Ketika Anak Telah Mengerti Hak
Natalia Santi | Selasa, 10 Juli 2012 - 14:19 WIB
: 823


(dok/antara)
Anak-anak prihatin dengan kondisi yang ditemui di sekitarnya.

“Menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga...” sepenggal syair lagu milik grup band Nidji itu menghentak sebuah panggung di Lembang, Bandung, akhir Juni lalu. Lagu itu sontak membuat suasana riuh rendah.

Delegasi Forum Anak yang mendengarkannya, meloncat-loncat, mengikuti lagu yang dibawakan dari panggung itu. Mereka tersirap, kegirangan tak karuan, seperti tidak tahu sulitnya kehidupan dunia.

Namun, siapa sangka, dari sisi anak-anak, mereka justru mampu “memandang” dunia. Sebagai anak-anak, mereka sadar betul tentang hak-haknya, juga keprihatinan terhadap sesama anak-anak seusia mereka.

Selama ini, orang dewasa sering memandang anak-anak sebagai manusia dengan pola pikir yang belum matang atau tidak sempurna. Persepsi itu kerap membuat orang dewasa membatasi ruang gerak anak. Padahal, dari otak-otak mungil mereka justru lahir ide-ide besar yang akan menjamin masa depan bangsa Indonesia.

Ide besar itu setidaknya terlihat dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar.

Delegasi dari Sulawesi Selatan, Kusuma Rahmadia, misalnya, mempertanyakan nasib anak-anak yang menjadi korban perokok pasif dan anak-anak yang kecanduan merokok sejak dini. “Memang sudah ada perdanya, tapi sekarang banyak anak-anak yang duduk di sekolah dasar saja sudah merokok. Bagaimana Ibu mengatasi hal ini?”

Pertanyaan lain datang dari delegasi Nusa Tenggara Timur (NTT), Boris. Dia melihat banyak pekerja anak di sekitarnya. “Banyak anak yang dipekerjakan, sementara ada undang-undang yang menjamin hak anak untuk pendidikan. Bagaimana ini, Bu?”

Ada juga yang mempertanyakan mengapa Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) mengejar anak-anak yang menjadi pedagang asongan dan mereka ketakutan. Ada juga yang menyatakan keprihatinan mereka terhadap rekan-rekannya yang menikah di usia dini.

Mendengarkan pertanyaan-pertanyaan itu, bu menteri tampak tidak heran. Dengan gaya keibuan, dia berusaha menjelaskan kebijakan pemerintah yang rumit dengan bahasa yang dapat ditangkap anak-anak.

“Memang ada problem anak-anak jalanan. Pemerintah berusaha mengurangi anak jalanan dan membuat rumah-rumah singgah. Tempat yang paling tepat untuk anak-anak memang di rumah, sekolah, di mana mereka dapat belajar dan bermain,” katanya.

Tulis Langsung

Dia juga mendorong anak-anak langsung menulis surat kepada aparat penegak hukum, bahkan para pemimpin daerah, mulai dari yang terendah, wali kota hingga gubernur, untuk mengutarakan unek-unek mereka. “Penegakan hukum sekarang terbuka, anak-anak bisa kirim surat ke wali kota, gubernur,” katanya.

Pemerintah pusat dalam hal ini kementeriannya telah membuat beragam kebijakan untuk memenuhi hak-hak anak dan perempuan. Namun, implementasinya banyak tergantung dari pemerintah daerah masing-masing.

Mengenai rokok, Linda mengaku juga sangat prihatin. “Apa yang dilakukan orang tua, kemudian ditiru anak-anaknya.” Dia menjelaskan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tembakau. “Anak-anak, perempuan terutama yang sedang hamil harus terlindungi, seaman-amannya, baik bagi anak laki-laki maupun anak perempuan.”

Forum Anak Nasional yang terdiri atas gabungan Forum Anak Daerah, merupakan bentukan Kementerian PPPA. Tujuannya melibatkan anak-anak dalam menciptakan kebijakan yang sesuai dengan hak-hak anak. Dalam forum tersebut, anak-anak diberikan wewenang penuh untuk mengkreasikan potensi yang mereka miliki.

Dalam acara Forum Silaturahmi Anak Nasional 2012 kemarin, enam dari 426 anak terpilih sebagai Tunas Muda Pemimpin Indonesia. Mereka adalah I Gusti Ayu Sri Gayatri Kancana Dewi, dari Forum Anak Kota Mataram, Siswi SMA Negeri 1 Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Jazelyn Syahrin Fitria Myisha Almira Setiawan dari Forum Anak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Siswi Kelas III SMP Negeri IV Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Desy Rahmawaty dari Forum Anak Provinsi Maluku, Siswi SMA Negeri Siwalima Ambon.

Geno Putra Wijaya dari Forum Anak Kabupaten Payakumbuh, Siswa SMA Negeri 1 Payakumbuh, Sumatera Barat. Supian, Pengurus Forum Anak Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota, Jakarta, Siswa SMK Remaja Pluit, dan Rizki Amelia dari Forum Anak Kabupaten Pontianak, Siswi SMA Negeri 1 Mempawah Hilir, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

, 17 April 2014 00:00:00 WIB

Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN