Menengok Diri, Membuka Ruang Dialog
Fransisca Ria S | Kamis, 12 Juli 2012 - 14:02 WIB
: 686


(dok/Shang Bao)
Bumi masih bisa menjadi tempat tinggal yang layak jika ada kebaikan kolektif.

Setiap orang ingin mengubah dunia, tetapi sayangnya mereka selalu lupa untuk mengubah dirinya sendiri. Setiap kali melihat dunia yang karut marut, dengan gampang telunjuk kita menuding siapa saja yang menjadi biang keroknya, tetapi alpa menuding diri sendiri.

Senjakala ekonomi Eropa dan Amerika Serikat membuat kita sadar bahwa ada yang salah dengan cara berpikir kita, masyarakat yang mengaku modern dan menjunjung tinggi rasionalitas. Pertumbuhan ekonomi yang menjadi obsesi masyarakat industri telah memakan anak-anaknya sendiri.

Kompetisi yang menjadi jiwa kapitalisme dan globalisasi ekonomi yang massif ternyata menciptakan jurang tak terjembatani antarmanusia dan mengacaukan harmoni manusia dengan alam lingkungannya.

Padahal, kita hanya memiliki satu bumi. Bumi inilah yang harus kita wariskan kepada anak dan cucu kita. Jika tidak ingin mewariskan sebuah bumi yang porak poranda, harus ada transformasi sistem, dari “sistem ego” ke “sistem yang sederajat”, sebuah sistem yang memperkuat solidaritas.

Kita tidak bisa lagi mengenakan kacamata kuda dalam melihat sebuah persoalan. Solusi untuk persoalan itu sendiri pun tidak bisa dilakukan secara parsial. Kesalingterhubungan dan keterkaitan membuat kita perlu melihat persoalan secara holistik dan mencari solusi yang lebih sinergis. Namun, bukan berarti menyeragamkan, tetapi lebih pada mencari harmoni untuk setiap perbedaan.

Dalam konteks Indonesia, harmoni atau sinergi antarkelompok yang terkesan memiliki kepentingan yang beda, menjadi signifikan jika tidak ingin negeri ini hancur oleh tarik-menarik antarkepentingan. Kita tidak mungkin hidup terus-menerus dalam kecurigaan.

Komunitas masyarakat sipil mencurigai motif para pengusaha dan politikus. Sementara itu, para pengusaha mencurigai politikus dan menganggap komunitas masyarakat sipil sebagai penganggu.

Adalah Otto Scharmer, dosen senior pada studi Organisasi di Masshachuset International Technology (MIT) Sloan School of Management, yang dalam riset delapan tahunnya dengan mewawancarai 150 pemimpin inovatif, menemukan bahwa mereka memiliki sejumlah kesamaan.

Salah satunya adalah keahlian kepemimpinan tradisional yang mereka miliki untuk menyerap dan menghubungkan sejumlah besar informasi yang beragam dan kemudian bereaksi cepat begitu gagasan bagus mulai terbentuk. Namun, di antara tahapan in, metode yang mereka gunakan tidak konvensional.

Para pemimpin itu mempraktikkan apa yang disebut Scharmer sebagai presencing (kehadiran), yakni menciptakan lingkungan mental yang kondusif untuk menemukan ide-ide yang segar dan kreatif. Di sinilah “Teori U” Scharmer lahir. Ini merupakan sebuah teori yang secara garis besar mendorong para pemimpin untuk menciptakan ruang di mana orang dapat berefleksi, berpikir, dan kemudian membuat purawarupa dan mengimplementasikannya.

Pemimpin Indonesia

Yayasan Upaya Indonesia Damai (United in Diversity), sebuah lembaga yang muncul dari Forum Bali 2003, melihat bahwa konsep presencing ini harus dipahami pemimpin maupun calon pemimpin Indonesia untuk membuat negeri ini lebih layak huni.

Inilah yang membuat yayasan tersebut berkolaborasi dengan MIT Sloan School Management dalam membuat program IDEAS (Innovative Dynamics Education and Action for Sustainability). Program ini diharapkan melahirkan para pemimpin dengan kemampuan reflektif, sekaligus mampu berpikir dan bergerak cepat, dengan tetap menaruh penghargaan tertinggi terhadap manusia dan lingkungan, alih-alih perhitungan profit semata.

Jumat (6/7) lalu, bertempat di auditorium Kementerian Perdagangan, angkatan ketiga dari program ini merayakan kelulusannya. Ada 28 orang di dalamnya yang berasal dari berbagai profesi dan latar belakang, mulai dari pelaku usaha, birokrat, pengacara, jurnalis, akademikus, hingga aktivis lembaga swadaya masyarakat.

Mereka menyelesaikan program pendidikan 10 bulan, termasuk di kampus MIT di Boston, Amerika Serikat. Selain Otto, para peserta juga menyerap learning organization dari dosen senior MIT Sloan lainnya, Peter Senge.

Dalam acara kelulusan Jumat lalu, Otto Schramer hadir didampingi Presiden UID yang juga Pemimpin Umum Sinar Harapan Rosihan Arsyad, untuk menyerahkan sertifikat kelulusan kepada peserta. Tampak hadir dalam acara itu Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Presiden Komisaris Sinar Harapan Aristides Katoppo, dan Cherie Sjamsul Nursalim dari UID.

Program ini tak semata ditargetkan mendorong kapasitas kepemimpinan individu, tetapi lebih jauh untuk membangun kesadaran tentang perlunya inisiatif kolektif guna membangun Indonesia yang lebih baik.

Purawarupa yang dikembangkan para peserta, mulai dari program kali bersih di Senayan (Jakarta); konservasi Owa Jawa (Jawa Barat); pemberdayaan nelayan di Serangan (Bali), pemberdayaan masyarakat di Saumlaki, Tanimbar Selatan (Maluku Tenggara Barat); hingga pemberdayaan anak-anak di Merauke (Papua), menunjukkan bahwa sinergi antarkelompok yang selama ini dianggap memiliki kepentingan berbeda, ternyata dimungkinkan. Salah satu syaratnya adalah kemauan untuk mendengar orang lain.

Kolumnis dan presenter Desi Anwar, salah satu peserta program yang lulus Jumat itu, dalam sambutannya mewakili peserta lainnya, mengatakan: “Kita harus melepaskan masa lalu. Kita harus menangguhkan suara penghakiman, suara dari sinisme dan suara ketakutan kita yang membuat kita terjebak dalam identitas lama kita dan membuat kita picik.”

Keberanian untuk menengok diri sendiri dan kesabaran untuk mendengar orang lainlah yang kini diperlukan Indonesia agar tak retak.

 

Sumber : Sinar Harapan

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



    0 Komentar :


    Isi Komentar :
    Nama :
    Jenis Kelamin : L P
    Email :
    Komentar
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Editor Choice

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Panglima TNI Bantah Minta Maaf ke Singapura

    , 17 April 2014 00:00:00 WIB

    Masyarakat Keluhkan 'Soal Jokowi' di UN