"Red Lights", Hanya Bagus di Awal
Jessica Rezamonda | Kamis, 12 Juli 2012 - 13:49 WIB
: 442


(dok/ist)
Cortes terjebak dengan cerita yang sangat lambat dan penuh teka-teki.

Banyak pengamat dan kritikus film yang kecewa saat menyaksikan Red Lights, film bergenre thriller terbaru arahan sutradara Spanyol, Rodrigo Cortes.

Pasalnya, film thriller karya Cortes lainnya sebelum ini, Buried, dinilai sangat apik dan cemerlang sehingga mereka mengharapkan hal yang sama ketika menonton Red Lights.

Sayangnya, kali ini Cortes tak berhasil memikat penontonnya. Sejumlah pengamat menyatakan bahwa Red Lights cukup menjanjikan di bagian awalnya, sekitar 30-60 menit pertama film dimulai. Namun selanjutnya, film berdurasi 119 menit tersebut menjadi sangat dangkal dan "gregetnya" terus menurun.

"Jika meminjam istilah dalam baseball, setelah memukul bola dengan bagus dan berhasil tiba di base kedua, langkah Cortes terhalang oleh debu dan ia tertangkap sebelum sampai di base ketiga," tulis Todd MacCarthy dalam laman The Hollywood Reporter, untuk menggambarkan keseluruhan film Red Lights.

Senada dengannya, reporter Horror.com, Staci Layne Wilson memaparkan bahwa setengah bagian akhir film terasa sangat dipaksakan, sehingga cukup menghancurkan sejumlah hal baik yang sudah dibangun di setengah bagian awalnya. Wilson juga mendapati banyak kemiripan antara Red

Lights dengan sejumlah film lain dan acara televisi yang pernah disaksikannya. Bahasa Inggris yang digunakan juga terdengar sangat kaku. Cukup maklum mengingat film ini berasal dari negara di mana bahasa Inggris bukanlah bahasa utamanya.

"Aktingnya pun sangat ganjil, dan aksi dari karakter-karakternya terlalu penuh teka-teki dan lebih sering membingungkan," ungkap Wilson lebih lanjut.

Red Lights berkisah tentang para ilmuan yang berusaha mendalami dunia paranormal. Di bagian awal, tampak Margaret Matheson (Sigourney Weaver) dan asistennya, Tom Buckley (Cillian Murphy), tengah mengeksplorasi sebuah rumah yang diduga berhantu.

Menurut Wilson, gaya kedua ilmuwan itu mengingatkannya pada film Ghost-Buster, sementara Edward Douglas dari ComingSoon.Net teringat pada sebuah adegan di film Poltergeist atau Insidious. "Dan jika keseluruhan film tetap berada di jalur ini maka kemungkinan akan lebih menarik," Douglas menanggapi.

Sementara itu, ketika Matheson dan Buckley masih sibuk menggali fenomena-fenomena alam supranatural yang disebut sebagai "red lights", muncul paranormal buta legendaris, Simon Silver, yang telah pensiun selama 30 tahun.

Matheson memilih untuk mundur karena khawatir akan kekuatan yang dimiliki Silver, namun Buckley justru memilih untuk meneruskan penelitiannya, dibantu salah satu mahasiswinya (Elizabeth Olsen). Dari seluruh aktor dan aktris yang membintangi Red Lights, hanya

akting Weaver yang dianggap sebagian pengamat cukup meyakinkan. "Weaver datang menjadi yang terbaik di sini, diikuti oleh Murphy, paling tidak di setengah bagian awal," tulis MacCarthy.

Lebih lanjut, ia mengamati bahwa peran Olsen tidak terlalu dikembangkan dengan baik, dan sebenarnya bisa saja dimainkan oleh siapa pun—tak perlu aktris sekelas Olsen.

Jika film Buried dihargai dengan skor 86 persen di situs Rotten Tomatoes pada 2010, tidak demikian halnya dengan Red Lights yang baru bisa mengumpulkan skor 44 persen sejak diputar perdana di Festival Film Sundance beberapa bulan lalu.

Paling tidak, Cortes masih bisa berharap ada kritikus yang bisa memberi penilaian lebih baik saat film ini dirilis secara internasional 13 Juli mendatang. (Berbagai Sumber)

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

KPU Papua Baru Terima Rekapitulasi Dua Kabupaten

, 00 0000 00:00:00 WIB