Tensi Meningkat, ASEAN Bahas Laut China Selatan
Nonnie Rering | Senin, 09 Juli 2012 - 15:35 WIB
: 623


(dok/ist)
Ketegangan di laut China Selatan semakin meningkat dan akan berdampak pada negara dikawasan.

PHNOM PENH – Negara-negara di Asia Tenggara dipastikan akan melakukan pertemuan penting pada Senin (9/7) ini untuk membicarakan friksi yang terjadi di laut China Selatan setelah Amerika Serikat menawarkan bantuan untuk turut campur dalam pengawasan khususnya di bidang keamanan.

Para Menteri Luar Negeri dari 10 anggota negara-negara Asia Tenggara yang tergabung di dalam ASEAN akan melakukan pertemuan di ibu kota Kamboja, Phnom Penh.

Pertemuan pendahuluan ini dilakukan sebelum pertemuan yang dijadwalkan pada pekan depan bersama Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan 16 negara-negara peserta Forum Regional ASEAN, termasuk China, Jepang Korea Selatan, dan Korea Utara.

Soal pembahasan tensi yang terus meninggi ini, diamini Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa, yang menyatakan ia sangat ingin melihat ada gerakan untuk segera menyelamatkan krisis laut China Selatan yang berkepanjangan ini.

“Jika tidak sekarang, kapan lagi? Maksud saya, kami datang di sini dengan tujuan membahas itu dan itu benar-benar harus dituntaskan,” tutur Marty kepada sejumlah wartawan di Phnom Penh, Minggu (8/7).

Filipina tampil sebagai yang pertama mendorong negara-negara ASEAN yang lain untuk bisa merayu China agar mau menerima sebuah COC atau code of conduct dari peraturan soal kelautan. Ketegangan saat ini terus meninggi antara kedua negara, yaitu Vietnam dan Filipina, yang menuduh China telah melakukan agresi kepemilikan.

China selama ini lebih mengistimewakan pendekatan secara individu ketimbang pendekatan terbuka. “Kami akan melakukan diskusi dan harus segera membicarakan di mana posisi kami saat ini, bagaimana untuk segera menyelesaikan persoalan ini, atau sampai kapan pun tak akan pernah selesai. Contohnya, kami juga harus bisa merayu China untuk segera menemukan formulasi yang tepat untuk mengikuti COC,” ujar Marty yang juga menyatakan pergerakan yang akan dilakukan untuk persoalan laut China Selatan ini akan segera diagendakan.

China, Taiwan, dan negara-negara anggota ASEAN: Filipina, Vietnam, Brunei, dan Malaysia sudah begitu tumpang tindih dalam tuntutan terhadap wilayah laut China Selatan, apalagi yang merasa masih memiliki wilayah itu sebagai kawasan pelayaran paling vital, pun meyakini bisa memilikinya karena kekayaan minyak dan hasil laut.

China saat ini begitu marah terhadap Vietnam karena mereka menawarkan eksplorasi, tetapi juga melakukan pemblokadean dengan mengotori laut dengan minyak, yang menimbulkan protes keras di Hanoi, sementara Beijing dan Manila amat tertutup dalam hal ini. Pada Minggu (8/7), Clinton sudah menawarkan sebuah masukan menyangkut COC pada krisis laut China Selatan ini.

Ini merupakan strategi persaingan antara Washington dan Beijing untuk berharap ada pembicaraan khusus soal ini, menyusul ekspansi yang dilakukan para tentara militer AS, seturut hubungan mereka dengan Filipina dan Vietnam.

Jual Beli?

Negara-negara ASEAN yang sudah berkompromi seperti Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam merupakan sebuah grup yang memiliki total penduduk hampir 600 juta orang yang juga masih dalam krisis ekonomi dan sistem politik yang belum stabil.

Sementara itu, China masih pada posisinya soal Laut China Selatan dan persengketaan wilayahnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Liu Wemin mengatakan, wilayah China adalah satu keutuhan. Tak juga bisa diperjual-belikan dengan bangsa dan negara lain.

Ia menanggapi pernyataan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda yang mengemukakan kini pihaknya tengah bernegosiasi dengan pihak swasta China untuk kemungkinan membeli Kepulauan Senkaku atau Diaoyu.

Tak ada pihak swasta yang punya pulau di China. Kami akan tetap mengamankan kepemilikan kami berdasarkan kedaulatan kami, termasuk untuk Kepulauan Diaoyu,” kata Liu di Beijing, Minggu.

Campur tangan pihak asing dengan melakukan blok-blok kerap membuat kesenjangan pemahaman, sehingga strategi yang akan dipakai Washington nanti tampaknya bisa menghadirkan dua kemungkinan: kemunduran atau perbaikan ekonomi Asia dan China di tahun-tahun mendatang.  (Channelnewsasia/Xinhua/Rikando Somba)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN