Waspadai Kebisingan di Tempat Bermain Anak
Natalia Santi | Sabtu, 07 Juli 2012 - 11:47 WIB
: 601


(dok/antara)
Indonesia termasuk empat negara di ASEAN dengan prevalensi ketulian cukup tinggi.

Akhir pekan bisa jadi waktu yang tepat untuk membuang kepenatan setelah lima hari kerja. Karena itu, banyak keluarga yang menggunakan akhir pekan untuk bepergian ke mal bersama anak-anaknya.
 
Di sana, anak-anak mereka bisa bermain-main karena sejumlah mal menyediakan arena bermain bagi anak-anak. Namun, tahukah Anda, ternyata tempat seperti itu ternyata tidak baik untuk anak-anak. Tingkat kebisingan zona bermain di mal sangat tinggi.

Baru-baru ini, hasil pemantauan Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT) menunjukkan kebisingan di zona bermain di mal-mal cukup tinggi, yaitu 90-120 desibel (db), jauh di atas batas aman 80 db.
 
“Dengan kebisingan sebesar itu, seharusnya anak-anak berada di tempat bermain tersebut hanya seperempat jam saja. Namun pada kenyataannya kan sering berjam-jam, ini berbahaya,” kata Ketua Komnas PGKT Damayanti Soetjipto kepada wartawan di Jakarta, Jumat (6/7).

Hasil pemantauan Komnas PGPKT di 16 kota besar menunjukkan, kebisingan mencapai 94,4-128 db. Aceh mencapai 94,6 db; Medan 95,8 db; Padang 94,4 db; Batam 96,0 db; Palembang 94,9 db; Jakarta 96,1 db; Cikarang 97,9 db; Tangerang 96,1 db; Bandung 96,5-99,1 db; Cirebon 96,3 db; Surabaya 93 db; Bali 97 db; Banjarmasin 128 db; Makassar 96,3 db; Sorong 95,6 db; dan Manado 100,2 db.

Selain zona bermain anak, pemakaian iPod yang berlebihan juga menjadi penyebab ketulian terutama pada remaja. Di Amerika, 28 orang menderita gangguan pendengaran. Diperkirakan angkanya menjadi 78 juta pada 2030.
 
Anak-anak terpapar bising akibat pemakaian walkman, iPod, musik yang keras, televisi bervolume lebih kencang, dan bersuara lebih keras. Sekitar 5,2 juta anak Amerika berusia antara 6-19 tahun yang menderita gangguan pendengaran disebut “iPod Generation”.

Lantas berapakah batas bising yang aman? Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Tahun 1999 menentukan batas yang diperkenankan untuk para pekerja yang terpapar kebisingan, antara lain 80 db diperbolehkan selama 24 jam, 82 db 16 jam, dan 85 db delapan jam. Di atas angka tersebut, para pekerja diwajibkan mengenakan alat pelindung.

Damayanti mengungkapkan para pekerja kerap mengabaikan penggunaan alat pelindung telinga, bahkan tentara-tentara muda yang tengah berlatih menembak pun kerap mengabaikannya. Karena itu, tak jarang mereka menderita ketulian di usia lanjut.

Di Indonesia, penyelam-penyelam tradisional juga kerap menderita ketulian karena budaya. “Ada yang menyatakan harus menyelam hingga telinga berdarah, ya bisa dibayangkan kalau terjadi perdarahan, telinganya pasti sudah rusak,” kata Damayanti.

Misalnya saja, dalam keseharian, ketika ada bising lalu lintas ramai, radio keras, personal stereo dengan volume maksimal, batas yang diperkenankan adalah 88 db selama empat jam, dan 91 db selama dua jam. Zona bermain anak di mal, dering telepon, dan lain-lain yang di atas 94 db diperkenankan selama empat jam, sedangkan 91 db boleh setengah jam.

Jika batas terlampaui, terjadi kelelahan organ pendengar (koklea), sel rambut getar penerima suara menderita kelelahan, rusak, dan tidak dapat kembali normal. “Maka pendengaran pun akan rusak dan tidak dapat pulih kembali,” katanya.

Pada kesempatan itu, Damayanti juga mengingatkan akan terapi lilin yang kini menjamur dan digemari beberapa kalangan. Dia menemukan beberapa pasiennya menderita kerusakan telinga akibat terkena lilin.

Sementara itu, Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan, Dedi Kuswenda, menjelaskan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2000 menyebutkan terdapat 240 juta (4,2 persen) penduduk dunia menderita gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut 75-140 juta di antaranya terdapat di negara-negara Asia Tenggara (ASEAN).

Indonesia termasuk empat negara di ASEAN dengan prevalensi ketulian cukup tinggi, yakni sekitar 4,6 persen. Padahal 50 persen ketulian tersebut bisa dicegah.
 
Saat ini, kendala dalam pengembangan program kesehatan indera pendengaran, antara lain keterbatasan sumber daya manusia, serta alat. Tidak semua puskesmas dilengkapi sarana pemeriksaan deteksi dini. Keterbatasan dana memerlukan kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

Dana
27 Februari 2013 - 08:32:29 WIB

Untuk Nilai Ambang Batas kebisingan yang diperbolehkan tidak lagi menggunakan peraturan menteri tahun 1999, tetapi menggunakan Peraturan Menteri tenaga kerja No 13 Tahun 2011, yaitu untuk amabang batas kebisingan yang diperkenankan 80 desibel untuk 8 jam kerja.
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 00 0000 00:00:00 WIB

, 25 April 2014 00:00:00 WIB

Tiga Warga AS Dibunuh Polisi Kabul