(SH/Saufat Endrawan)YOGYAKARTA - PT Jasa Raharja (Persero) tidak hanya fokus dalam memberikan santunan kepada korban kecelakaan lalu lintas darat, laut, dan udara.
Perusahaan ini juga menyatakan ikut mengembangkan peran industri usaha kecil menengah (UKM) hingga bisa lebih berkembang dan mampu melakukan ekspor ke luar negeri.
Upaya yang dilakukan PT Jasa Raharja terkait program bina mitra untuk meningkatkan perekonomian usaha kecil ini, selain berupa bantuan modal juga berupa bantuan pelatihan manajemen.
Program ini juga menyertakan UKM untuk mengikuti pameran di dalam maupun luar negeri, dengan dana dari program kemitraan bina lingkungan (PKBL).
Salah satu pengusaha kecil yang mendapatkan bantuan modal dari PT Jasa Raharja DIY adalah perajin Metal Handicraft Spesialis brass, copper, bronze, dan aluminium, Wiroto Craff yang berlokasi di Jalan Berowo Winong, Kota Gede, Yogyakarta.
Pemilik Wiroto Craft, Wawang (34) mengatakan kepada SH di Yogyakarta bahwa usahanya membuat berbagai miniatur yang terbuat dari metal, seperti miniatur sepeda antik, motor antik, patung, serta pajangan rumah yang dimulai sejak 2000. Modal awalnya berasal dari pinjaman PT Jasa Raharja sebesar Rp 20 juta.
Omzet Ratusan Juta
Usaha yang tadinya hanya dikerjakan oleh keluarga ini kini telah mampu merekrut 18 karyawan, karena hasil produksinya telah banyak diminati berbagai negara di Eropa. Tak tanggung-tanggung, omzet nilai ekspornya mencapai ratusan juta rupiah.
Wawang mengakui, tahun ini saja pihaknya telah mengekspor miniatur sepeda antik ke negara Eropa, antara lain Belgia sebanyak 10.000 unit miniatur dengan nilai Rp 780 juta.
Selain itu, ke Amerika Serikat pihaknya mengekspor tempat lilin dengan total harga Rp 65 juta. Omzet ini belum dihitung dari pesanan yang berasal dari Yogyakarta, Bali, dan beberapa daerah lainnya di Tanah Air.
Untuk sebuah miniatur sepeda antik yang terbuat dari metal, Wawang menjual dengan harga Rp 50.000 per unit, patung jangger Rp 220.000 per unit, dan becak Rp 85.000 per unit. Rata-rata omzet per bulan Wiroto Craft mencapai Rp 150 juta.
Kendala Bahan Bakar
Menurut Wawang, kendala lama yang dihadapinya adalah sulitnya mendapatkan bahan bakar metal. Untuk mendapatkannya, biasanya ia berkeliling ke bengkel-bengkel motor mencari sisa-sisa mesin motor yang rusak.
Namun, sejak 2010 bahan bakar metal sudah lebih mudah didapat
sehingga tidak akan sulit mencarinya jika banyaknya peesanan baik
dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Kini hasil miniatur becak
produksinya telah dijual di pinggir jalan dan toko suvenir di
sepanjang jalan Yogyakarta, yang tentu harganya akan lebih mahal
ketimbang harga dari tempatnya.
Wawang mengatakan,
kemampuannya dalam membuat minitur sepeda, becak, dan miniatur
lainnya dia peroleh dari orang tuannya, Suroto yang hingga kini masih
menjadi perajin emas. Awalnya, ia menjalankan usaha ini hanya
main-main.
Kemudian ia mendapatkan banyak pesanan, dan beruntung saat
membutuhkan modal, ada petugas PT Jasa Raharja yang mendatanginya dan
memberikan modal hingga hasil kerajinannya mampu masuk ke
negara-negara di Eropa dan Amerika.
Kepala Cabang PT Jasa
Raharja Yogjakarta, Aeni Syamlawi mengatakan, PKBL yang dikucurkan
untuk program PKBL sebesar Rp 365.050.
Dana sebesar itu diperuntukkan bagi bantuan pendidikan kepada masyarakat tak mampu sebesar Rp 55 juta, peningkatan kesehatan bagi warga Yogyakarta sebesar Rp 85 juta, dan sisanya untuk memberikan peningkatan modal kepada para usaha kecil menengah untuk dapat meningkatkan hasil produksinya.
Pada semester 1/2012, dana yang telah terserap di masyarakat dari program PKBL ini sebesar Rp 231.071.000.
BERITA TERKAIT
- Kinerja Ekspor Ban Terus Menurun
- Juknis Larangan Ekspor Bahan Mentah Diperlukan
- BIN dan Kemenlu Muluskan Ekspor BBM ke Timor Leste
- Pertamina "Ngotot" Ekspor BBM ke Timor Leste
- BI Minta Eksportir Bantu Pasok Valas
0 Komentar :
Isi Komentar :






