“Partikel Tuhan” Ditemukan
Albertina S.C. | Kamis, 05 Juli 2012 - 10:13 WIB
: 295


(Perburuan Higgs boson./Reuters)
Fisikawan Eropa mengumumkan penemuan partikel yang konsisten dengan Higgs boson atau “God Particle

JENEWA - Para ilmuwan di pusat penelitian Badan Eropa untuk Riset Nuklir (CERN), telah menemukan partikel subatomik baru, sebuah blok bangunan dasar dari alam semesta, yang tampaknya menjadi partikel boson yang dinamai fisikawan teoritis Peter Higgs setengah abad lampau.

"Kami telah mencapai tonggak sejarah dalam pemahaman kita tentang alam," kata Direktur Jenderal CERN Rolf Heuer dalam pertemuan para ilmuwan dan media dari seluruh dunia di dekat Jenewa, Swiss, Rabu (4/7).

"Penemuan partikel yang konsisten dengan Higgs boson ini membuka jalan untuk penelitian lebih rinci, membutuhkan statistik yang lebih besar, yang akan menjabarkan sifat partikel baru, dan kemungkinan untuk menjelaskan misteri lain dari alam semesta kita," kata Huer.

Data yang dikerjakan ribuan ahli fisika yang terbagi dalam dua tim independen, Atlas dan CMS, dari penembakan partikel proton bersama di CERN Large Hadron Collider menghasilkan sesuatu yang dekat dengan kepastian akan keberadaan partikel baru.

Tidak jelas apakah itu persis dengan Higgs boson yang diramalkan, yang menganugerahkan massa terhadap banyak hal membantu menjelaskan cara alam semesta terbentuk setelah tabrakan besar dari Big Bang.

Tapi, di hadapan para ilmuwan yang berkumpul di auditorium CERN, Heuer menanggapi pertanyaan mereka: "Sebagai orang awam, saya akan mengatakan saya pikir kita menemukannya. Apakah kalian setuju?” Mereka menjawab dengan gemuruh tepuk tangan.

Untuk beberapa pakar, tidak ada keraguan bahwa Higgs boson telah ditemukan. "Ini Higgs," kata Jim Al-Khalili dari Universitas Surrey, ahli fisika Inggris dan penyiar populer. "Pengumuman dari CERN bahkan lebih definitif dan jelas dari yang kita harapkan.”

Peter Higgs
Peter Higgs, yang kini berusia 83 tahun, dari Universitas Edinburgh, termasuk dalam enam teoritis yang pada awal 1960 mengajukan keberadaan sebuah mekanisme di mana materi di alam semesta yang dihasilkan oleh massa. Higgs sendiri berpendapat jika ada medan tak terlihat yang bertanggung jawab untuk proses tersebut, harusnya terdiri dari partikel.
 

 
Higgs dan beberapa fisikawan lain yang ada di CERN menyambut berita yang oleh beberapa komentator dijuluki "partikel Tuhan", karena perannya dalam mengubah Big Bang alam semesta menjadi teratur. Air matanya mengalir. “Ini adalah hal luar  biasa yang telah terjadi dalam hidup saya,” kata dia kepada sesama peneliti yang menghadiri simposium.

"Sangat memuaskan," kata Higgs kepada Reuters. "Bagi saya pribadi itu hanya konfirmasi sesuatu yang saya lakukan 48 tahun silam," dia berujar tentang pencapaian ribuan orang yang praktis bekerja dalam eksperimental, yang akhirnya menegaskan apa yang dia dan pakar lain telah jelaskan dengan matematika.

"Saya tidak punya harapan bahwa saya masih hidup ketika itu terjadi," kata dia soal kecepatan mereka menemukan bukti.

"Untuk fisika, dalam satu cara, itu adalah akhir dari sebuah era yang melengkapi Model Standar," ujar dia tentang terori dasar fisika yang digunakan untuk menggambarkan apa yang mereka pahami selama ini dari kosmos yang dibangun dari 12 partikel dasar dan empat kekuatan.

Partikel Higgs memang penting untuk memahami bagaimana alam semesta dibentuk, tetapi masih teoritis. Ini adalah bagian akhir yang belum ditemukan dari Model Standar yang menggambarkan dasar penyusunan alam semesta. Bagi para fisikawan, model ini seperti teori evolusi bagi ahli biologi.

Para fisiskawan yang menabrakkan partikel secara bersamaaan dengan kecepatan cahaya di Laboratorium  CERN telah melihat sekilas “Higgs boson", bagian yang hilang dari teori dasar fisika yang dikenal sebagai Model Standar. Artinya mereka mendekati pemahaman bagaimana Big Bang melahirkan bintang, planet, bahkan kehidupan.

Data yang dipanen dari CERN Large Hadron Collider, akselerator partikel terbesar di dunia, juga bisa menjelaskan susunan dari "materi gelap" yang kurang dipahami dan "energi gelap" yang membentuk 96 persen dari alam semesta. Bahkan, mungkin ini menunjukkan jalan untuk penelitian mendalam tentang kemungkinan  terjadinya jagat raya secara pararel.

Senin silam, fisikawan Amerika Serikat mengatakan telah menemukan bukti terkuat tentang keberadaan Higgs di data massa yang dikumpulkan dari akselerator partikel Tevatron yang dijalankan oleh Fermi National Accelerator Lab luar Chicago.

Para ilmuwan mengatakan keberadaan materi gelap dan energi gelap dari Model Standar, jika divalidasi oleh penemuan Higgs, hanya merupakan lapisan pertama dari teori yang lebih kompleks yang mencakup sebagian besar alam semesta yang sekarang kurang dipahami.

"Model Standar memiliki beberapa kelemahan utama; penemuan Higgs boson hanya akan memperbaiki salah satu dari mereka," Pauline Gagnon, fisikawan partikel dari Kanada yang bekerja untuk Atlas.

"Kami masih tidak tahu tentang apa yang membuat 96 persen isi alam semesta. Ini membuat kita fisikawan akan sibuk untuk beberapa dekade lagi," kata dia.
Sumber : Reuters

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Mengapa Perempuan Lebih Tertarik pada Musisi?

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

 Peringati Hari Bumi, Aktivis Gelindingkan Bola Bumi di Jalan