Tempatnya Biasa, Masakannya Luar Biasa
Saufat Endrawan | Selasa, 10 Juli 2012 - 14:54 WIB
: 707


(SH/Saufat Endrawan)
Mangut Sego Genang, rumah makan yang dikelola nenek berusia 90 tahun.

Tempatnya biasa-biasa saja, tetapi makanannya luar biasa. Inilah penilaian yang cocok bagi rumah makan Mangut Sego Genang yang letaknya di dalam gang di Jalan Parangteritis Km 6,5 Kampung Nengahan, Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Rumah makan yang telah berdiri sejak 65 tahun lalu ini bertempat di sebuah rumah semipermanen berkuran sekitar 5 x 10 meter, dikelola pemiliknya, Mbah Marto Diryo, yang telah berusia 90 tahun.

Rumah makan ini memiliki makanan khas “mawut lele” yang dimasak dengan cara diasap di tungku yang menggunakan bahan kayu bakar. Rempah-rempah yang digunakan antaranya laja, gula jawa, serai, dan daun salam.

Mawut lele ini rasanya berbeda dengan masakan lele di tempat lain. Rasa pengasapannya membuat saripati rempah merasap ke tulang dan daging lele. Citarasa inilah yang membuat warga penggila kuliner di Yogyakarta penasaran berkunjung menikmati mawut lele di rumah makan ini.

Di tempat ini tidak hanya mawut lele yang menjadi incaran penggila kuliner. Ada juga beberapa menu lainnya yang dimasak dengan menggunakan ka

yu bakar sejak, di antaranya ayam opor, sayur kerecek kulit sapi, juga pepes ayam dan jeroan. Untuk mawut lele, per harinya rumah makan ini membutuh 18 kg lele, dengan harga jual per ekor yang telah dimasak Rp 6.000, belum termasuk harga nasi. Omzet yang didapat per harinya rata-rata mencapai Rp 400.000 jika sepi dan Rp 2 juta bila musim ramai dan libur.

Cara penyajian makanan ini cukup sederhana, dengan menggunakan baskom yang diletakkan di meja pendek di ruang dapur. Setiap pengunjung yang akan makan mengantre di dapur, dengan berdesakan. Pengnjung diharapkan tidak bersandar, karena hampir setiap sudut dapur hitam akibat asap kayu bakar. Namun, inilah yang menjadi ciri khas rumah makan ini.

Pengelola rumah makan Mangut Sego Geneng, Mbah Marto Diryo, meski usianya 90, masih bisa menyiapkan piring, gelas, dan sendok, serta memberikan pelayanan kepada pelanggannya.

Ia tidak seperti nenek-nenek seusianya. Ia pun tidak memaksakan anaknya yang berjumlah enam orang dengan cucunya yang lebih dari tujuh orang untuk membantunya.

Ia hanya dibantu seorang pekerja untuk masak yang berusia 75 tahun serta beberapa pegawai yang bekerja membersihkan sisa-sisa makanan dan mencuci peralatan makan. Karena sempitnya ruangan, tak aneh jika pelanggannya makan sambil berdiri di luar rumah, teras, dan kursi. Hanya ada sekitar 12 kursi di rumahnya.

65 Tahun Lalu

Mbah Marto Diryo, di Yogyakarta, mengatakan kepada SH, meski dengan bahasa Jawa yang terbata-bata, bisnis rumah makan ini di kelolanya sejak 65 tahun lalu. Sebelum berusia 25 tahun, ia berjualan makanan dengan cara berkeliling kampung.

Setelah merasa lelah, akhirnya ia berhenti menjual makanan dengan keliling kampung, dan mulai menempati rumahnya untuk menjajakan makanan. Ternyata, pelanggannya pun mencari alamatnya dan dari mulut ke mulut mereka saling memberi tahu alamatnya, sehingga pengunjung dari hari ke hari terus bertambah.

Beberapa artis dan keluarga Presiden RI pertama, Ir Sokerno, seperti Guruh Soekarno, sering mampir untuk makan. Mbah Diryo mengatakan, rumah makannya tidak akan pindah tempat dan tetap berada di gang, biar mereka panasaran dan setelah lelah mencari baru nafsu makannya muncul.

"Jika dipindahkan ke kota ataupun di bangunan pinggir jalan, mungkin orang belum tentu makan setelah melihat masakan Mbah yang terlihat kampungan," tuturnya.

Seorang pelanggan, Deni (37), asal Jakarta, mengakui, masakan Mbah Diryo berbeda dengan masakan lain, terutama masakan khasnya, mawut lele.

"Masakan mawut lele rempah-rempahnya terasa hingga ke tenggorakan, sari rempah meresap ke daging dan tulangnya. Ini karena cara masaknya dengan pengasapan. Belum lagi kerecek kulit dan sambalnya. Sangat menyesal jika ke Yogyakarta tak mampir untuk makan di sini,“ ujar Deni.

Menurut Deni, jika dilihat tempatnya rumah makan biasa-biasa saja. Namun, jika dicoba masakannya, rasanya luar biasa.

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



1 Komentar :

joe
10 Juli 2012 - 16:21:59 WIB

waahahhh...kuangene....tempat makanku pas jaman kuliah ini...mbok doro piye kabare???
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

 Peringati Hari Bumi, Aktivis Gelindingkan Bola Bumi di Jalan

, 23 April 2014 00:00:00 WIB

Sekretaris KPU Bawa Pisau ke Rapat Pleno