AS Sediakan Dana US$ 13,5 Juta
Natalia Santi | Selasa, 10 Juli 2012 - 14:25 WIB
: 367


(dok/ist)
Penelitian akan dilakukan pada berbagai jenis penyakit yang ditemui di Indonesia.

JAKARTA – Indonesia dan Amerika Serikat meningkatkan kerja sama di bidang penelitian kesehatan. Program baru kerja sama tersebut diluncurkan bersamaan dengan kedatangan peraih Nobel, Harold Varmus, ke Indonesia.

Deputi Direktur Misi USAID Jakarta Derrick Brown menyatakan, pemerintah Amerika Serikat menyediakan dana US$ 13,5 juta dalam Kemitraan untuk meningkatkan keterlibatan dalam penelitian (PEER). “PEER yang didanai USAID akan menjadikan peneliti Indonesia sebagai mitra penuh,” kata Brown kepada para wartawan di Jakarta, Senin (9/7).

Bidang-bidang yang menjadi fokus penelitian, tidak saja kanker, tetapi juga kelangsungan hidup bayi yang baru lahir untuk menunjang pencapaian tujuan empat Pembangunan Milenium (MDG).

Selain itu, penelitian bidang tuberkulosis (TB) dan bidang-bidang lain seperti kesehatan ibu dan anak, HIV/AIDS, penyakit tropis yang terabaikan, ancaman pandemik yang mungkin muncul, pandemik influenza dan penyakit zoonosis. Penelitian juga dilakukan untuk epidemiologi, manajemen dan logistik obat, pelatihan dan manajemen apoteker, metodologi pemantauan, evaluasi dan survei serta kesehatan lingkungan.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Ratna Sitompul menyatakan, kunjungan Dr Varmus meningkatkan kerja sama yang lebih erat lagi antara peneliti Indonesia dan Amerika Serikat, terutama menyangkut usaha-usaha nasional untuk mencegah dan memerangi kanker.

“Kami berharap dengan kehadiran Harold Varmus, kita akan kerja sama lebih erat. Kita akan belajar bagaimana membuat institut kanker nasional, yang betul-betul dibutuhkan Indonesia. Untuk mendata pasien kanker di Indonesia, harus kita kembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi kerja sama semua pihak,” kata Ratna.

Varmus merupakan Direktur Institut Kanker Nasional (NCI) Amerika Serikat. Presiden Ilmu Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, Sangkot Marzuki mengungkapkan, penelitian Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara lain.

Indonesia hanya peringkat 56 dunia. Varmus bersama para ilmuwan Indonesia akan membahas bagaimana membangun budaya ilmu pengetahuan (scientific culture of excellence) di Indonesia.

Dalam paparannya di hadapan para akademikus, dia mendorong para ilmuwan Indonesia untuk meneliti. “Ilmu pengetahuan adalah hal yang demokratis. Anda akan ditentukan oleh kredibilitas data-data yang Anda kumpulkan,” kata peraih Nobel bidang genetika kanker itu.

Tidak Khawatir

Dia mendorong peneliti Indonesia supaya bisa menikmati hasil temuan mereka. “Sains itu menyenangkan dan dapat mengubah kebijakan,” ujarnya.

Selain itu, ilmu pengetahuan juga alat yang baik untuk meningkatkan hubungan antarnegara. Ilmuwan tidak mengenal batas negara karena para ilmuwan menerapkan prinsip-prinsip yang sama. Lembaga-lembaga kesehatan bekerja sama meningkatkan kesehatan di seluruh dunia.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Trihono mendorong para peneliti bekerja sama dengan ilmuwan dari seluruh dunia.

“Jangan sampai jadi jago kandang,” katanya.

Dia juga menampik kekhawatiran gagasan ilmuwan Indonesia dicuri peneliti lain, karena bagi para ilmuwan kredibilitas mereka dipertaruhkan. Oleh karena itu, peneliti Indonesia hendaknya benar-benar membaca dan memahami perjanjian kerja sama yang akan dilakukan.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Arema Siap Membungkam PBR

, 19 April 2014 00:00:00 WIB

Panwascam Diancam Dibunuh