Vertical garden atau taman vertikal merupakan konsep taman pada bidang tegak yang diatur dengan sistem Indogreen dan diharapkan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat.
Meski mempunyai tingkat kesulitan tinggi, namun konsep ini, bisa diterapkan di bangunan dengan bidang tegak, seperti dinding bangunan apartemen, kantor, hotel, maupun perumahan.
“Pada prinsipnya, semua ruang bahkan bidang tegak bisa disulap menjadi taman yang cantik dengan konsep ini,” tutur Decky Rinawan dari Indonesia Green Wall, saat ditemui di stan miliknya di arena pameran flora dan fauna, baru-baru ini.
Oleh karena itu, vertical garden diharapkan dapat menjadi solusi bagi masyarakat di tengah kota yang memiliki lahan terbatas dan mendambakan sebuah taman asri dan sejuk. Vertical garden juga memberikan suasana nyaman dengan bentuk taman yang unik dan dapat didesain sesuai keinginan.
“Taman vertikal cocok diterapkan dalam hunian seiring kampanye mengatasi pemanasan global. Di Jakarta yang semakin sempit lahannya, taman jenis ini sangat tepat karena pengaplikasiannya tidak membutuhkan lahan,” ia menambahkan.
“Cukup di dinding dan berdiri tegak, tetapi mampu menyuplai oksigen dan jadi area hijau di rumah. Tidak hanya itu, dengan lahan yang sempit juga dapat diubah menjadi taman vertikal,” tuturnya.
Tren taman vertikal diperkirakan akan bertahan hingga tiga tahun ke depan. Taman ini bukan hanya diterapkan untuk hunian semata, tetapi juga bisa diterapkan di gedung perkantoran atau tempat publik lainnya.
Uniknya lagi, kata dia, pembuatan taman vertikal ini menggunakan tanah dan tanaman tumbuh dalam lapisan khusus. Hanya diperlukan bidang tegak seperti tembok, dinding bangunan, atau pagar rumah.
“Bahan konstruksinya
menggunakan aluminium, stainless steel, atau baja ringan.
Perawatannya juga sangat mudah karena tidak perlu dipangkas,
pemupukan juga dilakukan bersamaan dengan penyiraman otomatis yang
dikontrol oleh timer,” paparnya.
Saat ini banyak pengusaha
taman yang bergerak di bidang taman vertikal. Namun, Indonesia
Greenwall menawarkan keunggulan dengan konstruksi tipis, tanpa media
tanam, lebih awet, dan tahan lama.
“Nuansa hijau yang diciptakan melalui konsep taman vertikal ini setidaknya cukup mampu memberikan suasana sejuk.
Oleh karena itu, saya berharap pemerintah lebih aktif dalam menggerakkan penghijauan kepada masyarakat di tengah kota yang padat dengan gedung-gedung besar, sehingga pengembalian udara dengan sistem penanaman taman vertikal pun menjadi lebih asri dan sejuk kembali di Jakarta ini,” tuturnya.
Sementara itu, harga pemasangan taman vertikal, menurut Decky Rinawan, ditawarkan mulai Rp 3-4 juta per meter persegi. Harga tersebut sudah termasuk biaya pemasangan infrastruktur taman vertikal dan konstruksi tanahnya. “Jika dibandingkan dengan di Eropa, harga pembuatan taman vertikal di Indonesia jauh lebih murah. Di Eropa harga per meternya mencapai Rp 20 juta,” ujarnya.
Irigasi Otomatis
Menyinggung soal pemasangan taman vertikal, menurut Decky, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan memilih kain geotekstil sebagai wadah tanam. Kain ini dipilih karena tahan lama.
Di mancanegara, kain geotekstil kerap digunakan untuk menutup tanah atau sebagai alas galian yang bersifat permanen. “Penggunaan kain geotekstil ini dipilih karena di samping sedikit menyimpan air, bahan-bahan ini juga tahan lama, setidaknya lima tahun sehingga tidak merusak dinding,” kata dia.
Mengenai perawatan taman vertikal ini, menurut Decky, sebagai sumber nutrisi, interval pemupukan harus dilakukan setidaknya seminggu sekali. Pupuk diberikan bersamaan dengan penyiraman yang dilakukan melalui pipa yang telah dilubangi dan dipasang di bagian atas kerangka baja.
Pipa itu terhubung dengan pompa air dan pengukur waktu otomatis. Pompa diatur untuk mengalirkan air selama 20 detik. Dalam sehari pompa aktif empat kali, dan satu unit pompa dapat dipakai untuk taman dinding hingga berukuran 15 x 7 meter.
BERITA TERKAIT
0 Komentar :
Isi Komentar :






