planet ini dari permukaan hingga jauh ke angkasa luar.

Tak ada yang menduga peneliti menemukan salah salatu mineral besi langka yang kemungkinan berimplikasi dalam pembentukan awal atmosfer Bumi. Dan, yang tidak kalah penting, mineral besi yang sangat reaktif itu didapati dalam pengambilan sampel air Danau Matano, Sulawesi Selatan.

Dengan perahu warga di sekitar Danau Matano para peneliti Inggris mengambil sampel untuk menguji air danau. Di danau yang kondisinya menurut para peneliti mirip dengan lautan kuno itu mereka menemukan karat hijau yang memainkan peran penting dalam menghilangkan unsur penting nikel, dari air.

"Hubungan antara karat hijau, serapan nikel, dan sejarah oksigenasi dari planet ini memerlukan investigasi lebih lanjut. Tapi, temuan kami adalah langkah maju yang besar," kata peneliti studi Simon Poulton, profesor biogeokimia di Newcastle University di Inggris seperti diungkapkan LiveScience, Rabu (27/6).

Karat hijau adalah lumpur yang mengandung besi yang belum sepenuhnya berkarat. Karat hijau memiliki defisit elektron sehingga sangat mudah bereaksi dengan substansi lain.

Jika karat hijau mencapai sesuatu yang mirip lautan kuno, dapat berpotensi memainkan andil tidak langsung dalam akumulasi oksigen di atmosfer.

Sebuah proses yang membutuhkan kecepatan sekitar 2,3 miliar tahun lampau dengan kenaikan besar pertama dalam oksigen atmosfer yang disebut Great Oxidation Event. Oksigenasi dari atmosfer memungkinkan kehidupan yang lebih kompleks, termasuk manusia, berevolusi.

Atmosfer Bumi sendiri terdiri atas nitrogen (78,17%) dan oksigen (20,97%), dengan sedikit argon (0.9%), karbon dioksida (variabel sekitar 0,0357%) uap air, dan gas lain.

Menurut Poulton, karat hijau pertama kali diidentifikasi sekitar satu dekade silam. Sejak itu, karat hijau yang memang berwarna hijau pucat hanya ditemukan dalam beberapa tempat. Sebut saja, air yang terendam dan air tanah. Dan, sekarang, karat hijau juga didapati di air bebas oksigen di Danau Matano di Indonesia.

Para peneliti percaya bahwa perairan danau kuno mengandung air yang kaya zat besi dan oksigen bebas. Hal yang sama pula yang mengisi lautan dalam Bumi lebih dari 580 juta tahun lampau.

“Penemuan karat hijau di danau ini menunjukkan mineral langka yang mungkin lebih umum di masa Bumi kuno,” ujar Poulton.

Seperti mineral besi lain, karat hijau mudah menyerap unsur-unsur terlarut ke permukaan. Tapi, karat hijau tidak hanya sangat efisien dalam hal tadi.

Dalam banyak kasus, mineral besi itu dapat bereaksi dengan jejak logam beracun terlarut untuk membuat mereka larut. Sebagai hasilnya, mereka berubah menjadi bentuk yang tidak beracun. Ini adalah sesuatu yang paling normal yang tidak dapat dilakukan oksida besi, kata Poulton.

Dalam dunia modern, beberapa harapan dihamparkan untuk menggunakan karat hijau menghapus logam beracun dan unsur-unsur radioaktif dari lingkungan.

Di lautan kuno, menurut Poultan, kemampuan karat hijau untuk menarik nikel keluar dari air akan menjadi penting untuk beberapa bentuk kehidupan. Pasalnya, nikel merupakan nutrisi penting bagi mikroba yang menghasilkan metana.

Metana bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida sehingga makin sedikit nikel makin berkurang metana. Artinya, oksigen bisa tetap di atmosfer dan menumpuk dari waktu ke waktu, kata Poulton menjelaskan.

Komposisi Lautan Kuno

Penelitian yang bakal dipublikasikan dalam dalam jurnal Geology edisi Juli ini menyiratkan hal lain untuk memahami komposisi lautan kuno. Untuk memahami komposisi gizi dari lautan kuno, penting untuk mengetahui mineral besi yang sudah ada pada masa itu.

Menurut Poultan, mineral besi mengambil nutrisi terlarut dan membawa mereka ke dasar laut sehingga akhirnya menjadi terawetkan dalam batuan. Karena masing-masing mineral besi memiliki perilaku berbeda, para ilmuwan harus mengetahui apa yang disajikan besi mineral, lanjut dia.

Karat hijau yang sangat reaktif ini sebelumnya menjadi kajian peneliti Bo Christiansen dari Universitas Copenhagen. Dia menemukan kemampuan lain dari karat hijau yang cepat bereaksi dengan polutan umum.

Selama ini para ilmuwan menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mencegah pembentukan biang karat pada beton bertulang karena dianggap masalah. Namun, hasil penelitian dalam jurnal Geochimica et Cosmochimica Acta yang diterbitkan Maret 2011, menunjukkan bahwa karat hijau tersebut bisa berguna untuk mengatasi limbah nuklir.

Dengan sifat reaktifnya, karat hijau bisa membantu mengungkung limbah neptunium, produk sampingan dari reaktor uranium yang memiliki paruh waktu lebih dari dua juta tahun.

Penelitian Christiansen mengungkapkan karat hijau mampu mengisolasi neptunium di fasilitas Swedish Nuclear Fuel and Waste Management di Okskarshamn di pantai timur Swedia dan Karlsruhe Institute of Technology di Jerman.

"Hasil studi kami menunjukkan bahwa pengungkungan limbah radioaktif bisa dibuat menjadi lebih aman jika pengungkungnya diletakkan di tempat karat hijau bisa terbentuk," kata Christiansen pada National Geographic.

Dia mengakui, karat hijau tidak cepat membersihkan polutan ketika polusi terjadi. Namun, percobaannya memperlihatkan bahwa alam bisa membersihkan dirinya sendiri. Bahkan, jika polusi melibatkan bahan seserius neptunium yang dapat mengancam kesehatan dalam jangka waktu jutaan tahun lamanya.

Jika Christiansen menemukan kemampuan karat hijau menaklukkan nuklir, di Danau Matano, Poultan menemukan peran dominan biang karat itu dalam mengambil nikel. Poultan berharap, kelak, dia dapat menemukan interaksi karat hijau dengan nutrisi lain.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN