Rifa Ariani: Merintis di Jalur Pendidikan
Stevani Elisabeth | Sabtu, 30 Juni 2012 - 11:55 WIB
: 1307


(dok/SH)
Merintis sebuah sekolah memang memerlukan keberanian dan kesungguhan hati.

Penampilannya tetap sederhana. Rambutnya yang sedikit ikal itu diikat rapi. Ramah, supel, humoris, itulah kesan pertama ketika bertemu dengan ibu dari tiga putra ini. 

Awalnya, Rifa tidak pernah bermimpi jika suatu saat kelak dirinya memiliki sekolah dan perguruan tinggi di kawasan perumahan elite.

Rifa Ariani merupakan pemilik Sekolah Global Mandiri di kawasan Legenda Wisata, Cibubur. Meski ayah kandungnya merupakan rektor di salah satu perguruan tinggi swasta dan guru besar di Universitas Sriwijaya Palembang, perempuan kelahiran Bogor 10 Mei 1967 ini justru mengawali kariernya sebagai auditor pajak.

Selama 13 tahun menjadi auditor pajak, Rifa bahkan sempat ditempatkan di Bandung. Suaminya, Suheriyatmono, pada dasarnya mengizinkan dia dimutasi ke luar kota, asalkan ketiga anaknya harus ikut pindah.

“Kebayang kan kalau anak-anak harus ikut saya? Otomatis pembantu dan segala sesuatunya harus juga dibawa. Ibarat bangun rumah baru,” ujarnya sambil tertawa.

Akhirnya dia mengakhiri kariernya sebagai auditor pajak pada 2003. Namun, itu tidak menghentikan langkahnya untuk berkarya. Hal tersebut malah memunculkan secercah harapan yang selama ini tak terpikirkan olehnya.

Kisah tersebut bermula saat Rifa dan suaminya membeli rumah di Legenda Wisata Cibubur. Saat itu, dia bersusah payah mencari sekolah bagi M Ghulam Ghazali, Naufal Ariq Muhamad dan Rishad Rizky Muhamad, yang ketika itu masih SD, TK, dan playgroup.

Setelah berbagai pertimbangan, dia memutuskan mendirikan sekolah umum. Rifa sudah memiliki gagasan yang mantap untuk mendirikan sekolah nasional plus.

Merekrut siswa baru merupakan pengalaman yang paling berkesan baginya. Setiap minggu, pihak pengembang perumahan mengadakan berbagai acara dan mereka ikut di dalamnya untuk promosi sekolah. 

Berkembang

Selama menggeluti bisnis pendidikan, Rifa telah banyak mengecap pahit dan manisnya untuk pilihannya itu, termasuk dikritik orang tua, hingga susahnya membayar gaji guru. Bahkan, Rifa mengaku pernah menggadai rumahnya untuk membayar gaji guru karena jumlah muridnya kala itu masih sedikit.

Itu cerita lalu. Semua di luar ekspektasi. Saya pikir 10 tahun baru balik modal, tetapi ternyata lima tahun sudah selesai,” tuturnya. Pada 2005, sekolah ini sudah menemui titik terang. Rifa sudah tidak mendanai operasional sekolah dari kantongnya pribadi lagi.

Sekolah ini pun kemudian dikenal masyarakat dan animo mereka luar biasa. Murid-muridnya tidak hanya mereka yang tinggal di Cibubur, tetapi ada juga yang tinggal di Sunter, Bekasi, Ciputat, Bogor, dan Cibinong.

Kini, sekolahnya sudah semakin maju dan dikenal. Di dalam menyusun kurikulum, Rifa dibantu praktisi dan konsultan pendidikan Loula Maretta. Kurikulum di sekolahnya merupakan hasil integrasi kurikulum nasional dan kurikulum Cambridge.

Metode pengajaran yang digunakan adalah fun active learning dipadukan dengan go green yang menerapkan 4 R, yakni replant, reduce, recycle, dan reuse. Metode tersebut menekankan peran aktif dan partisipasi siswa untuk berani menyampaikan pendapat dan tanggapannya terhadap berbagai materi pelajaran dan informasi yang ada.

Materi-materi yang diajarkan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar mereka, sehingga siswa lebih cepat menyerapnya.

Tidak hanya itu, dia juga memberikan kebebasan berkreasi bagi guru-guru hingga staf di sekolah. Mereka semua dapat mengembangkan bakatnya sesuai talenta masing-masing. ***

Hidup Sederhana

Rifa mempunyai kebijakan unik untuk sekolahnya itu. Setiap siswa di sekolah ini diajarkan hidup sederhana. Mereka dilarang membawa sepeda motor maupun mobil ke sekolah. Di samping itu mereka juga tidak boleh membawa handphone.

Setiap saat, para pengajar melakukan pemeriksaan tas-tas murid di kelas. Hal ini dilakukan agar tidak ada anak yang membawa handphone ke sekolah.

“Kami ingin mereka hidup sederhana.” ujarnya. Selain itu, dengan tidak membawa motor atau mobil ke sekolah, ternyata bisa mendidik anak untuk tidak bolos sekolah atau kabur pada jam-jam pelajaran tertentu.

Menurutnya, anak juga pasti berpikir, kabur dari sekolah tidak mungkin karena tidak ada kendaraan. Jalan kaki jauh, sebab letak jalan raya cukup jauh dari sekolah. Belum lagi mereka harus melewati pos satpam di sekolah maupun pos satpam perumahan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh