Laut Semakin Pasang
Badrul Munir Chair | Sabtu, 30 Juni 2012 - 12:02 WIB
: 606


(dok/ist)
Cerpen Badrul Munir Chair

Bulan sabit menggantung di atas langit, bintang-bintang tersebar ke penjuru cakrawala. Angin kencang bertiup di sepanjang pantai utara, menerjang pucuk-pucuk pohon siwalan di tepi pantai.

Di pesisir kampung Lebak, air laut mulai menyentuh tumpukan pasir yang dibungkus karung, sebagai tanggul darurat, pembatas antara laut dengan permukiman.

Sesekali ombak pasang menghantam tumpukan karung itu, hingga air laut dapat menyeberang ke permukiman. Rumah warga yang hanya berjarak beberapa meter dari tumpukan karung, akan terkena percikan ombak, membasahi beranda-beranda rumah mereka yang menghadap laut.

Musim pancaroba, musim peralihan arah angin, angin laut tak bisa ditebak, angin barat berganti menjadi angin timur, angin selatan berganti menjadi angin utara, peralihan yang jarang bisa kami prediksi, peralihan yang biasanya tidak teratur, sering kali membawa kesukaran.

Seperti malam ini, warga kampung kami mencemaskan gelombang pasang, beranda rumah kami diterjang air laut, seperti hujan yang datang dari arah samping.

Beberapa laki-laki yang kebetulan tidak melaut sibuk menggali tanah pasir, memasukkannya ke karung-karung, kemudian menumpuknya di atas tumpukan-tumpukan karung lain yang sebenarnya sudah tinggi, namun tak mampu menghalangi ombak masuk ke kampung kami. Beberapa perempuan ikut membantu, sebagian lagi menggendong anak mereka yang menangis ketakutan.

Beberapa tahun terakhir, air laut semakin memburu rumah kami, semakin tahun air pasang laut semakin dekat, jarak rumah-rumah yang beberapa tahun sebelumnya masih agak jauh, kini seperti semakin mendekat dengan laut.

Jika musim pancaroba dan arah angin berembus ke selatan, dapat dipastikan rumah-rumah kami akan terkena percikan ombak yang memantul dari tumpukan karung-karung pasir yang sudah kami persiapkan sebagai pembatas.

Beberapa orang bercakap, membicarakan beberapa teman kami yang sedang melaut, mengkhawatirkan keselamatan mereka, sembari ditemani minuman dari buah siwalan. Di musim pancaroba seperti ini, kami akan berjaga-jaga sampai pagi, khawatir jika sewaktu-waktu tumpukan karung itu jatuh atau tak kuat menahan terjangan ombak.

Semakin pagi, terjangan ombak semakin tenang, namun angin laut semakin kencang, berembus ke selatan, ke arah rumah kami. Para istri dan anak-anak kami yang sedang tidur pasti sedang kedinginan, sedangkan kami mencari kehangatan dengan menyulut rokok keretek, sembari terus melanjutkan perbincangan, mengusir kantuk.

Kami terus berjaga sampai azan subuh pertama, hingga akhirnya salah seorang dari kami, melihat sebuah pantulan cahaya merah dari tengah laut, cahaya kecil, kerlap-kerlip, semakin mendekat ke arah kami, kami tahu, itu pasti lampu perahu nelayan, mungkin perahu salah satu tetangga kami akan datang.

Suara mesin perahu lamat terdengar, semakin dekat, semakin nyaring. Kami segera berhambur ke laut, menyambut kedatangan mereka.

Namun kami kecewa karena ternyata perahu yang datang bukanlah perahu milik tetangga kami, melainkan perahu orang Pasongsongan, tetangga kecamatan. Dari atas perahu, kami mendengar suara seseorang berteriak, “Angin kencang, paman, perahu kami diterjang badai.”

Teriakan orang itu membuat kami panik. Kulihat layar perahu memang sudah tidak utuh, beberapa tali penyangga sudah kocar-kacir dari tempatnya, untung saja tiang utama masih berdiri tegak, karena kalau tidak, dapat dipastikan perahu mereka akan tenggelam.

Angin sangat kencang, paman, perahu kami diterjang badai.” Seseorang mengulangi lagi perkataannya. Kami segera menarik perahu ke tepian, orang-orang di atas perahu satu per satu turun, ikut menarik perahu ke tepi, menurunkan jangkar, lalu mengikat tali perahu pada salah satu pohon siwalan di tepi pantai.

“Untung saja kami selamat, tetapi sepertinya ada perahu lain yang ikut diterjang badai.”

Subhanallah! Perahu siapa?!

Entahlah, paman, mudah-mudahan mereka selamat, atau paling tidak, mereka bisa bertahan sampai Pulau Masalembu.”

Satu per satu awak perahu itu turun, dengan sisa kecemasan di wajah mereka, mereka bergegas segera ke daratan, meninggalkan laut yang hampir merenggut nyawa mereka.

Iya, mudah-mudahan mereka bisa bertahan sampai Masalembu.”

Kebanyakan nelayan di pesisir utara memang sering kali berlayar hingga perairan Masalembu, begitupun para nelayan kampung kami. Sering kali jika badai tiba-tiba datang, kami akan segera melabuhkan perahu di pulau itu, karena hanya Pulau Masalembu-lah pulau terdekat yang dapat kami capai, dan kerap kali kami melihat kapal-kapal besar juga terdampar atau menepi di perairan pulau itu.

Kumandang azan subuh menandakan penjagaan kami sudah usai. Penduduk kampung berangkat ke surau. Di surau, kulihat orang-orang sudah berkumpul, begitu ramai, bukan lantaran salat jemaah sudah usai, melainkan mereka sibuk membicarakan Mattali dan dua orang awak perahunya, tetangga kami yang sudah dua hari melaut dan belum pulang.

Orang-orang kampung kami sungguh khawatir, apalagi tersiar kabar, ada perahu yang diterjang badai di tengah lautan. Kasak-kusuk pun tersebar, ada semburat kekhawatiran, jangan-jangan perahu yang dilihat nelayan Pasongsongan di tengah laut tadi malam, adalah perahu Mattali dan dua awaknya. Marwati, istri Mattali, tampak sangat gelisah, mencemaskan keadaan suaminya.

Kami akan menyusulnya setelah subuh, Mbak. Mbak jangan khawatir.” Marsud, adik ipar dari Mattali mencoba menenangkan kakak perempuannya yang sedang gelisah.

Iya, mbak, setelah salat kami akan menyusulnya ke Masalembu, mencoba mencari kabar di sana.”

Waktu terus berjalan. Seusai salat subuh, Marsud mempersiapkan perahunya, ditemani Zainal yang akan ikut dengannya ke Pulau Masalembu.

Air laut sudah tampak semakin surut, orang-orang kampung berkumpul di pantai, hendak melepas keberangkatan Marsud dan Zainal untuk menjemput Mattali dan dua awak perahunya.

Kak Mattali berangkat sama siapa saja?”

“Sama Surahman dan Dulmuin, Sud.”

“Hati-hati, Sud, angin sangat kencang, kalau ombak sangat besar dan kondisinya tidak memungkinkan, sebaiknya kembali saja, jangan memaksa.”

Iya, Mbak.”

Marsud dan Zainal naik ke atas perahu, orang-orang yang berada di tepi pantai membantu mendorong perahu mereka ke tengah. Mesin perahu pun dinyalakan, perahu mereka semakin ke tengah, semakin jauh, kemudian yang terlihat hanyalah ujung tiang penopang layar, lalu menghilang, yang terlihat hanyalah langit dan cakrawala.

* * *

Sinar matahari menerangi pesisir kampung Lebak dan seluruh desa di Kecamatan Ambunten. Angin kencang masih bertiup di sepanjang pantai utara, menerjang pucuk-pucuk pohon siwalan dan kelapa di tepi pantai. Pesisir kampung Lebak tampak sepi, tak seramai seperti biasanya. Perahu-perahu tampak berjejer di tepi pantai, sesekali ombak kecil menghantam perahu-perahu itu.

Tidak ada nelayan yang berani melaut, angin terlalu kencang. Beberapa nelayan tampak memperbaiki perahu mereka, ada yang menambal bagian perahu yang bocor, ada juga yang menambal jaring yang robek. Orang-orang yang biasanya ngojur juga tidak tampak.

Biasanya setiap pagi banyak anak-anak kecil yang ngojurmembantu menarik perahu yang baru datang melaut, mengangkut ikan hasil tangkapan, kemudian mereka akan diberi beberapa ekor ikan oleh si pemilik perahu sebagai imbalan. Terkadang mereka menjual ikan-ikan hasil ngojur itu dengan harga murah, atau mereka membawanya pulang ke rumah untuk dimakan sendiri.

Jika datang musim pancaroba atau musim kemarau dengan angin yang sangat kencang, aktivitas para nelayan di kampung Lebak akan lumpuh. Sebagian mereka akan beristirahat total, mengandalkan sisa uang tabungan. Sebagian lagi bekerja serabutan, seperti membuat gula dari sari buah siwalan, dan pekerjaan lain yang memungkinkan.

Musim silih berganti, badai boleh saja datang dan pergi, tetapi laut tetaplah satu-satunya harapan kami, kami mencari uang dengan melaut, hidup dengan laut, bersahabat dengan laut, walau terkadang laut hampir membawa kami menuju kematian. Kami tak akan takluk, apalagi bosan.

Bayangan perahu Marsud sudah benar-benar hilang di tengah laut. Perjalanan ke Pulau Masalembu akan ditempuh sehari-semalam, itu pun kalau tidak ada kendala dan perjalanan lancar. Kami kembali ke rumah masing-masing, membersihkan sisa air pasang tadi malam.

* * *

Malam datang lagi, bulan sabit membentuk celurit terlihat di atas langit, bintang-bintang bersinar redup. Angin kencang terus bertiup di sepanjang pantai utara. Di pesisir kampung Lebak, air laut kembali menyentuh tumpukan pasir yang dibungkus karung. Ombak pasang semakin garang menghantam tumpukan karung itu, hingga air laut dengan mudah menyeberang ke permukiman.

Kami masih menunggu kedatangan Marsud dan Zainal, sudah dua malam mereka pergi dan tak ada kabar. Apalagi Mattali, sudah empat malam melaut dan belum pulang. Kami berjaga-jaga seperti biasanya, namun malam ini orang yang berjaga lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Mereka menunggu kabar Marsud dan Zainal, juga Mattali dan dua awaknya.

Wajah Marwati terlihat sangat cemas, sesekali ia sesengukan menguraikan air mata. Ada isu tak sedap yang mengusik warga kampung kami, beberapa nelayan desa tetangga mengabarkan bahwa ada orang Ambunten yang terdampar di Masalembu dalam keadaan tak bernyawa.

Kabar itu memang belum jelas kebenarannya, tetapi bisa jadi kabar itu bukan hanya isu. Beberapa warga kampung kami mencoba menghubungi kepolisian, mencari tahu kebenaran berita tersebut.

Air laut semakin pasang, angin datang semakin kencang, ombak semakin keras menghantam tumpukan karung, semakin membasahi rumah-rumah kami yang sudah digenangi air mata.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

ramajani sinaga
24 September 2012 - 11:25:38 WIB

Bagus. Pembaca terbawa dalam suasana.
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

12 Batang Emas di Perut Warga India

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Mengapa Perempuan Lebih Tertarik pada Musisi?