Alpukat demi Bayi Tabung
Albertina S.C. | Kamis, 05 Juli 2012 - 11:10 WIB
: 1332


(Sang diva hijau./webmd.com)
Alpukat dan minyak zaitun membuat perempuan “berpeluang tiga kali lipat sukses” menjalani IVF.

JAKARTA – Anda dan pasangan sedang merencanakan atau tengah menjalani proses bayi tabung? Mungkin penelitian terbaru dari Harvard School of Public Health ini berguna bagi Anda.

Menurut peneliti dari Amerika Serikat, menyantap makanan Mediterinia atau diet Mediterania, seperti alpukat, dapat meningkatkan kesuburan. Makan alpukat dan membuat bumbu salad dengan minyak zaitun dapat membuat perempuan “berpeluang tiga kali lebih sukses” untuk perawatan bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF).

Pemimpin studi, Profesor Jorge Chavarro, mengatakan penelitian yang dilakukan memang kecil, tetapi perlu penyeldikan lebih lanjut. “Hasil sementara menarik, ini pertama kali dalam pengetahuan kita bahwa lemak makanan dikaitkan dengan hasil pengobatan bayi tabung," kata dia, seperti dikutip dari Daily Mail, Rabu (4/7).

Studi menemukan lemak tak jenuh tunggal--dalam minyak zaitun, minyak bunga matahari, kacang-kacangan, dan biji-bijian--lebih baik daripada makanan jenis lemak lain untuk calon ibu. Mereka yang menyantap jumlah tinggi lemak tak jenuh tunggal itu, 3,4 kali lebih mungkin memiliki anak melalui IVF dibanding yang makan dalam jumlah terendah.

Sebaliknya, perempuan yang kebanyakan mengkonsumsi lemak jenuh yang ditemukan dalam mentega dan daging merah, memprodoksi lebih sedikit sel telur yang digunakan dalam perawatan kesuburan.

Ahli AS yang melakukan studi percaya bahwa lemak tak jenuh tunggal--yang sudah dikenal untuk melindungi jantung--dapat meningkatkan kesuburan dengan menurunkan peradangan dalam tubuh.

Penelitian ini dipresentasikan pada Studi dikerjakan di Harvard School of Public Health yang didanai oleh US National Institutes of Health.

"Jenis makanan terbaik untuk disantap adalah alpukat, yang memiliki banyak lemak tak jenuh tunggal dan rendah tingkat lemak jenis lain, dan minyak zaitun," kata Prof Chavarro dalam presentasi European Society of Human Reproduction and Embryology di Istanbul.

Dia menegaskan, lebih banyak asupan zat lemak tak jenuh tunggal tingkat tinggi terkait dengan tingkat kelahiran hidup “yang dicari orang.”

Penelitian dilakukan di antara 147 perempuan yang menjalani proses bayi tabung di Rumah Sakit Umum Massachusetts Fertility Center. Para peneliti mencatat asupan lemak makanan yang berbeda: lemak  tak jenuh tunggal, lemak jenuh, lemak tak jenuh ganda. Kemudian membandingkan asupan dari ketiga lemak dari yang tertinggi dan terendah dalam setiap kategori.

Perempuan yang makan tingkat tertinggi dari semua jenis lemak menghasilkan sel telur baik yang lebih sedikit untuk digunakan dalam pengobatan. Prof Chavarro menjelaskan, ini didorong oleh konsumsi lemak jenuh.

Sementara perempuan yang mengkonsumsi lemak tak jenuh ganda tingkat tinggi, menghasilkan embrio dengan kualitas rendah.

Asupan tinggi lemak tak jenuh tunggal dikaitkan dengan tingkat kelahiran yang lebih tinggi 3,4 kali dibandingkan dengan asupan terendah.

Bagi mereka yang makan sedikit, lemak tak jenuh tunggal dibentuk dari sembilan persen dari kalori dalam makanan mereka, dibandingkan seperempat yang paling banyak menyantap diet Mediterania.

Prof Chavarro mengatakan 'Berbagai jenis lemak diketahui memiliki efek yang berbeda pada proses biologi yang dapat mempengaruhi hasil reproduksi bantuan, seperti yang mendasari tingkat peradangan atau sensitivitas insulin.” Dia menambahkan, “Namun, saat ini, tidak jelas hubungan yang mendasari mekanisme biologis yang kami temukan."

Lebih jauh, dia mengatakan, ikan tetap merupakan sumber 'baik' dari asam lemak Omega 3, walau penelitian yang Prof Chavarro pimpin tidak dapat menjabarkan kontribusinya.
Sumber : Daily Mail

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN