Kematian Bayi Melahirkan di NTT 1.272 Kasus
Jumat, 13 Juli 2012 - 09:41 WIB
: 988


(dok/ist)
Terjadi penurunan kasus dari tahun lalu.

KUPANG - Tercatat selama kurun waktu tahun 2011, jumlah kematian bayi melahirkan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 1.272 kasus, mengalami penurunan sebanyak 32 kasus dari tahun 2010 yang berjumlah 1.304 kasus.

"Untuk menekan kasus kematian ibu dan bayi melahirkan di NTT dilakukan revolusi kesehatan ibu dan anak, dimana semua ibu melahirkan dilaksanakan dengan fasilitas kesehatan yang memadai," kata Kepala Dinas Kesehatan NTT, Stefanus Bria Seran di Kupang, Jumat (13/7).

Stefanus Bria menjelaskan jumlah persalinan di NTT sepanjang tahun 2011 sebanyak 96.273 kasus yang terdiri dari persalinan menggunakan fasilitas kesehatan sebanyak 74.762 persalinan dan non fasilitas kesehatan 21.511 persalinan.

Dari jumlah persalinan tersebut, jumlah angka kematian ibu sebanyak 208 kasus. Bila dibandingkan dengan kasus kematian ibu melahirkan tahun 2010 mengalami penurunan yakni dari jumlah persalinan sebanyak 87.798 dengan jumlah kematian ibu melahirkan sebanyak 252 kasus.

Menurut dia secara nasional jumlah kematian ibu di Indonesia masih tinggi, dimana setiap 100.000 kelahiran hidup, terdapat 228 kasus ibu meninggal.

"Jumlah tersebut masih jauh diatas target Indonesia di tahun 2015 yang mematok target setiap 102 kasus dari 100.000 kelahiran hidup," kata Stef Bria yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Timur ini.

Masih tingginya angka kematian ibu melahirkan, kata dia disebabkan oleh karena terlambat mendapat pelayanan persalinan dan kurangnya kesadaran masyarakat memilih kelahiran aman melalui fasilitas kesehatan yang memadai.Selain itu, tidak adanya konsistensi dalam hal kualitas pelayanan di setiap tingkatan.

Karena itu menurut Stef Bria perempuan perlu diberdayakan untuk memperoleh akses yang mudah dan terjangkau dalam pelayanan keluarga berencana (KB) yang aman dan efektif.

"Hal itu akan membantu mengatur dan merencanakan kehidupan reproduksi ibu sendiri.Masalah tersebut penting mengingat populasi usia reproduksi di Indonesia kelompok umur 15-29 tahun berjumlah 126 juta jiwa. Angka itu menunjukkan masih tingginya angka usia reproduksi di Indonesia," katanya.

Dalam konteks pembangunan kesehatan reproduksi di NTT, kata dia merupakan salah satu provinsi dari 33 provinsi di Indonesia dengan angka kematian ibu tertinggi yakni sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.

"Angka itu masih jauh diatas angka nasional yakni sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup. Karena itu seluruh komponen masyarakat perlu mendukung program revolusi kesehatan ibu dan anak (KIA) yang diluncurkan Pemerintah Provinsi NTT sejak tahun 2009 silam," tegasnya.

Revolusi KIA yang dijalankan oleh Pemerintah Provinsi NTT, kata dia akan diadopsi menjadi program nasional untuk diterapkan di sejumlah daerah yang memiliki kesamaan kultur dan topografi dengan NTT.
Sumber : Ant

@ SHNEWS.CO :


BERITA TERKAIT



0 Komentar :


Isi Komentar :
Nama :
Jenis Kelamin : L P
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Editor Choice

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sabun Berbahan ASI Laris di Tiongkok

, 24 April 2014 00:00:00 WIB

Sharon Stone Dilaporkan Stroke